Atmosfir

MEMERANGI KORUPSI

Memerangi Korupsi

Banyak orang berpandangan, korupsi sudah menjadi penyakit bangsa kita. Khususnya, tentu saja, penyakit yang mengidap para pemimpin dan elit bangsa ini.

Akan tetapi, menurut saya, korupsi bukan sekadar penyakit biasa, melainkan (penyakit) kejahatan kemanusiaan berstadium tinggi. Korupsi mematikan rongga-rongga dan seluruh sendi kehidupan bangsa ini. Negara terancam di tepi jurang negara gagal.

Secara simplistis, korupsi berarti perbuatan mencuri. Mencuri uang rakyat atau uang negara. Tujuannya bukan sekedar menyambung atau mempertahankan hidup, melainkan memuaskan hawa nafsu. Yaitu menimbun harta agar dapat hidup bermewah-mewah serta melalui harta korupsi berusaha mendapatkan kekuasaan dan kehormatan dalam kedudukan social politik.

Sekalipun perbuatan menimbun harta, hidup bermewah-mewah serta mendapatkan kekuasaan dan kehormatan ditempuh dan diperoleh dengan cara halal dan kerja keras, itupun secara moral etika spiritual dan adab tidak dibenarkan, karena menjerumuskan manusia pada kesombongan dan perbuatan melampaui batas. Apalagi bila hal demikian diperoleh dengan cara mencuri, yakni mencuri harta negara atau harta rakyat yang sesungguhnya diperuntukkan sebagai biaya melepaskan rakyat dari kemiskinan, kebodohan dan keterbelakangan. Dengan dicurinya harta itu, maka rakyat miskin, menjadi makin miskin, makin bodoh dan semakin terbelakang.  Jika di zaman penjajahan pemerintahan Hindia Belanda harta rakyat dirampas secara paksa di bawah ancaman fisik dan kekerasan, maka di zaman kemerdekaan ini harta rakyat dicuri dan dikuras tanpa rakyat sendiri menyadari, bahkan di bawah senyum sang pencuri, yang di hadapan rakyat berorasi menjadi pemimpin rakyat yang sejati dan berjuang memerangi kemiskinan rakyat.

Pengalaman menunjukkan, memerangi korupsi dengan hanya mengandalkan hukum saja, tidak akan menjadikan korupsi menjadikan berkurang apalagi hapus. Karena hukum hanya memerangi korupsi dari luar secara soft (sopan). Apalagi moral aparat penegak hukum kita sejak lama dapat dinegosiasikan dan dikompromikan oleh para koruptor. Maka, aparat penegak hukum itu pun telah menjadi koruptor pula.

Memerangi  korupsi, menurut saya harus dilakukan baik dari luar maupun dari dalam. Dari luar, tidak boleh lagi soft, tapi memberikan ancaman hukuman minimal seberat-beratnya hingga hukuman mati. Dari dalam, yakni membangkitkan rasa takut untuk melakukan perbuatan korupsi. Dan, ini terutama menjadi tugas kaum ulama. Rasa takut ini ialah atas hukuman yang diberikan oleh Tuhan, baik hukuman setelah mati maupun hukuman selama hidup di dunia, baik derita fisik maupun derita batin (rohani).

Paradigma penanaman rasa takut itu harus dipersepsikan dan disosialisasikan sebagai berikut:

Bahwa di dalam korupsi terdapat tiga unsur atau elemen. Pertama, manusianya yang melakukan perbuatan korupsi sebagai subyek yang disebut sebagai pelaku atau koruptor. Kedua, perbuatan korupsinya itu sendiri sebagai  kata / keterangan kerja (di dalam hukum disebut delik atau perbuatan kejahatan). Ketiga, harta hasil korupsi atau disebut sebagai obyek.

Oleh karena harta hasil korupsi (sebagai obyek) merupakan hasil dari kejahatan, maka harta itu adalah harta haram yang sama derajatnya dengan kotoran yang amat kotor (najis) atau bahkan tinja. Bila harta itu digunakan untuk memberi makan anak isteri, maka sama saja mencekoki anak isteri dengan kotoran yang amat kotor. Bila harta itu digunakan untuk menyantuni yatim piatu, maka sama saja memberikan yatim piatu itu dengan kotoran yang amat kotor. Maka akan bertambahlah dosanya si penyantun. Bila harta itu digunakan untuk membangun atau menyumbang rumah ibadah, maka sama saja menodai atau melumuri rumah ibadah itu dengan kotoran yang amat kotor. Maka akan bertambahlah dosanya bagi si penyantun. Bila harta itu digunakan untuk pergi ke tanah suci, maka sama saja menodai atau mengotori tanah suci itu dengan kedua belah kakinya yang penuh dengan kotoran yang amat kotor. Jadi alih-alih berbuat kebajikan untuk menghapus atau mengurangi dosa korupsinya, malah yang terjadi justru dosanya menjadi bertambah-tambah pula. Maka, wahai, takutlah berbuat korupsi. (Sanusi Arsyad)

Tinggalkan sebuah Komentar »

Belum ada komentar.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: