Atmosfir

Mei 15, 2015

PUASA (SEBUAH PENELAAHAN DESKRIFTIF ATAS SURAT AL BAQARAH AYAT 183 HINGGA 187)

Filed under: Hukum — arsyad1952 @ 7:03 am

PUASA

(SEBUAH PENELAAHAN DESKRIFTIF ATAS

SURAT AL BAQARAH AYAT 183 HINGGA 187)

 

 

Kewajiban berpuasa di bulan Ramadhan merupakan salah satu rukun dalam Rukun Islam.

QS Al Baqoroh ayat 183 : “Yaaa ayyuhal ladziina aamanuu kutiba ‘alaykumush shiyaam kamaa kutiba ‘alalladziina min qoblikum la’allakum tattaquun,..’(“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa, sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu, agar kamu bertaqwa, …”)

Ayat-ayat tentang puasa di bulan Ramadhan ini, tercantum dalam Al Qur’an surat Al Baqoroh ayat 183 hingga ayat 187.

 

Berikut penelaahan deskriftif terhadap ayat-ayat tersebut.

 

Surat Al Baqoroh ayat 183 terdiri atas beberapa phrase atau komponen kata (dengan berpatokan pada terjemahan baku sebagaimana di atas):

  1. Phrase: hai orang-orang beriman
  2. Phrase: diwajibkan atas kamu
  3. Phrase: berpuasa
  4. Phrase: sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu
  5. Phrase: agar kamu bertaqwa

 

a} Orang atau orang-orang beriman

Siapakah yang dimaksud dengan orang beriman itu?

Orang beriman ialah orang yang makrifat /percaya/yakin secara kaffah pada Rukun Iman 6 Perkara. Yaitu, makrifat kepada Allah, Tuhan Yang Maha Esa, makrifat akan adanya alam gaib (adanya surga, neraka, malaikat, iblis dan setan, jin serta roh), makrifat dengan kitab-kitab Allah Ta’ala yang diturunkan kepada Rasul-rasulNya, makrifat kepada nabi dan rasul-rasulNya, makrifat akan adanya hari akhir /kiamat, serta makrifat terhadap taqdir atau qodla dan qodar. (Hadits Riwayat /HR Muslim melalui Umar r.a.)

 

Tentang Tuhan Yang Maha Esa, Qur’an surat Al Ikhlash, Allah Ta’ala menerangkan keadaan pribadinya, “Katakanlah: Dia adalah Allah yang Maha Esa //Yaitu Allah yang menjadi tempat bermohon //Dia tidak berputera //Dan Dia tidak pula diputerakan //Dan tidak ada seorangpun yang serupa dengannya”.

 

Demikian pula dengan makrifat pada nabi dan rasul-rasulNya. Al Qur’an menyebutkan, di antara para nabi dan rasul itu ada yang diceriterakan dan ada pula yang tidak diceritakan oleh Allah Ta’ala kepada kita. Yang diceritakan oleh Allah, ialah disebutkannya nama-nama para rasul itu di dalam Al Qur’an (QS An Nisa : 164), Terhadap rasul-rasul yang diceritakan Allah itu jumlahnya 25 rasul. Yaitu sebanyak 18 nama Rasul (Nuh, Dawud, Sulaiman, Ayyub, Yusuf, Musa, Harun, Ibrahim, Ismail, Alyasa, Yunus, Luth, Ishak, Ya’kub, Zakaria, Yahya, Isa, Ilyas)terdapat di dalam QS Al An’am ayat 83 hingga 86. Dan 7 nama Rasul lainnya, yaitu: Adam (QS Ali Imron : 33), Hud (QS Al A’raf : 65), Sholih dan Syua’ib (QS Hud : 61 dan 84), Idris dan Dzulkifli (QS Al Anbia’ : 85 dan 86), serta Muhammad sebagai penghabisan para nabi (QS Al Ahzab : 40).

 

Konstruksi syarah: orang yang tidak makrifat pada Allah yang Maha Esa, dan orang yang tidak makrifat pada seluruh atau salah satu dari nabi dan rasul-rasulNya adalah bukan orang beriman, atau orang tidak beriman.

 

Al Qur’an menggolongkan orang-orang yang bukan orang beriman, atau orang tidak beriman sebagai orang-orang kafir, sebagaimana QS An Nisa’ ayat 150 dan 151: “Sesungguhnya orang-orang yang kafir (tidak beriman)kepada Allah dan rasul-rasul-Nya dan berkehendak untuk membeda-bedakan antara Allah  dan rasul-rasul-Nya, dan mereka berkata: “Kita beriman kepada sebagian (rasul) dan kita tidak beriman kepada sebagian lainnya”. Mereka bermaksud (dengan perkataan itu) mengambil jalan (lain) di antara yang demikian (iman dan kafir), maka mereka itu adalah orang-orang kafir yang sebenar-benarnya”.

 

Terhadap makrifat kepada Allah yang Maha Esa dan makrifat pada nabi dan rasulNya ini, Islam meletakkannyapada fondasi ketauhidan Islam yang pertama (rukun pertama dalam Rukun Islam), yakni pengucapan syahadat : “Saya bersaksi /bersumpah tiada Tuhan selain Allah, dan saya bersaksi /bersumpah Muhammad adalah utusan-Nya”.

 

Selain itu, berdasarkan hadits-hadits Rasulullah, kemakrifatan orang beriman juga berhubungan dengan ketaqwaan /keshalehan sosial, atau apa yang dinamakan hablumminannas dan hablummin-alam,yaitu hubungan horizontal sosial antar sesama manusia dan lingkungan hidup, selain hablumminallah yaitu hubungan vertikal keimanan antara manusia dengan Sang Mahapencipta. Hablumminallah kontekstual dengan Rukun Iman 6 Perkara.

Sabda Rasulullah, ”Tidaklah beriman, seseorang yang semalam suntuk tidur dalam keadaan perut kenyang, padahal tetangganya merintih dalam keadaan perut lapar sedangkan dia mengetahuinya”. (HR al-Bazzar melalui Anas r.a.)

 

b} Diwajibkan atas kamu.

Kata “diwajibkan” berarti harus, mutlak dijalankan (fardhu ‘ain). Bila tidak dijalankan berarti berdosa, karena menentang perintah Allah. Karena itu puasa Ramadhan merupakan rukun ketiga dalam Rukun Islam 5 Perkara, setelah syahadat dan sholat. Dalam kondisi fisik atau keadaan tidak memungkinkan, seperti sakit atau sedang dalam perjalanan, puasa diganti pada bulan-bulan berikutnya sebanyak hari yang ditinggalkan. Bagi usia lanjut atau merasa berat untuk menjalankannya, puasa diganti dengan membayar fidiyah. (Al Baqoroh : 184, 185).

 

c} Puasa

Surat Al Baqoroh ayat 187 memuat dengan terang /jelas pengertian atau apa yang dimaksud puasa yaitu menahan atau mengendalikan hawa nafsu dengan cara tidak makan, minum dan bercampur suami isteri di siang hari.Waktunya mulai matahari terbit /fajar hingga matahari terbenam. Hubungan suami isteri yang diperbolehkan di malam hari, mendapatkan pengecualiaan ketika suami sedang i’tikaf di dalam masjid.

Pada hakekatnya puasa ialah sesuatu hak yang halal dilakukan di bulan-bulan biasa, tapi di bulan puasa diharamkan untuk dilakukan (di siang hari).

Mengenai hawa nafsu yang dipancarkan lewat pandangan mata, ucapan, pendengaran, fikiran, syahwat  dan perbuatan (perangai, perilaku) buruk, maksiat atau jahat, tidak hanya di bulan puasa diharamkan, di bulan-bulan biasa juga diharamkan. Membuat tulisan di berbagai media yang berisikan maki-makian dan penistaan serta rasa amarah, juga merupakan perbuatan haram yang tidak boleh dilakukan, bukan hanya di bulan puasa, tapi juga di bulan-bulan biasa. Namun demikian, makna puasa adalah pengendalian hawa nafsu secara total guna pembersihan rohani. Puasa juga bermakna ibadah disiplin diri pada ketentuan Ilahi.

 

Makna puasa sama sekali bukanlah menggeser waktu makan, atau sekadar menahan rasa lapar, haus dan hasrat seksual, melainkan ibadah rohani menahan dan mengendalikan hawa nafsu.Sebab manakala manusia tidak dapat mengendalikan hawa nafsu, karena manusia memiliki akal kecerdasan, maka manusia dapat terjerumus pada sifat amat buruk seperti rakus, serakah, kikir, kejam, asosial, asusila, amoral, dzolim bahkan kufur. Sifat hewani yang dimiliki manusia, pada dasarnya timbul dan terlihat pada saat ia lapar dan dahaga. Ketika mendapatkan makanan, sifat buruk berupa rakus, serakah, korup, dsbnya, akan muncul seketika sebagai fenomena sifat hewani, bahkan dapat lebih buas dari hewan karena manusia memiliki akal kecerdasan. Nabi Muhammad saw mengingatkan, perang terbesar yang dihadapi manusia adalah perang melawan hawa nafsu.

“Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya, dan Allah membiarkannya sesat berdasarkan ilmu-Nya, dan Allah telah mengunci mati pendengaran dan hatinya dan meletakkan tutupan atas penglihatannya? Maka, siapakah yang akan memberinya petunjuk sesudah Allah (membiarkannya sesat). Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran?” {QS Al Jatsiyah : 23).

 

d} Sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu.   

Wajib puasa tidak hanya dikenakan pada umat Islam, tapi juga diwajibkan pada umat-umat beriman jauh sebelumnya, yang jarak waktu ke belakangnya hanya Allah yang maha mengetahui.

Timbul pertanyaan, terhadap umat-umat terdahulu (orang-orang sebelum kamu) itu kewajiban puasanya dikenakan /dijalankan di bulan apa?

 

Al Baqoroh ayat 183 tidak /belum menyebutkan kewajiban puasa itu dilakukan di bulan apa. Begitu juga dengan ayat 184. Namun pada ayat 184ini sudah mengawalinya dengan penyebutan petunjuk, bahwa puasa dijalankan /dilakukan dalam beberapa hari tertentu (ayyaamam ma’duudaat). Barulah di ayat 185 disebutkan wajib puasa itu dijalankan /dilakukan pada bulan Ramadhan, yaitu suatu bulan yang di dalamnya diturunkan permulaan Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan pembeda antara yang hak dan bathil (“Syahru romadhoonalladziii unzila fiihil qur aanu hudanllinnaasi wabayyinaatinm minalhudaa wal furqoon”).

Di dalam banyak surat di dalam Al Quran, Allah berfirman Al Quran juga adalah Al Furqon, yaitu pembeda antara yang hak dan bathil.

 

Dengan menggunakan penafsiran sistematik, yaitu suatu penafsiran dalam bidang ilmu hukum yang menghubungkan suatu ayat dengan ayat-ayat lainnya yang berkedudukan berurutan, maka dapat ditafsirkan bahwa ayat yang timbul belakangan mencakup atau meliputi atau merengkuh pengaturan ayat-ayat terkait sebelumnya. Dengan demikian, ayat 185 merupakan ayat payung atas ayat-ayat 183 dan 184 di bawahnya atau sebelumnya. Artinya, ayat 185 merengkuh atau berlaku bagi seluruh ketentuan yang terdapat dalam ayat 183 dan 184.

 

Konstruksi syarah: Dengan demikian, terhadap kalimat di ayat 183, yaitu “….diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu…” maka dalam perspektif Al Qur’an terkonstruksi bahwa kewajiban berpuasa atas orang-orang terdahulu (sebelum kamu) juga diperintahkan di bulan Ramadhan. Disamping phrase kalimat  “….diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu…” merupakan kalimat tunggal atau tidak terpisahkan.

Dengan demikian, kewajiban berpuasa yang diperintahkan Allah bagi umat-umat terdahulu sebelum masa kerasulan Nabi Muhammad saw adalah juga pada bulan Ramadhan.

 

Ayat selanjutnya, yaitu Al Baqoroh ayat 186 memberi petunjuk bahwa bulan Ramadhan merupakan bulan yang sangat istimewa, di mana Allah menyampaikan melalui Nabi Muhammad saw, bahwa : “Dan apabila hamba-hambaKu bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah) bahwasanya Aku adalah dekat, Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku….”

Ayat 186 ini menunjukkan secara gamblang, betapa Allah swt sangat mengistimewakan bulan Ramadhan, sehingga Dia mengabarkan kepada hamba-hambaNya agar meminta apa saja kepadaNya, dan Dia akan mengabulkannya. Dia mendengar segala apa yang menjadi kata hati kita, karena Dia dekat.

 

Allah swt berfirman: “Semua amal perbuatan anak Adam adalah miliknya, kecuali shaum (puasa), karena sesungguhnya (amal) shaum hanyalah kepunyaanKu, Akulah yang akan memberi pahalanya” (Dari ayat Qudsi sebagaimana disabdakan oleh Rasulullah dan diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim melalui Abu Hurairah r.a).

“Apabila bulan Ramadhan tiba, maka pintu-pintu langit dibuka, pintu-pintu neraka jahannam ditutup, dan setan-setan dibelenggu dengan rantai’. (HR Syaihan)

 

Dengan demikian, ayat 185 dan ayat 186 menjadi “ayat-ayat roh shaum Ramadhan” karena kedudukan dua ayat ini diapit oleh ayat-ayat 183, 184 dan 187.

 

e}Agar kamu bertaqwa                       

Taqwa menurut bahasa berarti takut kepada Allah. Sedang menurut istilah taat akan perintah dan larangan Allah. Tujuan puasa ialah terbentuknya manusia bertaqwa, yaitu taat pada perintah dan larangan Allah, sehingga tercapai kondisi di mana manusia kembali pada fitrahnya, yaitu suci, bersih rohani sebagaimana saat dilahirkan. Allah menginginkan manusia kembali pada kondisi suci, dikarenakan sifat mahapengasih dan mahapenyayang Allah agar manusia dapat kembali ke tempat asal mulanya, yaitu surga.

Rasulullah bersabda, bertaqwalah kalian kepada Allah, dirikanlah sholat 5 waktu, kerjakanlah shaum sebulan, bayarlah zakat harta benda dengan hati yang tulus, dan taatilah orang yang memerintah urusan kalian, niscaya Allah akan memasukkan kalian ke dalam surga. (HR Hakim melalui Abu Hurairah r.a)

 

Penutup

Demikianlah penelaahan deskripsi atas ayat-ayat puasa yang terdapat dalam Al Qur’an Surat Al Baqoroh ayat 183 hingga 187.

“Barangsiapa siapa dikehendaki baik oleh Allah, niscaya Dia menjadikannya memahami masalah agama”. (HR Mu’awwiyah)

Kebenaran yang sempurna hanyalah milik Allah, sebaliknya kekurangan yang ada tentu senantiasa melekat pada diri manusia yang memiliki sifat duafa.

(Sanusi Arsyad)

 

Tinggalkan sebuah Komentar »

Belum ada komentar.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: