Atmosfir

April 11, 2016

Balada Negeri Amarta

Filed under: Budaya,Uncategorized — arsyad1952 @ 11:58 pm
Balada Negeri Amarta
Ini cerita fiksi dari dunia pewayangan dengan lakon : “Kerajaaan OKKAI (Otoritas Kesatuan Kerajaan Amarta Indah) Terancam Negara Gagal”.
Alkisah, Kerajaan Amarta yang dikuasai oleh Pandawa Lima, gempar. Raja Amarta yang bernama Yudistira, menghilang begitu saja tak tentu rimbanya. Ia hilang bagai ditelan bumi. Adik-adik Yudistira, yang juga para petinggi kerajaan, Bima, Arjuna, Nakula dan Sadewa risau dan gundah campur heran mengapa raja meninggalkan tahta kraton tanpa titip pesan dan berita lebih dulu. Mereka tak dapat membayangkan bagaimana keadaan kerajaan tanpa kehadiran raja. Dalam pikiran mereka masing-masing timbul kegalauan, siapa yang akan mengendalikan jalannya pemerintahan, sementara Bima, Arjuna, Nakula dan Sadewa sama sekali tak memiliki pemahaman, pengalaman dan pengetahuan dalam hal mengendalikan jalannya kekuasaan di wilayah yang terdiri belasan ribu pulau besar dan kecil.

Menteri-menteri, para hulubalang, hakim dan pegawai kerajaan lainnya juga tidak tahu apa yang harus dikerjakan, karena tidak ada perintah dari raja. Hendak mengambil inisiatif sendiri, tidak berani, lantaran takut salah. Maklum mereka biasa menerima “order matang” dari raja dalam menjalankan tugas sehari-hari. Prabu Yudistira selama ini memang dikenal layaknya “Ratu Adil”, hampir tidak pernah keliru dalam mengambil keputusan. Raja juga sangat pandai menjaga temperamen emosinya. Jika raja senang dan berkenan pada laporan menterinya, raja cukup manggut-manggut kepala. Sebaliknya jika raja tidak senang, ia cukup diam saja tanpa bilang “bak” atau “buk”. Tapi jika marah, ia mendehem berulangkali seolah tenggorokannya tersumbat.

Anehnya lagi, penasehat spiritual kerajaan paling jempolan, bernama Gus Semar, juga turut menghilang. Rumahnya didapati dalam keadaan kosong melompong. Kabar selentingan menyebut Gus Semar tengah berobat ke negeri Yei Louw (= kuning) akibat tidak bisa kenthut.

Kevakuman kekuasaan di Amarta semakin parah menyusul menghilangnya pula empat bersaudara Pandawa lainnya yang masing-masing mengambil jalan sendiri-sendiri guna mencari di mana sang raja berada. Arjuna bertapa di hutan alas roban guna mendapatkan bisikan dari Dewata apa sesungguhnya yang terjadi pada diri sang raja. Bima menyelami dasar samudera menemui Dewa Ruci minta petunjuk di mana sang kakak berada. Sedang Nakula dan Sadewa saling berbagi tugas sebagai telik sandi (intel) menyatroni negeri-negeri tetangga, terutama yang bermusuhan, guna menyelidiki jangan-jangan Yudistira jadi korban penculikan. Namun sampai sekian lama, usaha mereka belum membuahkan hasil.

Dalam waktu bersamaan singgasana Kerajaan Langit yang didiami para Dewa dan Dewi, goncang. Hawa panas melanda para penghuninya. Makin lama derajat hawa panasnya makin tinggi. Dan ini membuat seisi penghuni Kerajaan Langit blingsatan. Lalu diutuslah Narada, seorang dewa kepala kurir yang biasa bernegosiasi dengan manusia, guna mencari tahu penyebab hawa panas yang melanda kahyangan.

Yang pertama dikunjungi Narada adalah Yudistira. Seorang raja yang di mata Narada, memiliki naluri waspodo. Namun sesampai di Amarta, Narada harus kecewa karena Yudistira tidak dijumpai. Rasa herannya berubah menjadi curiga manakala tak satu pun dari Pandawa yang dijumpainya. Kraton Amarta bagaikan kraton hantu. Kepada setiap wong cilik yang ditanyai Narada, jawabannya hanya gelengan kepala. Mereka membisu. Pikiran Narada cepat mengambil asumsi, berarti Amarta sedang dalam keadaan chaos. Untuk itu Narada ingin menyelidik lebih jauh adakah peristiwa anarchis yang berkembang di dalam masyarakat menyusul terjadinya kondisi chaos.

Surprise bagi Narada, yang dijumpai bukanlah peristiwa demi peristiwa anarchis, malahan sebaliknya rakyat Amarta tengah mempersiapkan pesta demokrasi yang namanya pemilu guna memilih pemimpinnya untuk didudukkan di kursi kraton, menggantikan Yudistira yang mulai dicurigai tidak bertanggungjawab.

Narada terkesima. Tapi satu yang membuat ia tidak cepat beranjak dari kerumunan massa ialah perdebatan di kalangan akar rumput tentang boleh tidaknya seorang yang fisiknya cacat menjadi Cabagrut (Calon Baginda Ratu). Yang kontra berargumentasi, seorang raja harus sempurna rohani dan raganya. Sedang yang pro bersikukuh kesempurnaan rohani tidak mengenal cacat dan tidak cacatnya jasmani. Hingga Narada meninggalkan tempat arena, perdebatan masalah itu masih terus berlangsung.

Segala apa yang dilihat dan disaksikan dengan mata kepala sendiri, oleh Narada dilaporkan apa adanya kepada bossnya, Dewa Guru. Termasuk yang akan dilakukan oleh rakyat Amarta untuk menggelar Pilbagrut.

Narada  berbalik kaget ketika Dewa Guru menginformasikan berita terakhir bahwa perdebatan tentang boleh tidaknya seorang cacat menjadi calon raja telah berkembang menjadi kerusuhan tindak anarkis di kalangan masing-masing pendukungnya. Negeri Amarta yang semula berbentuk OKKAI (Otoritas Kesatuan Kerajaan Amarta Indah) terancam mengalami disintegrasi sehingga terancam bubar. Narada mengelus dada sambil mengeluarkan sumpah serapah, “Inilah konsekuensi demokrasi yang kalian jadikan sebagai sebuah pesta maksiat”.

Teka-teki nasib negeri Amarta yang terkenal gemah ripa loh jinawi, hilangnya Yudistira dan penyebab goncangnya Kerajaan Langit terus diliputi misteri. Konon berdasarkan wangsit yang diterima Dewa Guru, tabir akan terkuak seiring terbitnya fajar menggantikan jatuhnya purnama di atas gunung Sumbing tanggal pithulas, atau bertepatan 5 Juli 2004, bertepatan 45 tahun Dekrit Adipati Karno kembalinya konstitusi di Kadipaten Awangga, sebuah negara bagian di Amarta.- (Sanusi Arsyad)

(Dari arsip: Sanusi Arsyad, Jakarta, medio Mei 2004)

 

Tinggalkan sebuah Komentar »

Belum ada komentar.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: