Atmosfir

Januari 30, 2013

Jakarta sebagai Ibukota Negara Sebuah “Keterlanjuran Geografis Kolonialis”

Filed under: Sosial — arsyad1952 @ 8:15 am

Jakarta sebagai Ibukota Negara

Sebuah “Keterlanjuran Geografis Kolonialis”

 

 

Lepas banjir 2013, muncul kembali wacana apakah mendesak memindahkan ibukota negara RI dari Jakarta?

Jakarta sebagai ibukota negara RI tidak dapat dilepaskan dari sejarah panjang kehidupan kelam nusantara di mana Batavia dijadikan Belanda sebagai basis dan pusat pemerintahan kolonial dalam menjajah negeri-negeri di seluruh nusantara. Bermula dari VOC (Belanda) menguasai Jayakarta dengan pelabuhannya yang strategis, Sundakelapa, di pertengahan abad 17 melalui tipu daya. Sejak itu Belanda bercokol di Batavia hingga datangnya invasi Jepang tahun 1942.

Dengan demikian, pemilihan Jakarta sebagai ibukota negara RI berikut kelengkapan infrastruktur warisan kolonialnya merupakan “sebuah keterlanjuran geografis kolonialis”.

Harus kita akui, secara etimologis kebangsaan, belum terfikirkan mencari ibukota negara yang sesuai dengan karakter perjuangan bangsa dan dasar ideologi Pancasila. Menjadikan Jakarta sebagai ibukota negara RI, pada hakekatnya bersifat “darurat” dengan dasar argumentasi bahwa segala penetapan kebangsaan dilakukan dan bersifat darurat dan sementara oleh karena perjuangan bangsa pada waktu itu lebih difokuskan pada upaya memerdekaan bangsa dan tanah air dari cengkeraman penjajahan yang amat menyengsarakan rakyat Indonesia selama berabad-abad. Bahkan terhadap UUD 1945 sebagai undang-undang dasar negara RI yang ditetapkan tanggal 18 Agustus 1945, Soekarno menyebutnya sebagai UUD sementara dan kilat karena ditetapkan dalam keadaan darurat.

Memindahkan ibukota negara dalam pengalaman banyak negara, bukanlah hal yang asing. Begitu pula dalam sejarah kerajaan di tanah air. Pertimbangan utamanya antara lain karena factor pengamanan territorial, strategi pencapaian pertumbuhan ekonomi dan perdagangan, kerawanan alam, perataan penyebaran penduduk (hankamrata), dan lainnya. Namun ukuran yang lebih penting ialah bagaimana mencari lokasi areal territorial yang tepat dan terbaik yang sesuai dengan karakter dan visi kebangsaan, apakah negara itu berwatak maritime, agraris atau industry, ataukah mencakup ketiga-tiganya.

Jakarta kini tak lagi ideal sebagai ibukota negara. Banjir dan kemacetan lalulintas menjadi momok yang amat menguras energy. Berapa banyak kerugian moriel dan materiel (ya BBM, waktu produktif, tenaga dan fikiran) setiap harinya akibat macet jalan raya. Begitu pula banjir yang hamper setiap tahun melanda dan semakin parah akibat permukaan yang amblas, lahan kritis, banjir limpahan dan rob. Kehidupan Jakarta yang liberalis, westernis dan individualis hanya menciptakan ibukota penuh dengan lahan korupsi. Dari sisi penduduk, hamper dari seluruh penjuru tanah air, membanjiri Jakarta guna mengadu nasib. Dapat dipastikan, dalam waktu dekat ke depan, seluruh energy nasional akan dihabiskan hanya untuk menyelamatkan Jakarta. Kondisi Jakarta dapat menjadi pemicu negara gagal.

Tidak ada pilihan lain, ibukota negara harus sudah hengkang dari Jakarta. Ini kalau kita cinta pada proklamasi 17 Agustus 1945 yang dikumandangkan oleh bapak-bapak bangsa kita. Terkecuali kalau kita ingin meneruskan tradisi colonial menghisap darah anak bangsa. Sumatera, Kalimantan, Papua atau Sulawesi banyak tempat ideal untuk dijadikan ibukota. Revolusi hijrah harus sudah dilakukan, dari lokasi pusat eks (warisan) pemerintahan colonial ke tempat perwujudan Pancasila. Hayo bangsaku, jangan takut !! (Sanusi Arsyad)

Tinggalkan sebuah Komentar »

Belum ada komentar.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: