Atmosfir

ATMOSFIR

Teman Sejati

Ada saatnya masa berkumpul, ada saatnya masa berpisah. Berkumpul dan berpisah adalah sebuah keniscayaan.

Ketika kita berkumpul, kita tergelak bersama, bersenda gurau bersama, tapi juga tak jarang kita saling tak bertegur sapa. Kita hidup dalam romantika dunia.

Ketika tiba saatnya masa berpisah, kita menempuh jalan masing-masing, jalan sendiri-sendiri. Memenuhi panggilan Ilahi. Tiada orangtua, isteri, suami, anak-anak, kerabat handai tolan dan siapa saja yang kita cintai, yang menemani kita. Tiada pula kekayaan, emas permata, rumah mewah, mobil kemilau, tanda jasa dan harta benda apapun yang kita puja-puja dan banggakan, yang bisa kita bawa walau sedikitpun. Kita berjalan sendiri, dengan bertelanjang diri, sepi, sunyi.

Tapi ada sesosok yang menemani, yang mendampingi kita, yang mengajak kita bersenda gurau selama perjalanan. Dia yang senantiasa menghibur kita. Dia yang tutur katanya senantiasa menyenangkan hati kita. Dia yang tutur katanya menghalaukan kita dari rasa takut dan cemas. Dia yang memandu kita menuju jalan kebahagiaan. Dia yang selalu menemani, menghibur dan mendampingi kita selama di alam kubur hingga hari pengadilan. Siapakah dia itu?

Dia itu adalah buah amal ibadah kita, buah perbuatan baik kita selama kita hidup di dunia ujian, di dunia cobaan.

Kita menyadari, bahwa sesungguhnya kita berasal dari dunia ghaib, diturunkan oleh Yang Maha Pencipta ke dunia cobaan, dunia ujian, lalu tiba masanya kita dikembalikan ke dunia ghaib, untuk selanjutnya kita dinilai, lulus tidaknya kita di dalam cobaan dan ujian itu. .

Wahai saudaraku, siapa saja yang membaca tulisanku ini, mari hiasi hari-hari kehidupan kita dengan perbuatan baik, dengan amal ibadah serta kesalehan. Jangan kotori diri kita dengan perbuatan buruk dan jahat. Jangan cemari hati kalbu kita dengan rencana keji. Jangan genangi akal dan pikiran kita dengan cairan maksiat, mesum dan kotor. Jangan cemplungkan badan kita dalam kubangan harta kekayaan haram, hasil korupsi, tipu daya dan pembohongan. Jangan jerumuskan nafsu kita pada nafsu syahwat iblis hewani yang bejat dan terkutuk. Juga jangan hanyutkan diri kita pada kemewahan, kemilauan dan kesombongan dunia. Jangan warnai tutur bahasa lidah kita dengan kata-kata keji dan menyakitkan hati. Mari kita cari sebanyak-banyaknya teman yang akan mendampingi, menemani dan menghibur kita di alam kubur dan hari pengadilan nanti. Salam.  (Sanusi Arsyad)

Tinggalkan sebuah Komentar »

Belum ada komentar.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: