Atmosfir

Juli 25, 2015

BUKU : SYEKH K.H. KASYFUL ANWAR, SOSOK ULAMA BESAR BANJAR YANG MODERAT & HUMANIS

Filed under: Profil,Uncategorized — arsyad1952 @ 1:19 am

 

SYEKH K.H. KASYFUL ANWAR

 

ULAMA BESAR BANJAR

YANG

MODERAT & HUMANIS

 

Oleh :

SANUSI ARSYAD

 

PENGANTAR

Tulisan yang mengenai riwayat, sejarah dan perjuangan akan orang-orang besar di berbagai bidang dan lapangan di tanah air kita, hingga kini masih sangat sedikit. Padahal, sangat banyak para pahlawan dan mereka yang pernah berjasa kepada bangsa dan negaranya, selalu hidup dalam kenangan dan ingatan sanubari anak negeri. Mereka menjadi tokoh panutan dan idola yang menjadi sumber inspirasi akan nilai-nilai dan arti kehidupan bagi generasi-generasi kemudian. Namun karena masih terlalu sedikitnya biografi yang dituliskan, menyebabkan gambaran yang seutuhnya mengenai ketokohan pahlawan menjadi tidak terwariskan.

Dari sekian banyak orang besar yang pernah hidup di tanah Banjar, Kalimantan Selatan, khususnya di lapangan penyebaran agama Islam, adalah Syekh Kiyai Haji Muhammad Kasyful Anwar. Ketokohannya, selepas beliau meninggal di tahun 1940 M, terus dikenang orang. Hingga setiap peringatan haul yang diadakan setiap tahunnya, selalu dibanjiri oleh banyak orang. Keternamaan ulama ini nyaris menyamai kepopuleran seorang ulama besar Banjar lainnya, yakni Syekh Kiyai Haji Muhammad Arsyad al Banjari, yang hidup di hampir dua abad sebelumnya, dan yang kebetulan keduanya sama-sama berasal dan dilahirkan di Martapura, Banjarmasin.

Riwayat Syekh Kasyful Anwar, baik yang mengenai perjuangannya, pergerakannya maupun ide-ide pemikirannya, hingga kini belum banyak ditulis dan ditelaah orang. Tapi hal ini dapat dimengerti mengingat zaman Syekh Kasyful Anwar termasuk era penelaahan sejarah kontemporer.

Buku yang kini berada di tangan pembaca, bukanlah hasil dari penelitian atau penelusuran seksama mengenai riwayat dan perjuangan sang ulama, melainkan tidak lebih hasil rangkuman atau susunan dan penelaahan kembali dari beberapa kitab dan tulisan lepas mengenai riwayat Syekh Kasyful Anwar. Namun dengan diterbitkannya buku ini, selain diharapkan dapat memberikan gambaran yang lebih terkumpul, juga mendorong para penulis yang berkompeten untuk meneliti, terlebih yang mengenai ide-ide pemikiran original Syekh Kasyful Anwar, khususnya tentu saja di lapangan pemikiran agama Islam. dan menerbitkannya menjadi buku.

Demikianlah sekadar sekapur sirih dari penulis, dan penulis minta maaf bila terdapat hal-hal yang lancang, berlebihan, kurang pas atau tidak akurat di dalam penulisan buku ini.

 

Tangerang,  Oktober 2010

 

P e n u l i s

 

Tentang Penulis

Sanusi Arsyad, lahir di Sawah Besar, Jakarta tahun 1953, dari pasangan H. Muhammad Arsyad bin KH Muhammad Kasyful Anwar (alm) dengan Hj. Nur’Ainun binti Abdul ‘Doel Teng Thay’ Gani (alm). Penulis putra keempat dari empat bersaudara kandung.

Menempuh pendidikannya dari SD hingga SMA dan Universitas Indonesia di Jakarta. Semasa sekolah sudah rajin menulis di media-media massa umum. Kemudian terjun di dunia jurnalistik dengan menjadi wartawan dan redaktur. Pernah menjadi pegawai negeri sipil (PNS), aktif di sejumlah LSM dan editor sejumlah buku biografi. Kini ia bekerja freelance di sebuah kantor pengacara di Jakarta sebagai konsultan hukum.

Kendati ayahnya orang Banjar, tapi ia tak pernah pulang kampung ke tanah leluhur dan kelahiran ayahnya di Kampung Melayu Ilir, Martapura, Banjarmasin, Kalsel. Karena berasal dari keturunan “gado-gado” dan tak pernah ke Banjar, nyaris ia tak merasa ada keturunan orang Banjar. Apalagi bahasa Banjar ia tak mengerti.

Barulah di acara Haul Hadarathus Syeh Kasyful Anwar yang ke-72 tahun 2010, “dalam usia sudah tua”, kata seorang anaknya, ia pertama kali mengunjungi Martapura dan menghadiri jalannya acara haul dari dekat.  Selama 6 hari di Martapura itu, ia menginap di tempat kediaman Guru HM Munawwar, pimpinan Majelis Taklim Musshalla Raudathul Anwar.

Penulis menikah tahun 1981 dengan seorang perempuan asal Kebumen, Jawa Tengah, dan dikaruniai dua puteri dan satu putera.-

 

DAFTAR ISI

 

 

PENGANTAR

BAB I        LATAR BELAKANG KELUARGA DAN PENDIDIKAN

BAB II       MEMPEROLEH SEBUTAN “TUAN GURU”

BAB III      SYEKH KH KASYFUL ANWAR DAN PONDOK PESANTREN  DARUSSALAM

BAB IV       SYEKH KH KASYFUL ANWAR SEBAGAI PENSYIAR AGAMA, PENDIDIK, PEMBAHARU DAN PENULIS KITAB

BAB V        KEPRIBADIAN YANG KUKUH, HUMANIS DAN RENDAH HATI

P E N U T U P

BAHAN BACAAN

TENTANG PENULIS

 

 


BAB I

LATAR BELAKANG KELUARGA DAN PENDIDIKAN

 

Di dalam sejarah perkembangan Islam di tanah air, khususnya di Banjarmasin, Kalimantan Selatan, nama Kota Martapura dikenal orang banyak melahirkan ulama besar. Nama seperti Syekh Muhammad Arsyad al Banjari yang dilahirkan di Desa Lok Gabang, Martapura dan hidup tahun 1710-1812 M, tidak hanya dihormati oleh kaumnya di tanah Banjar, tapi juga namanya harum hingga ke seluruh pelosok pulau Kalimantan, bahkan tanah air. Hal ini menyebabkan Martapura tak dapat dilepaskan dari sejarah perkembangan dan kehidupan agama Islam di tanah air, khususnya di Kalimantan

Selepas era Syekh Muhammad Arsyad al Banjari, dari sekian ulama dan pemuka agama yang lahir kemudian di tanah Banjar, maka nama Syekh H. Muhammad Kasyful Anwar merupakan salah satu di antaranya yang tak asing di hati masyarakat muslim Banjar. Selain ulama ini berpengetahuan agama luas, karena tidak kurang 20 tahun lamanya berguru di tanah suci Mekah, ia juga dikenal sebagai ulama yang gandrung pada kemajuan, cinta pada dunia pendidikan serta berjuang tanpa kenal lelah dan pamrih guna kemaslahatan syiar Islam dan kaumnya. Tuan Guru Kasyful Anwar dicintai oleh segenap lapisan muslim karena sikapnya yang humanis dan rendah hati semasa hidup.

Makamnya yang terletak di Kampung Melayu Ilir, Martapura, agak jauh dari Kota Martapura, hingga kini tak henti diziarahi orang sebagai rasa hormat dan kecintaan atas jasa ulama besar Banjar ini.

 

Asal-usul 

 

Syekh Muhammad Kasyful Anwar dilahirkan pada hari Senin tanggal  4 Rajab 1304 H bertepatan 29 Maret 1887 M, kira-kira pukul 22.00, di Kampung Melayu, Martapura, Banjarmasin, Kalimantan Selatan. Kampung Melayu terletak di tepian Sungai Martapura yang pada waktu itu memiliki tepian sangat lebar dengan airnya yang sangat deras dan tak pernah kering sepanjang zaman.

Ayah Kasyful Anwar bernama H. Ismail bin H Muhammad Arsyad bin H Muhammad Sholeh bin Badruddin bin Kamaluddin. Ibunya bernama Hj Siti Maryam binti H Abdurrahim bin Abu Saud bin Badruddin bin Kamaluddin. Sedang neneknya bernama Hj Siti Aisyah.

Ayah dan ibunda M. Kasyful Anwar kawin bersaudara sepupu, karena pada waktu itu sudah menjadi adat tradisi yang turun temurun, bahwa orangtualah yang mencarikan pilihan untuk pasangan hidup anak lelakinya dengan seorang perempuan yang masih ada hubungan ikatan keluarga.

Muhammad Kasyful Anwar yang hidup di tengah-tengah keluarga santri dan taat beragama, sejak kecil sudah mendapatkan pendidikan, khususnya pendidikan agama Islam, dari kedua orangtuanya dan kakek neneknya sendiri dengan belajar Al Qur’an di rumah.  Kasyful Anwar tidak belajar di bangku sekolah karena pada waktu itu sekolah atau madrasah di Kampung Melayu Martapura belum ada. Karena itu pendidikan bagi anak diberikan dari lingkungan keluarga.

Beranjak besar sedikit, setelah pandai membaca Al Quran, oleh orangtuanya, ia dikirimkan belajar ilmu tajwid, nahwu, shoraf dan fiqh pada guru-guru terkemuka yang ada di Martapura, yaitu Al Allamah H Ismail bin H Ibrahim dan Al Allamah Syeikh Abdullah Khotib bin Al Alim HM Sholeh bin Halifah Hasanuddin bin Maulana Asy Syekh Al Alim Al Allamah Muhammad Arsyad Al Banjari. Di sini Kasyful Anwar memperlihatkan otaknya yang cerdas dan perhatiannya yang tinggi terhadap ilmu agama.

 

Usia 9 tahun belajar ke Mekah

 

Melihat kecerdasan Kasyful Anwar yang amat istimewa dalam menyerap ilmu pengetahuan agama, kakek dan neneknya yang amat menyayangi cucunya itu, tergugah hati untuk membawa anaknya langsung belajar ilmu agama di Mekah Al Mukaromah. Atas kesepakatan kakek, nenek dan kedua orangtua Kasyful Anwar, maka pada tahun 1313 H berangkatlah seluruh keluarga yang harmonis itu ke tanah suci Mekah.  Pada waktu itu usia Kasyful Anwar masih 9 tahun. Masih kanak-kanak betul.

Sesampai di Mekah, terlihat Kasyful Anwar sangat antusias dan rajin menuntut ilmu. Selain belajar dengan ayahnya dalam penguasaan bahasa Arab, ia juga berguru pada Al Allamah Haji Amin, orang asal Pasayangan, Martapura yang telah lama bermukim di Mekah Al Mukaromah. Selain itu, Kasyful Anwar juga rajin mengikuti pelbagai kegiatan pengajian majelis taklim di Masjidil Haram, Mekah.

 

Usia 13 tahun yatim piatu

 

Di tengah-tengah kehidupan keluarga yang tentram dan bahagia, dan suasana menuntut ilmu yang amat kondusif dirasakan oleh Kasyful Anwar yang sudah berjalan dua tahun, tiba-tiba saja cobaan pertama dialami Kasyful Anwar. Ayahnya, H. Ismail meninggal dunia berpulang kerahmatullah pada hari Senin menjelang subuh bulan Zulhijjah 1315 H. Jenazah dimakamkan di Mualla, Mekah.

Tentu betapa sedihnya hati Kasyful Anwar ditinggalkan seorang ayah yang amat dicintainya dan yang telah membimbing dan memperkenalkannya pada khasanah dunia ilmu pengetahuan agama yang amat luas dan amat berharga. Namun musibah ini diterimanya dengan penuh keimanan, sabar serta tawakal kepada Allah SWT. Kegiatannya menuntut ilmu tidak menjadikan kendur, malah sebaliknya semakin giat dengan selalu mengingat keinginan ayahnya agar ia menjadi orang yang berilmu. Selepas itu, seakan hampir tak ada waktu luang sedikitpun yang dilewatkan Kasyful Anwar selain menuntut ilmu.

Dua tahun kemudian, ketika usianya menginjak 13 tahun, kali ini cobaan kedua datang. Ibunda Kasyful Anwar, Hj Siti Maryam, menyusul suaminya tutup usia menghadap Al Khalik pada Sabtu malam lepas sholat Isya pada tanggal 18 Jumadil Awal tahun 1317 H, dan dimakamkan di Mualla, Mekah. Tinggallah kini Kasyful Anwar yang yatim piatu yang hanya didampingi oleh kakek neneknya di tanah suci Mekah Al Mukaromah.

Beberapa tahun kemudian, setelah melihat sang cucu sudah beranjak dewasa, menjadi pemuda yang berakhlakul kharimah, berilmu tinggi dan tegar dalam menjalani kehidupannya, maka kakek dan nenek Kasyful Anwar tak ragu lagi untuk memutuskan kembali ke tanah air, meninggalkan sang cucu yang terus melanjutkan pendidikannya menuntut ilmu di tanah suci Mekah. Maka sang kakek nenekpun pulanglah dengan langkah ringan bersama-sama jamaah haji asal Kampung Melayu, Martapura.

Tinggallah Kasyful Anwar melanjutkan pendidikannya di Mekah Al Mukaromah hingga 17 tahun lamanya. Dan selama di Mekah, Kasyful Anwar banyak menimba ilmu pada ulama-ulama besar di sana, antara lain :

  1. Al Alim Al Allamah Syekh Umar Hamdan al Mahrusi.
  2. Al Alim Al Allamah Syekh Muhammad Amin bin Qadhi.
  3. Al Alim Al Allamah Syekh Muhammad Umar Bajunayd Mufti al Syafi’iyyah.
  4. Al Alim Al Allamah Syekh Muhammad Yahya Al Yamani.
  5. Al Alim Al Allamah Syekh Muhammad Ahyath.
  6. Al Alim Al Allamah Syekh Muhammad Shalih ibn Muhammad Bafadhal.
  7. Al Alim Al Allamah Syekh Muhammad ‘Ali ibn Husayn al Maliki
  8. Al Alim Al Allamah Syekh Said bin Muhammad Al Yamani

(Beliau ini pernah berkunjung ke Kampung Melayu, Martapura)

  1. Al Alim Al Allamah Syekh Syayed Ahmad bin Al Allamah Syayed Abubakar bin Al Allamah Al Arif Syayed Muhammad Syahto

(Beliau ini adalah keponakan dari pengarang kitab I’Anatotholibin yang amat terkenal, yaitu Al Allamah Syekh Syayed Bakeri bin Al Allamah Arifbillah Muhammad Syahto, dari kota Dimyat, Mesir. Kitab ini merupakan pengembangan secara luas dari Kitab Fathul Muin yang disyarahkan dari kitab Qurratul ‘Ain. Ketiga kitab besar ini termasuk dalam pustaka KH Kasyful Anwar).

 

Sedang kitab-kitab besar yang dipelajari KH Kasyful Anwar, antara lain meliputi :

 

  1. Ilmu Tafsir (Tafsir al Jamali, al Khojin, al Madaniyah Futuhat serta ushulnya).
  2. Hadist (Kutubussitthah dengan syarahnya Al La’aly, Al Mashnu’ah Fil Ahadistil Maudu’ah)
  3. Ilmu Fiqih (Al Bidyan wan Nihayah oleh Ibnu Rusydi, Tuhfatut Thullab, Tuhfatul Muhta, Mahally Qaiyubi, Zarqiy syarah Jam’ul Jawami).
  4. Ilmu Bahasa (Uqudul Jamani, Fil Ilmil Ma’ani wal Bayaani / ilmul ‘arobiyyah).

 

Setiap cabang ilmu yang dipelajari, selalu ditelusurinya dengan ‘sanad terutama dalam bidang fiqih. Dalam bidang hadist beliau telah mempelajari secara langsung kitab hadist sampai 40 masalsit karangan Syekh Mukhtar Atorid dan Syekh Ahyat, berikut prakteknya, baik pemakaian sorban, ubasul horkatus, sawfiyah, zikir, musafaha, musabaqoh, munawalatus sabaha, dan lain-lain yang terkandung dalam kitab tersebut. Dan beliau mengambil ijazah allailil khoirot dan durdatul madihul mubaroqoh dari Syekh Muhammad Yahya Abu Liman dan Syekh Addala allailil khoirot dengan sanding muttasil yang disusun oleh kedua ulama besar itu.

Di perpustakaan beliau terdapat pula kitab Rub’ul Mujayyah, yakni sebuah kitab pengetahuan mengukur benda angkasa, dan KH Kasyful Anwar dikenal juga sebagai ahli falaq.

Adapun murid beliau sangat banyak, di antaranya anak beliau sendiri H Muhammad Arsyad, Syekh Anang Sya’rani Arif, Syekh Muhammad Syarwani Abdan, Syekh Ahmad Marzuki, Syekh Muhammad Saman bin Abdul Qadir, Syekh Abdul Qadir Hasan, Syekh Muhammad Salim Ma’ruf, Syekh Husen bin Ali, Syekh Salman Yusuf, Syekh Muhammad Saman Mulia, dan lainnya.

Setelah 17 tahun menuntut ilmu di tanah suci Mekah, maka pada bulan Rabiul Awal 1330 H, KH Kasyful Anwar, dalam usia 26 tahun, pulang ke tanah air.

Tak lama sekembali dari Mekah, yaitu pada bulan Syawal 1330 H, ia menikah dengan Siti Halimah binti H.Ja’far. Perkawinan pasangan ini tidak didahului dengan perkenalan sebelumnya, melainkan atas kehendak dan kesepakatan kedua belah pihak keluarga, karena cara demikian sudah lazim pada masa itu. Dari perkawinan itu, pasangan yang berbahagia ini dikarunia Allah 4 putra dan 2 puteri, yaitu Muhammad Abdul Murod, Muhammad Arsyad, Siti Maryam, Mardiah, Muhammad dan Ahmad Sholeh.

Adapun Muhammad Abdul Murod, Mardiah, Muhammad dan Ahmad Sholeh, meninggal di waktu kecil. Anak pertama beliau, Muhammad Abdul Murod, meninggal dunia di Jeddah, Arab Saudi, sewaktu dibawa beliau naik haji pada tahun 1342 H. Dari H. Muhammad Arsyad dan Hj. Siti Maryam inilah yang kemudian melahirkan zuriyat keturunan.

 

Mengajar di Masjid El Haram

 

Pada tahun 1350 H / 1930 M, beliau kembali berangkat ke Mekah bersama isteri dan dua anak beliau. Beliau juga turut membawa dua keponakannya yaitu Anang Sya’rani Arif dan Syarwani Abdan. Keberangkatan beliau kali ini, selain memperdalam beberapa ilmu pengetahuan agama, mendidik dan membimbing kedua anak serta kedua keponakannya itu, juga dalam rangka mendapatkan kehormatan mengajar di Masjidil Haram, Mekah. Kiranya sangat langka bagi orang Banjar, dan juga mungkin bagi orang Indonesia yang mendapatkan kesempatan mengajar di Masjidil Haram kala itu.

Tak pelak lagi, Kasyful Anwar termasuk salah seorang di antara intelektual Banjar yang menorehkan sejarahnya di Mekkah, pusat keilmuan Islam di masa itu.

Tiga tahun lamanya beliau belajar dan mengajar di Mekah, dan baru kembali ke tanah air pada tanggal 17 Safar 1353 H. Adapun kedua keponakannya, Anang Sya’rani dan Syarwani Abdan, tetap terus melanjutkan pendidikannya di Mekah.

 

BAB II

MEMPEROLEH SEBUTAN “TUAN GURU”

 

Sekembalinya KH Kasyful Anwar di tanah kelahirannya, Martapura, dari Mekah Al Mukaromah pada bulan Rabiul Awal 1330 H, beliau mendapatkan sambutan yang hangat dari masyarakat Kampung Melayu dan sekitarnya. Kepulangan beliau, seorang yang dikenal cerdas dan dari keturunan orang-orang saleh, sudah lama ditunggu-tunggu. Ia yang dulu masih kanak-kanak ketika berangkat, kini telah menjadi ulama yang sarat dengan ilmu pengetahuan agama. Maka tak putus-putus orang berdatangan ke rumahnya mengharapkan wejangannya. Atas permintaan masyarakat yang haus akan pendidikan ilmu agama, beliau pun membuka pengajian dan pelajaran agama di rumah sendiri.

KH Kasyful Anwar selain sebagai seorang ulama yang mempunyai ilmu pengetahuan yang dalam dan luas, juga memiliki metode dan cara mengajar yang baik sehingga orang dapat dengan mudah menerima dan menyerap setiap pelajaran yang diberikan oleh beliau. Sebagai putra Banjar yang memahami seluk beluk sosial budaya masyarakatnya, Kasyful Anwar sangat arif menentukan dengan cara dan kaidah bagaimana ia harus mentransfer ilmu pengetahuan agama yang dituntutnya dari Mekah al Mukaromah kepada masyarakat sesamanya, sehingga dengan demikian terpuaskanlah rasa dahaga masyarakat akan ilmu pengetahuan agama. Berkat kaidah yang pas yang diterapkan oleh Syekh Kasyful Anwar, maka dari hari ke hari makin banyaklah orang yang datang mengaji dan menuntut ilmu kepada beliau. Baik orang muda, orang tua, lelaki maupun perempuan, berbondong-bondong memenuhi rumah beliau.

Dalam perjalanan sebagai guru agama, beliau tidak saja mengajar di Kampung Melayu Martapura dan sekitarnya, tapi juga sampai ke daerah-daerah yang jauh. Beliau tak segan-segan memenuhi undangan dan permintaan untuk memberikan ceramah, pelajaran agama dan memimpin pengajian di tempat-tempat yang jauh. Dalam setiap kali kesempatan beliau memberikan pelajaran agama, masyarakat berduyun-duyun dari berbagai pelosok daerah, datang menghadiri untuk mendapatkan ilmu dan barokah dari ulama yang rendah hati itu. Dalam waktu singkat saja, nama KHM Kasyful Anwar sudah begitu dikenal dan dicintai oleh masyarakat muslim, bukan hanya di Martapura dan sekitarnya, tapi juga di luar Martapura.

Sewaktu beliau kembali menunaikan ibadah haji kedua pada bulan Safar 1342 H, beliau sempat singgah di Jakarta, dan selama di Jakarta memberikan pelajaran di beberapa tempat, seperti di rumah H. Muhammad di Mester Cornelis, Batavia (sekarang Jatinegara, Jakarta) dan di masjid Al Anwar, Jakarta.

Khazanah pengetahuan agama yang dalam dan luas, serta metode pengajaran yang amat baik yang dimiliki beliau, sehingga masyarakat sangat mudah menerimanya, menjadikan masyarakat memberikan sebutan Tuan Guru atau Hadharatussyekh Al Allamah, atau disebut orang juga dengan sebutan Kiyayi, bagi Kasyful Anwar.

 

 

BAB III

SYEKH KH KASYFUL ANWAR DAN PONDOK

PESANTREN DARUSSALAM

 

Dalam sejarah dunia Pendidikan Islam di Indonesia, sistem pendidikan madrasah mulai berkembang sejak sekitar awal abad 19. Sebelumnya pendidikan Islam berlangsung dari rumah ke rumah. Kemudian setelah umat Islam mendirikan tempat-tempat ibadah seperti surau, langgar, mushola dan masjid, maka pengajaran dan pendidikan Islam lebih intensif dilakukan di kalangan anak-anak dan orang dewasa. Sistem pendidikan saat itu dilakukan dengan model halaqah, di mana murid-murid duduk bersimpuh mengelilingi guru, atau dalam istilah sekarang dilakukan dengan cara pengajian majlis taklim.

Madrasah Darussalam Martapura yang berdiri pada 14 Juli 1914 M, adalah sebuah lembaga pendidikan Islam pertama dan tertua di Kalimantan, menyusul kemudian madrasah Al Ashriyah di Banjarmasin yang berdiri tahun 1915 M, lalu Madrasah Menengah Islam di Kandangan tahun 1920, dan Madrasah Normal Islam di Amuntai yang didirikan oleh KH Abdul Rasyid tahun 1928.

Nama Syeikh KH Kasyful Anwar tidak dapat dilepaskan dari keberadaan Pondok Pesantren Darussalam, Martapura, karena selain beliau sebagai pimpinan periode III pondok pesantren, juga dari buah pikiran beliaulah dimulai pembaharuan-pembaharuan mendasar dalam sistem pendidikan dan metode pengajaran agama Islam di pondok pesantren tersebut dan terus berkembang hingga saat ini.

Awal mula berdirinya Madrasah Darussalam dipelopori oleh seorang aktivis pergerakan Islam di Banjarnasin, bernama KH Jamaluddin, dibantu KHN Nasir, serta sejumlah zu’ama, hartawan dan tokoh-tokoh masyarakat lainnya. Gedung yang digunakan pada mulanya sebuah rumah yang dibeli dari seorang Tionghoa di Kampung Pasayangan. Pada periode berikutnya diadakan perombakan, perbaikan dan perluasan bangunan. Namun lokasinya tetap berada di tempat yang sekarang ini.

KH Jamaluddin sebagai pelopor pendiri dan sekaligus sebagai pimpinan pertama madrasah, mengemban tugas memimpin madrasah selama 5 tahun, dari tahun 1914 hingga 1919 M.

Pimpinan Madrasah Darussalam selanjutnya dijalankan oleh KH Hasan Ahmad dari tahun 1919 hingga 1922 M. Pada periode pimpinan kedua ini, karena baru didirikan, pimpinan hanya meneruskan metode yang telah ada dengan model pengajaran yang masih sederhana atau tradisional. Model pengajaran yang masih sederhana atau tradisional pada masa itu dilakukan dengan cara halaqah. Model halaqah ini tidak mengenal pembagian kelas dan batas usia santri. Anak-anak dan orang dewasa sama bercampur dalam satu kelompok.

Barulah pada periode pimpinan ketiga yang dipercayakan di pundak Syekh Kasyful Anwar yang memimpin madrasah selama 18 tahun, yaitu dari tahun 1922 hingga 1940 M, terjadi perubahan-perubahan fundamental, baik di bidang sistem pendidikan, penyusunan kurikulum, pemberdayaan tenaga pengajar, maupun peningkatan infrastruktur yang meliputi pembangunan sarana dan prasarana fisik bangunan.

Oleh Syekh Kasyful Anwar, gedung madrasah dipugar dan dibangun guna memenuhi persyaratan minimal sebagaimana layaknya sebuah pondok pesantren modern untuk ukuran masa itu. Gedung dibangun bertingkat dua yang terdiri 16 kelas ruang belajar, ruang kantor dan ruang majelis guru. Juga dibangun asrama pemondokan bagi para santri yang datang dari daerah-daerah di luar Martapura.

Cara pengajian halaqah diubah menjadi model pengajaran klasikal dan berjenjang. Cara halaqah dipertahankan hanya sebatas kebutuhan ekstra kurikuler, yaitu santri dituntut untuk menimba ilmu agama tambahan dengan mengikuti pelbagai kegiatan pengajian majelis taklim yang ditunjuk (direferensi) oleh lembaga pendidikan. Sedang tingkatan pendidikan diatur dan ditetapkan dalam tiga jenjang yang dikenal dengan sistem 3-3-3, yakni tingkat Tahdiriyah 3 tahun, tingkat Ibtidaiyah 3 tahun, dan tingkat Tsanawiyah 3 tahun.

Sistem pendidikan berjenjang 3-3-3 yang diterapkan Syekh Kasyful Anwar kemungkinan merupakan model perpaduan inovatif antara sistem jenjang pendidikan 3-3-4 yang dipergunakan di Arab Saudi dan sistem jenjang pendidikan 3-5-3 yang diterapkan oleh Pemerintah Kolonial Hindia Belanda di Indonesia dalam tingkatan pendidikan yang sama.

Kurikulum pendidikan diatur sesuai dengan jenjang pendidikan yang ditetapkan. Demikian pula dengan kitab dan buku-buku pelajaran yang menjadi kebutuhan, semuanya berusaha dipenuhi ketersediaannya. Sedang waktu belajar santri dari semua jenjang pendidikan, dilaksanakan pada pagi hari.

Guna memenuhi kebutuhan akan tenaga pengajar (guru), selain mendatangkan guru berpengalaman dan menguasai ilmunya, pihak madrasah juga menyelenggarakan pendidikan Tahasus yaitu sebuah pendidikan khusus kaderisasi yang menyiapkan dan meningkatkan kualitas guru sesuai dengan kurikulum jenjang pendidikan yang dibutuhkan.

Walau Syekh KH Kasyful Anwar seorang pimpinan guru yang dalam dan luas ilmu pengetahuannya, namun ia tidak segan-segan mengambil para pembantunya, meminta masukan, pandangan dan pikiran dari para lulusan sekolah umum, antara lain dari lulusan sekolah For Folk School, seperti guru Abdullah Atha dan guru Khalid Hasyim yang diberikan tugas membantu menyusun kurikulum sesuai dengan tuntutan zaman.

Dalam proses belajar mengajar, Syekh Kasyful Anwar menerapkan beberapa metode konstruksi, yaitu di antaranya metode ceramah, tanya jawab, pemberian tugas, demonstrasi Qiasiyah dan Tadrij. Sedangkan untuk pengajaran bahasa digunakan metode yang disebut “Assyahid”. Yakni semacam ilmu urai bahasa di mana guru mengucapkan atau menuliskan kalimat bahasa Arab, yang kemudian oleh para santri diuraikan berdasarkan kedudukan, jenis, makna dan sifat dari kata atau kalimat tersebut.

Demikianlah yang dilakukan Syekh Kasyful Anwar dalam melakukan perombakan, pembaharuan dan peletakan fondasi pendidikan yang kuat dan mendasar bagi Madrasah Darussalam sehingga mampu menghasilkan lulusan yang berkualitas tinggi dengan kemampuan keilmuan yang komprehensif (multi guna).

Dengan adanya pembaharuan sistem dan metode pendidikan yang dilakukan  Syekh HM Kasyful Anwar di Pondok Pesantren Darussalam Martapura, maka banyak berdatangan dan berduyun-duyun para santri dari berbagai daerah di Kalimantan yang belajar di Pondok Pesantren Darussalam. Nama Darussalam pun menjadi harum. Dalam beberapa tahun saja para alumnusnya telah tersebar ke berbagai pelosok Kalimantan. Dan sepulang di daerahnya masing-masing banyak mendapatkan kepercayaan dari masyarakat kaum muslimin setempat untuk membuka pengajian majlis taklim, mendirikan madrasah dan pondok pesantren, yang mana sistem dan metode pendidikan yang diterapkannya tidak terlepas bahkan merupakan penyebaran dari pembaharuan sistem dan metode pendidikan yang dikembangkan dan diterapkan oleh Syekh Kasyful Anwar.

 

Seorang Mujaddid dan Mu’assis Darussalam

 

Bagi kalangan Pondok Pesantren Darussalam, nama  Syekh KH Kasyful Anwar tentu sangatlah dikenal di lembaga ini. Nama Kasyful Anwar tak dapat dilepaskan dari nama Darussalam. Karena lewat pemikiran dan tangan beliaulah yang pertama kali melakukan perombakan dan pembaharuan sistem pendidikan di pondok pesantren tertua di Kalimantan ini sehingga Darussalam menjadi terkenal di seantero Kalimantan.

Sistem jenjang kitab (setelah tamat satu kitab dilanjutkan dengan kitab yang lebih tinggi) yang mulanya dianut, diganti dengan sistem jenjang klasikal, mencontoh kepada sistem pendidikan yang diterapkan madrasah-madrasah Timur Tengah, di antaranya Madrasah ash-Sholatiah Mekkah, madrasah tertua di tanah Hijaz (berdiri 1291 H).

Ulama Banjar ini yang diyakini oleh beberapa penulis memiliki hubungan darah dengan Maulana Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari (Datuk Kalampayan) tersebut memimpin Darussalam selama 18 tahun (1922-1940). Selama itu pula, Darussalam merasakan pengorbanan yang tidak tanggung-tanggung dari Hadharatusy Syekh. Waktu, tenaga, pikiran dan kekayaan keilmuan beliau curahkan untuk Darussalam. Bahkan apapun yang dimiliki, beliau berikan untuk Darussalam, Demi kecintaannya pada dunia pendidikan dan demi mencerdaskan kehidupan kaumnya. Praktis selama 18 tahun penuh memimpin Pondok Pesantren Darussalam – kecuali hanya jedah selama 3 tahun, yaitu dari tahun 1930 M hingga 1933 M saat berada di Mekah melaksanakan kegiatan belajar dan mengajar di Majid El Haram – Kasyful Anwar bergulat memajukan Darussalam.

Sebagaimana sering dikemukakan oleh al-Allamah KH Muhammad Zaini Abdul Ghani (Abah Guru Sekumpul) dalam pengajiannya semasih hidup, Hadratusy Syekh Kasyful Anwar selain menetapkan gaji untuk staf pengajar di Darussalam, beliau juga memberikan santunan yang diambil dari kantong pribadi beliau sendiri, sehingga kesejahteraan para asaatidz tercukupi dengannya. Santunan yang diberikan tidak diukur dari tinggi rendahnya kedudukan atau jabatan, namun disandarkan pada kondisi ekonomi si penerima. Kiranya ini sebuah kebijakan yang unik dan arif dari sang syekh !

Kecuali itu, beliau juga mengupayakan peningkatan kualitas intelektual para pengajar Darussalam. Untuk itulah sekitar tahun 1936-1937 beberapa alumnus Darussalam diberangkatkan ke tanah suci Mekah untuk memperdalam kajian Islam di sana. Sehingga akhirnya Darussalam memiliki ulama ahli Nahwu, Sharaf dan Tasawuf yang diwakili oleh KH Seman Mulya. Ahli Tajwid dan Qiraat yang diwakili KH Nashrun Thahir. Ahli kaligrafi dan hafizh Qur’an yang diwakili oleh KH A. Nawawi Marfu. Ahli Ilmu Falaz dan Faraidh yang diwakili KH Salman Jalil dan ahli Fiqh yang diwakili KH Abdurrahman Ismail.

Atas jasa dan pengorbanan yang begitu besar, tulus dan tiada ternilai bagi Darussalam, Syekh Kasyful Anwar kemudian diangkat dan ditetapkan sebagai mu’assis atau pendiri Pondok Pesantren Darussalam.

Karena telah memiliki ilmu yang luas dan dalam sehingga memperoleh kepercayaan mengajar di Masjidil Haram, kemudian pulang ke tanah air, melakukan perombakan sistem pengajaran dan mengupayakan lahirnya intelektual muslim yang mumpuni di bidangnya serta melahirkan beberapa karya tulis di berbagai bidang keilmuan, lalu tidak sedikit penulis yang menempatkan Syekh Kasyful Anwar sebagai Mujaddid (Pembaharu). Al Allamah KH Muhammad Zaini Abdul Ghani, di dalam pengajiannya, kerapkali mengemukakn bahwa KH Kasyful Anwar termasuk salah seorang mujaddid.

 

BAB IV

SYEKH KH KASYFUL ANWAR SEBAGAI PENSYIAR AGAMA, PENDIDIK, PEMBAHARU DAN PENULIS KITAB

 

Pembaharuan sistem dan metode pendidikan yang dijalankan oleh Syeikh Kasyful Anwar selaku guru sekaligus pimpinan Pondok Pesantren Darussalam Martapura, menumbuhkan tuntutan tersedianya kitab-kitab dan buku-buku pelajaran sesuai kurikulum dan jenjang pendidikan yang diadakan. Agar pembaharuan dapat dijalankan tentu memerlukan dukungan keberadaan kitab-kitab pelajaran yang cukup dengan mutu yang baik. Melahirkan ide dan kandungan keilmuan yang dituangkan dalam wujud buku, tentu bukan pekerjaan yang gampang. Tapi kesulitan itu dapat diatasi berkat adanya himmah, kemauan yang keras dan pengabdian yang tulus yang diperlihatkan oleh Syeikh Kasyful Anwar.

Di tengah-tengah kesibukan kegiatan majelis taklim, berdakwah, mengajar dan memimpin madrasah, beliau masih menyempatkan waktu menuliskan buku-buku pelajaran dan menghasilkan kitab-kitab ilmu pengetahuan agama. Maka kemudian lahirlah tulisan-tulisan, buku-buku pelajaran dan kitab-kitab karya Syeikh Kasyful Anwar, baik berupa buku pelajaran untuk pondok pesantren, buku amalan untuk para santri, maupun kitab-kitab agama yang dapat dibaca oleh kaum muslimin pada umumnya sebagai referensi pencerahan mendalami dan menggali ajaran agama Islam.

Di antara buku-buku karangan Syeikh Kasyful Anwar itu, ialah:

  1. Risalat Attawhid, yang mengenai Ilmu Tauhid
  2. Risalatal Fiqhiyah, yang mengenai Ilmu Fiqh.
  3. Risalat Tajwidil Qur’an, yang mengenai Ilmu Tajwid.
  4. Kitab Durusut Tashrif, terdiri 4 jilid, yang mengenai Ilmu Shoraf
  5. Kitab Shirath Sayyid al Mursalin, yang mengenai sejarah Nabi.
  6. Terjemah Hadist Arba’in dan sarahnya ke dalam bahasa Indonesia Arab Melayu.
  7. Terjemah kitab Jauharoh Attauhid, yang bernama Addarul Farid fi Sarhi Jauharoh Tauhid.
  8. Kitab Hasbuna, yang mengenai shalawat Rasul.

 

Salah satu kitab yang ditulisnya, yaitu kItab Tauhid, secara garis besar memuat 5 pokok bahasan. Pertama, pasal tentang rukun iman enam perkara yang diuraikan secara ringkas tapi padat. Kedua, pasal tentang I’tiqad kepada Nabi Muhammad. Ketiga, bahasan tentang sejumlah I’tiqad, yaitu (1) sahabat adalah sebaik umat, (2) wajib taqlid kepada salah satu dari empat imam mazhab, (3) I’tiqad bahwa karamah para wali itu ada, ziarah kubur itu dianjurkan, doa dan bacaan bermanfaat bagi mayit dan bertawassul kepada nabi dan wali adalah boleh, baik secara syarah maupun akal. Keempat, bahasan tentang al kulliyat al Sitt. Dan kelima, tentang rizki.

 

Beberapa perkataan Tuan Guru

 

Terdapat beberapa perkataan Tuan Guru Syekh Muhammad Kasyful Anwar radiyallahu ‘anhu yang dinukil dari kitab manaqib yang disusun Guru HM Munawwar, pimpinan Majlis Taklim Rhaudhatul Anwar, Martapura. Di antara perkataan itu ialah :

  • “Hai sekalian saudaraku, janganlah kamu mengaji melainkan ilmu yang menambah dekat pada kehidupan akhirat, dan menjihadkan pada kehidupan dunia. Dan janganlah kamu mengaji melainkan kepada guru yang mengerti dan takut ia akan Allah ta’ala dengan mengerjakan segala yang diwajibkan dan menjauhi segala apa yang dilarangNya. Sifat takabbur yaitu perbuatan dusta, mencela orang dan memuji dirinya, maka akan menjauhi dirinya dari menyelamatkan agama”.
  • “Seyogianya hai orang yang alim, apabila ditanyai sesuatu yang tiada diketahuinya, maka mengatakan bahwa ia tiada mengetahuinya, sesungguhnya tiadalah mengurangkan akan martabatnya, tetapi sebaliknya menunjukkan akan waro’nya dan sempurna ilmunya”.
  • “Arti waliyullah yaitu orang takut kepada Allah dengan mengikuti segala suruhanNya dan menjauhi segala laranganNya, serta memperbanyak segala sunnah, segala ibadah, dan tiada ta’khir daripada dzikirnya, dan tiada melihat ia kecuali dengan hatinya, dan tiada ia bergerak melainkan taat dan takutnya pada Allah, dan tiada dukacitanya ia atas kelupaan yang fana melainkan karena lalai atas perintahNya”.
  • “Seyogianya bagi manusia bersungguh-sungguh beramal sholeh dan mengingat akan mati pada tiap-tiap waktu dan memendekkan cita-cita adalah asal tiap-tiap kebajikan. Sesungguhnya panjang cita-cita adalah asal dari tiap-tiap kejahatan”.
  • “Dengan shodaqoh diharap tertolak segala bala daripadanya, dan bahwa shodaqoh tiada tersimpan pada harta, melainkan pada tiap-tiap kebajikan dan kebaikan kepada orang lain dan tiap-tiap langkah kepada jalan ta’at kepada Allah seperti halnya sholat”.
  • “Sifat orang Islam yang sempurna ada 6 perkara, yaitu, pertama, meninggalkan sifat hasud, yaitu mencita-citakan tanggalnya nikmat orang lain, atau berpindahnya nikmat orang lain kepadanya. Kedua, meninggalkan perbuatan menipu, yang setengah daripadanya menyembunyikan ‘aib dan mencampuri yang jahat dengan yang baik. Ketiga, meninggalkan nafsu amarah. Keempat, meninggalkan berbelakangan, yakni berpaling dari sikap bertolongan dan bersaudaraan, dan tiada berkata-kata kepada sesama orang Islam lebih dari 3 hari. Kelima, tiada menjualkan atas barang jualan orang lain. Dan keenam, bertolong-tolongan dalam berbuat kebajikan.”

 

Mencintai Dunia Pendidikan

 

Sebuah lembaga pendidikan selain didirikan untuk tujuan mencerdaskan umat, mengasah akal, mengembangkan fikiran, menghaluskan ahlak dan proses transformasi keilmuan pada umumnya, juga tak lepas sebagai media dakwah mengajak umat pada kebaikan yaitu menjalankan perintah Allah dan menghindari apa yang menjadi laranganNya. Ketersediaan dan kebutuhan akan kitab-kitab dan buku-buku ilmu pengetahuan dan pelajaran agama, menjadi bagian tak terpisahkan agar proses transformasi keilmuan dan tujuan mulia dari fungsi pendidikan, dapat berjalan dengan baik dan lancar.

Dalam rangka syiar agama Islam, terdapat pembagian batasan antara tugas atau fungsi da’I atau seorang pendakwah, dengan seorang pendidik dan seorang pengarang. Berdakwah ialah mensyiarkan ajaran agama dengan lisan melalui bentuk tabligh atau majelis taklim di depan umat. Sedangkan seorang pendidik adalah memberikan pencerdasan melalui proses transformasi keilmuan serta suri tauladan, baik melalui lembaga pendidikan formal maupun informal. Sedangkan pengarang yang menuliskan kitab-kitab merupakan bagian tak terlepaskan dari proses transformasi keilmuan selain penggalian dan pengembangan akal dan fikiran yang dilandasi oleh kekuatan penguasaan akan ilmu pengetahuan.

Ketiga hal ini kiranya yang menjadi intisari dari pengabdian keilmuan, budaya dan sosial kemasyarakatan atas dasar ketakwaan terhadap Allah SWT yang diperlihatkan oleh Syeikh Kasyful Anwar. Di mana selain sebagai seorang pendakwah yang turut mensyiarkan ajaran Islam tanpa lelah kepada masyarakatnya, juga beliau seorang pendidik yang amat mencintai dunia pendidikan yang ingin mencerdaskan bangsanya dalam estafet regenerasi. Selain itu ia juga seorang pengarang dan penulis kitab-kitab yang kandungan nilai-nilai di dalamnya menjadi pencerahan atas keimanan dan ketakwaan kepada Allah SWT, yang dipersembahkannya dan menjadi bahan kajian bagi generasi-generasi kemudian.

Demi kecintaan Syeikh Kasyful Anwar yang demikian besar pada dunia pendidikan, lalu lahir ide-ide pembaharuan yang jauh melampaui situasi dan kondisi sosial di zamannya. Jadilah Syekh Kasyful Anwar selain sebagai seorang mujahid, juga seorang mujaddid yang menorehkan tinta emas bagi perkembangan Islam di tanah air.

Semua pekerjaan dan pengorbanan itu dilakukan oleh Syekh Kasyful Anwar tanpa mengenal lelah tanpa pamrih selain mengharap ridhlo Allah SWT. Bahkan hingga menjelang akhir hayatnya (Syeikh Kasyful Anwar wafat tahun 1940 dalam usia 53 tahun bilangan tahun Masehi), beliau masih menyelenggarakan pengajian dua kali seminggu di Karang Intan, mengadakan pengajian Ilmu Shoraf di mushola dan langgar-langgar di Kampung Keramat, Teluk Selong dan Kampung Melayu.

Di dalam mensyiarkan agama dan bertujuan memberantas buta aksara Al Qur’an di kalangan masyarakat muslim, Syeikh Kasyful Anwar melakukan pengiriman guru-guru agama, baik untuk afdeling Martapura, seperti ke Pengaron, Karang Intan dan Riam Kanan, juga pengiriman guru ke daerah-daerah lain.

 

Di sekitar tahun 1937, telah dikirim beberapa orang guru Pondok Pesantren Darussalam ke berbagai daerah, di antaranya :

  1. Guru Ahyat, dikirim ke Pangkalan Bun, Kotawaringin, atas permintaan Raja Alamsyah.
  2. KH Abdullah, dikirim ke Kumai, Kalimantan Tengah.
  3. KH Azhary, dikirim ke Sampit, Kalimantan Tengah.
  4. KH Khalid Hasyim, dikirim ke Samarinda, Kalimantan Timur.

 

Dengan pengiriman guru-guru Pondok Pesantren Darussalam ke berbagai daerah serta tersebarnya para alumninya di berbagai pelosok Kalimantan, maka Martapura tidak saja dikenal sebagai “Kota Intan”, akan tetapi juga dikenal lagi dengan sebutan “Kota Serambi Mekah”, di mana Pondok Pesantren Darussalam menjadi sentral pendidikan Islam dan dakwah Islamiyah di pulau Kalimantan. Itu semua berkat buah karya dan buah pengabdian Syekh Kasyful Anwar dalam ridho Allah SWT.

Berbahagialah masyarakat Pulau Kalimantan yang memiliki seorang putra bangsa yang besar, yaitu Syekh Kasyful Anwar !

 

BAB V

KEPRIBADIAN YANG KUKUH, HUMANIS DAN RENDAH HATI

 

Berdasarkan manuskrip, Syekh KH Kasyful Anwar memiliki perawakan yang sedang, sebagaimana perawakan orang Banjar pada umumnya. Tinggi badan beliau sekitar 155 cm. Berkulit sawo matang dan agak kehitaman. Beliau berbadan tegak dengan sikap penuh keagungan. Nada bicara jelas dan terang, dengan suara lembut tapi berwibawa.

Walau kedudukan beliau sebagai guru pengajian, pendakwah dan pimpinan madrasah dengan jumlah jamaah dan santri mencapai ribuan, sangat dihormati, namun beliau secara ekonomi rumah tangga tergolong berada dan mandiri melalui kegiatan wirausaha atau berdagang mas intan permata. Selain dengan modal sendiri, beliau juga pernah mendapatkan tambahan modal dari ipar beliau, yang bernama Haji Muhammad, seorang pedagang intan berlian di Pasar Mester Cornelis, Batavia (Jatinegara, Jakarta). Dalam menjalankan usahanya, beliau dibantu oleh beberapa orang pelaksana perdagangan niaganya.

Selain usaha dagang mas intan berlian, KH Kasyful Anwar juga memiliki beberapa petak sawah dan kebun karet yang dikerjakan oleh para tenaga upahan. Namun di celah-celah kesibukan kegiatan pengajaran agamanya, beliau masih sempat menyediakan waktu luang untuk turun ke sawah dan kebun bekerja bersama-sama dengan para pekerjanya. Hasil usaha dagang ini telah membuat kebutuhan ekonomi rumahtangga beliau tercukupi, bahkan sebagian dipergunakan untuk membiayai kegiatan beliau sehari-hari yang sudah sangat padat.

Kondisi ekonomi rumahtangga mandiri yang dijalankan KHM Kasyful Anwar, menjadikan beliau menolak menerima zakat. Bahkan atas kemampuan ekonominya itu, beliau mengeluarkan zakat serta memberikan bantuan ekonomi kepada orang lain yang membutuhkan. Sampai-sampai gaji dan honor para guru banyak dikeluarkan dari uang pribadi beliau.

Kendati beliau seorang yang tinggi dalam khazanah keilmuan, terhormat di dalam kedudukan sosial kemasyarakatandan berkecukupan dari segi ekonomi, namun beliau tetap hidup sederhana dan rendah hati kepada siapa saja. Hal ini karena sikap zuhud beliau. Seperti tampak dalam keseharian beliau bekerja, setiap hari kerja sekitar jam 08 pagi, beliau selalu berangkat dengan menggunakan sampan atau jukung sebagai sarana transportasi. Begitu pula dalam setiap bepergian ke tempat lainnya.

Dalam pergaulan hidup bermasyarakat, Syekh Kasyful Anwar tidak memperlakukan dan memandang seseorang berdasarkan status sosial. Setiap tamu atau pengikut pengajiannya, apakah ia pejabat, bangsawan, hartawan, fakir miskin, buruh, tani, atau pendayung jukung sekalipun, diperlakukan sama. Di dalam memenuhi undangan atau hajatan, beliau sangat menaruh perhatian dan mementingkan sekali untuk datang menghadirinya tanpa memandang siapa pengundangnya.

Kehidupan Syekh Kasyful Anwar yang mempunyai disiplin pribadi yang kukuh, memancarkan kepribadian yang agung, karena beliau mampu menerapkan kebersamaan dan manusiawi dalam kehidupan sosial kemasyarakatan secara bersamaan. Kepribadian semacam ini adalah unik dan tidak sembarang orang dapat menjalankannya.

Dalam rangka disiplin itu pula dapat dilihat dan dipahami betapa besarnya disiplin ilmiah dan akhlakul karimah yang dimiliki beliau. Hal ini bisa dilihat dari sikap penolakan beliau menerima zakat, satu sisinya tentu karena harus diberikan kepada orang yang berhak menerima seperti fakir miskin, juga di sisi lain agar para hartawan lebih mampu dan melihat serta memperhatikan saudara-saudaranya sesama muslim yang masih hidup dalam kekurangan.

Demikian pula KHM Kasyful Anwar dapat mewujudkan kebersamaan antara Pimpinan Pondok Pesantren, guru-guru, karyawan dan santri, sehingga segala usaha bagi kepentingan pondok pesantren Darussalam dapat dijalankan secara bersama-sama dan bersatu padu, sampai-sampai beliau sendiri secara langsung memimpin guru-guru dengan para santri menghadiri upacara peringatan hari-hari besar yang dilaksanakan di lapangan. Keakraban yang terjalin tidak hanya berlangsung di lingkungan pondok, tapi juga bagi santri yang baru lulus atau baru diterima, tidak canggung-canggung datang untuk meminta nasehat dan petuah dari beliau. Ini karena Syekh Kasyful Anwar sangat terbuka dan ramah bagi setiap orang.

Beliau adalah seorang ulama besar yang tidak hanya dicintai, dihormati serta disegani oleh murid-muridnya, tapi juga oleh para ulama  hingga kalangan masyarakat umum.

Beliau juga orang yang mempunyai sifat ikhlas dan jujur. Nampak terlihat dalam perjuangan beliau yang tidak mengharapkan pujian kecuali semata-mata takarub kepada Allah. Itu barangkali yang disebut sebagai sifat orang sufi, artinya orang yang taatnya hanya karena Allah.

Demikianlah kehidupan beliau seorang ulama besar yang memegang teguh ajaran agama, disiplin ilmu pengetahuan dan disiplin intelektual kemasyarakatan. Dan beliau tetap tersenyum dalam kesederhanaan hidup yang kona’ah dan ikhlas fisabilillah.

Sikap hadarathus syekh yang sederhana dan rendah hati menjadikan Kasyful Anwar dicintai masyarakatnya. Beliau telah menjadi pribadi yang selalu menjadi suri tauladan dari masa ke masa.

 

P E N U T U P

 

Setelah berjuang tiada henti dan tanpa kenal lelah, baik melalui pendidikan formal maupun melalui forum majlis taklim, pengajian, dakwah, dan menghasilkan pelbagai tulisan dan kitab agama, maka pada hari Minggu tanggal 18 Syawal 1359 H, atau bertepatan 19 November 1940 M, pukul 21.45, Syekh Kasyful Anwar, ulama besar Banjar yang sederhana dan rendah hati itu menghembuskan nafas terakhirnya. Beliau meninggalkan seorang isteri dan dua anak yang hidup. Jenazahnya dimakamkan di Qubah Kampung Melayu, Martapura.

Beliau yang wafat masih dalam kedudukan sebagai Pimpinan Pondok Pesantren Darussalam, meninggal dalam usia 53 tahun hitungan tahun Masehi (atau 55 tahun hitungan tahun Hijriah). Sebuah usia yang masih sangat muda untuk seorang pejuang agama dan kemanusiaan yang ilmu, pikiran serta cita-citanya yang tinggi lagi mulia, masih sangat dibutuhkan oleh masyarakat, khususnya umat Islam Banjar, Kalimantan Selatan.

Selama hidupnya almarhum telah mencurahkan segala daya dan fikirannya demi syiar Islam dan demi ketinggian harkat dan martabat kaumnya. Almarhum begitu amat mencintai dunia pendidikan, oleh karena, menurut pandangannya, hanya melalui dunia itu ia dapat mewujudkan obsesinya lahirnya umat Islam Indonesia yang cerdas, bertakwa, berakhlakul karimah dan berilmu pengetahuan. Almarhum merasakan betul, dalam dan luasnya khazanah ilmu pengetahuan yang dimilikinya, dirasakan masih belum cukup untuk ditularkan kepada santri-santrinya, kepada masyarakat Islam Banjar yang haus akan ilmu pengetahuan agama. Karena itu, tak putus-putus almarhum semasih hidup bolak-balik ke Mekah Al Mukaromah untuk menimba ilmu lebih lanjut.

Selain almarhum dikenal sebagai seorang pejuang Islam yang tangguh dan pekerja keras (mujahid) serta seorang pembaharu (mujaddid), juga sikap beliau yang istiqomah dan penuh keteladanan akan nilai-nilai luhur kemanusiaan (humanis), gandrung pada ilmu pengetahuan dan kemajuan (moderat) serta adil dan arif bijaksana (demokratis), telah memberikan kesan mendalam tersendiri, di tengah kerinduan masyarakat akan seorang pemimpin yang berpihak pada rakyat banyak (umat). Dan Syekh Kasyful Anwar adalah seorang ulama pahlawan, pahlawan umat yang menjadi kebanggaan masyarakat muslim Banjar, Kalimantan Selatan pada khususnya, dan masyarakat muslim Indonesia pada umumnya.

Satu hal yang tak terlupakan, selama memimpin Pondok Pesantren Darussalam dan memimpin pengajian di seantero Martapura, almarhum telah menorehkan tinta emas bagi sejarah perkembangan Martapura, sehingga julukan sebagai Kota Serambi Mekah bagi Martapura, tidak dapat dilepaskan dari sumbangsih yang diberikan Tuan Guru Syekh Kasyful Anwar di lapangan pendidikan, baik formal melalui Pondok Pesantren Darussalam maupun jalur pendidikan non formalnya dengan berkecimpung menyemarakkan syiar agama Islam di masyarakat.

Kiranya Allah SWT memberikan tempat yang sebaik-baiknya bagi almarhum sesuai dengan amal ibadahnya. 

 

BAHAN BACAAN

 

  1. Pondok Pesantren Darussalam, Martapura, kitab, “Riwayat Hidup Al ‘Alim Al ‘Allamah Alm KHM Kasyful Anwar, Haul 50 Tahun”, tahun 1989 M.
  2. Abu Zein Fardany, karangan, “Hadratus Syeikh KH Kasyful Anwar; Sang Mujaddid?”, Martapura, 30 Oktober 2007.
  3. Rahmadi, karangan, “Ulama Banjar dan Karya-karyanya di Bidang Tauhid”, Martapura, tahun 2007.
  4. Munawwar bin Ahmad Ghazali, HM, kitab, “Nur al Abshar fi Dzikir Nubdzat min Manaqib al Syaykh Muhammad Kasyful Anwar”, Martapura, Majelis Taklim Musshalla Raudathul Anwar..
  5. Tamar Djaja, kitab, “Pusaka Indonesia, Orang-orang Besar Tanah Air”, Jakarta, 1960.

 

 

Tinggalkan sebuah Komentar »

Belum ada komentar.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: