Atmosfir

Januari 19, 2013

MENYELAMATKAN MPR

Filed under: Politik — arsyad1952 @ 10:28 am

Menyelamatkan MPR

 

Amandemen UUD 1945 (selanjutnya disebut UUD 1945 Baru) mengubah pelaksanaan kedaulatan rakyat dari semula dilakukan sepenuhnya oleh Majelis Permusyawaratan Rakyat / MPR (pasal 1 ayat 2 UUD 1945 Lama), menjadi dilaksanakan menurut undang-undang dasar (pasal 1 ayat 2 UUD 1945 Baru). Pengubahan ini mengundang konsekuensi MPR tidak lagi sebagai “penjelmaan seluruh rakyat Indonesia”, dan tidak lagi berkedudukan sebagai lembaga tertinggi negara yang membawahi lembaga-lembaga tinggi negara (Presiden, DPR, MA, DPA dan BPK). Karena UUD 1945 Baru tidak lagi menganut system ketatanegaraan vertical, maka dengan demikian MPR “menyesuaikan” kedudukannya menjadi lembaga tinggi negara setara dengan lembaga-lembaga tinggi negara lainnya.

Sejak merdeka, Indonesia mengaskan kedaulatan berada di tangan rakyat. Artinya kekuasaan tertinggi atas negara berada di tangan rakyat. Rakyat berkuasa penuh atas negara ini. Rakyat sebagai pemilik dan penentu nasib negara. Tapi tentu saja rakyat tak bisa berbuat begitu saja tanpa aturan, karena konstitusi juga menegaskan Indonesia adalah negara hokum. Antara kedaulatan rakyat dan negara hokum bagai dua sisi dalam satu koin mata uang yang sama. Sistem demokrasi perwakilan mendelegasi kedaulatan rakyat menjadi otoritas-otoritas kekuasaan negara yang terdiri atas kekuasaan legislative, eksekutif dan yudikatif. Pendelegasian kedaulatan dilakukan melalui pemilihan umum langsung legislative dan pemilihan umum langsung eksekutif (pilpres dan pilkada-pilkada). Selanjutnya pemenang hasil pemilu legislative dan pemilu eksekutif (pilpres) mengemban otoritas memilih pelaksana kekuasaan yudikatif. Inilah makna circle aturan main konstitusi mengenai implementasi kedaulatan rakyat yang berusaha dicover oleh UUD 1945 Baru melalui frase “kedaulatan berada di tangan rakyat dan dilaksanakan menurut undang-undang dasar”.

Era reformasi diupayakan terus-menerus memperkuat struktur perwujudan kedaulatan rakyat melalui hal-hal yang bersifat langsung oleh rakyat dengan meminimalisir hal-hal yang bersifat perwakilan. Antara lain, Presiden tidak lagi dipilih oleh MPR tapi oleh rakyat. Pemilihan wakil rakyat tidak lagi mencontreng tanda gambar parpol, tapi memilih langsung nama dan foto wakil rakyat. Gubernur dan bupati/walikota tidak lagi ditentukan oleh Presiden, tapi langsung dipilih oleh rakyat. Hanya saja reformasi belum menyelesaikan masalah kuatnya dominasi partai politik dalam demokrasi tanpa verifikasi yang jelas terhadap kedaulatan rakyat. Sebab tanpa verifikasi yang jelas berarti akan sama saja memindahkan makna frase dari “kedaulatan berada di tangan rakyat dan dilakukan sepenuhnya oleh MPR”, menjadi “kedaulatan berada di tangan rakyat dan dilakukan oleh partai politik”. UUD 1945 Baru mengindikasi hal demikian.

 

Tentang MPR

Selain mengubah pasal 1 ayat (2) UUD 1945 Lama, amandemen tidak mengubah hal-hal substantive dan prinsip mengenai MPR. Komposisi anggota MPR masih terdiri anggota DPR dan Dewan Perwakilan Daerah / DPD (sebelumnya Utusan Daerah /UD dan Utusan Golongan /UG). Hanya bedanya, bila UD dan UG ditetapkan melalui pengangkatan Presiden dan tidak memiliki kamar sendiri di dalam lembaga perwakilan, sedangkan DPD ditetapkan melalui pemilu legislative dan berfungsi sebagai kamar kedua di lembaga legislatif. MPR sendiri, baik menurut UUD 1945 Lama maupun UUD 1945 Baru, tidak memiliki keanggotaan mandiri.

Yang menjadi permasalahan, karena MPR di bawah UUD 1945 Baru tidak lagi menjadi lembaga tertinggi negara, tidak memiliki anggota mandiri yang dipilih melalu pemilu dan sidangnya hanya lima tahun sekali, apakah keberadaannya tidak menimbulkan kesan sebagai lembaga mubazir dalam system ketatanegaraan Indonesia? Sejumlah ahli hokum tatanegara memandang MPR tidak lebih lembaga “joint session” antara DPR dan DPD hanya pada saat pengambilan sumpah Presiden dan Wakil Presiden. Sama seperti Congress di AS tempat berkumpulnya Senate dan House od Representative pada saat pengambilan sumpah Presiden, setelah itu bubar.

Harus diakui, MPR dulu dan MPR sekarang sama-sama macan ompong, tidak ada taringnya. MPR dulu, berada di bawah kendali presiden, baik semasa Presiden Sukarno maupun Presiden Suharto. MPR mengangkat Sukarno sebagai Presiden seumur hidup. Begitu juga terhadap Suharto (melalui pemilihan calon tunggal terus-menerus). Dengan demikian, MPR sebagai lembaga pelaksana sepenuhnya kedaulatan rakyat dan penjelmaan seluruh rakyat Indonesia, hanya omong kosong. Secara realitas, MPR terjerembab di bawah kekuasaan eksekutif. Kini, taring MPR betul-betul telah dicabut oleh UUD 1945 Baru. MPR telah menjadi macan ompong betulan. MPR telah menjadi lembaga tinggi negara protokoler dan seremonial. MPR hanya lembaga prestige, tempat kongkow-kongkow anggota DPR dan DPD beserta Presiden/Wakil Presiden pemenang pilpres.

Menurut saya, MPR masih bisa “diselamatkan” sebagai representasi kedaulatan rakyat, asal saja dipenuhi beberapa syarat :

  1. MPR memiliki anggota sendiri yang harus dilepaskan dari keanggotaan DPR dan DPD.
  2. Jumlah anggota MPR cukup 300 hingga 500 orang.
  3. Anggota MPR dipilih melalui pemilihan umum seperti yang pernah dilakukan oleh pemilu 1955 dalam memilih anggota-anggota Dewan Konstituante.
  4. Calon anggota MPR berasal dari akademisi, kaum cerdik cendekiawan, budayawan dan negarawan.
  5. MPR mengawasi DPR, DPD, MK, BPK, Presiden, MA, KY, Ombudsman, Komnas HAM.

Tentu saja bila pemikiran ini diterima, UUD 1945 memerlukan pengubahan kembali. (Sanusi Arsyad)

Tinggalkan sebuah Komentar »

Belum ada komentar.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: