Atmosfir

Oktober 26, 2012

KRITIK DAN MASUKAN BAGI JOKOWI AHOK

Filed under: Sosial — arsyad1952 @ 11:38 am

Kritik dan Masukan bagi Jokowi Ahok

 

Oleh: Sanusi Arsyad

 

Bukan hanya masyarakat DKI Jakarta saja, tetapi juga kini seluruh rakyat Indonesia mengawasi sepak terjang Jokowi-Ahok dalam memimpin Jakarta. Ada dua alasan besar yang melatar belakanginya.

Pertama, postur Jokowi dan tebar pesonanya yang kerakyatan dan sederhana, telah menjadikan rakyat Jakarta kepincut, khususnya dari kalangan menengah ke bawah, yang selama ini terpinggirkan oleh ganasnya elitisme ibukota, menaruh harapan besar akan datangnya sang pembela, yang akan mengangkat mereka dari lembah keterpurukan hidup. Jokowi bagai Ratu Adil yang diutus penguasa Pulau Jawa, untuk membenahi dan memberikan keadilan bagi penduduk miskin Jakarta.

Kedua, janji-janji Jokowi yang terang-terangan pro rakyat miskin Jakarta yang disampaikan semasa kampanye pilgub DKI Jakarta 2012, mengundang arus gelombang timbulnya tuntutan pembuktian kenyataan, bahwa keberpihakan terhadap si miskin tidak boleh hanya sebatas orasi. Sebab jika tidak, rakyat miskin lagi-lagi dibohongi, janji hidup sejahtera cuma iming-iming, padahal realisasinya sulit dilaksanakan karena memang secara akal sehat tidak mungkin bisa dilakukan. Misalnya mengatasi kemacetan di tengah pertumbuhan kendaraan yang tidak terkontrol, sedang di lain pihak space lahan jalan raya mengalami kejenuhan, selain Jakarta setiap hari menjadi serbuan pendatang dari seluruh Indonesia untuk mengadu nasib. Juga dalam mengatasi banjir, bagaimana Jakarta dapat menghindari dari banjir mengingat Jakarta menjadi muara aliran banjir provinsi tetangganya, selain perilaku penduduk DKI sendiri yang membuang sampah seenaknya mengingat mereka merasa DKI bukanlah kota mereka melainkan cuma kota pengadu nasib yang dengan segala cara harus dilakukan. Jika saja Jokowi berhasil mensejahterakan rakyat miskin dan menjadikan Jakarta tambah nyaman, apakah tidak akan mengundang semakin berduyun-duyunnya orang dari seluruh Indonesia untuk mencari kehidupan di Jakarta?

Tapi rakyat miskin mana tahu kalau janji Jokowi tidak mungkin dapat dipenuhi, oleh karena yang dipegang oleh si rakyat miskin Jakarta adalah ucapan yang dilontarkan oleh Jokowi, dan sebagai imbalannya rakyat miskin Jakarta telah membayar kontan dengan memberikan suaranya bagi Jokowi-Ahok. Tinggal kini bagi Jokowi Ahok untuk melaksanakan take and give-nya dengan mewujudkan segala apa yang dijanjikan selama masa kampanye. Jika saja Jokowi-Ahok gagal dan tidak mampu memenuhi hutangnya kepada masyarakat Jakarta, maka Jokowi Ahok sama saja dengan politisi-politisi lainnya yang pernah dan suka membohongi rakyat demi jabatan kekuasaan yang didewakannya.

Salah satu janji Jokowi pro rakyat miskin adalah janji membangun Jakarta tidak memulai start dari atas atau pusat kota, tapi dari bawah alias perkampungan kumuh. Dalam persepsi Jokowi, kemampuan kontribusi DKI haruslah dicurahkan bagi pembangunan infrastruktur lapisan mayoritas karena pada lapisan inilah dahaga akan pembangunan kesejahteraan mengalami kondisi yang amat parah. Tetapi Jokowi tidak boleh melupakan, kondisi social ekonomi di lapisan ini tidak dapat dilepaskan dari Jakarta sebagai kota terbuka dan lebarnya jurang perbedaan pembangunan antara ibukota dan daerah-daerah. Konsep pilkada di daerah-daerah ternyata tidak mampu mengerem laju urbanisasi penduduk ke Jakarta.

Sehubungan dengan usaha pemenuhan janji Jokowi, kita melihat seusai dilantik sebagai Gubernur DKI Jakarta, Jokowi seperti lari, berpacu dengan waktu, masuk kampong ke luar kampong, sidak sana sidak sini. Lurah, camat, walikota langsung dikumpulkannya, diceramahi agar terjalin satu bahasa dalam menjadikan Jakarta Baru. Yang membuat saya terkejut, ancaman pun sudah dikeluarkan Jokowi, bagi lurah camat yang tidak bisa ikut irama Jokowi, akan dicopot, dipecat, apa boleh buat, kata Jokowi. Hal ini tidak sesuai dengan pidato Jokowi, agar lurah camat jangan tegang, tersenyumlah. Tapi saya lihat Jokowi sendiri malah yang tegang. Dengan berkata begitu, Jokowi tampaknya ingin menutup rasa tegangnya sendiri. Demikian pula dengan Ahok, dia sudah memarahi di depan umum staf notulennya yang masih mencatat notulasi dengan ballpoint di tangan, bukan dengan laptop. Pemimpin yang bijak akan selalu memuji bawahannya. Jika pun pekerjaan bawahannya dirasakan kurang berkenan, pemimpin tetap apresiatif, dan meluruskan dan mendidik pada kesempatan yang terbaik. Sikap terbuka Jokowi dan Ahok seperti itu bagi seorang pemimpin, apalagi masih dalam phase transisi dan penyesuaian, sangat riskan, oleh karena akan mengundang penilaian bahwa sifat aslinya yang buruk menyembur keluar. Sehingga sifatnya yang tebar pesona semasa kampanye hanya rekayasa, pencitraan.

Saya kira, mestinya Jokowi Ahok, karena sudah kepalang umbar janji, memang wajib dipenuhi. Karena janji adalah hutang. Apalagi masyarakat Jakarta sudah membeli tunai dengan memberikan suara pada Jokowi Ahok sehingga menang pilgub DKI Jakarta. Pemenuhan janji mestinya tetap diusahakan dalam keadaan normal, tidak tegang, sistematis dan terstruktur. Ajaklah masyarakat Jakarta dan seluruh aparatur birokrasinya dengan taktik mengambil hati sehingga secara spontan timbul partisipasi pembangunan secara aktif dan massal. Jangan masih baru saja sudah diawali dengan rasa tegang dan suasana emosi. Jangan pikiran dipenuhi oleh beban target bahwa janji kampanye harus bisa direalisasi, kalau perlu dalam waktu singkat. Jika pun janji tak bisa dipenuhi, Jokowi tidak perlu kecil hati. Oleh karena partisipasi spontan masyarakat pun akan mengakui memang janji itu tidak bisa dipenuhi, bahkan oleh malaikat sekalipun. Cobalah tiru dan terapkan falsafah tut wuri handayani dari Ki Hajar Dewantara.

Jokowi ingin kantor lurah, camat dan dinas-dinas pelayanan masyarakat seperti bank, disiplin, ramah, santun, dan buka tutup sesuai jamnya. Sebelum jam 8 pagi, lurah, camat beserta stafnya sudah standby di kantor. Begitu juga pada saat tutup jam kantor, disiplin. Tapi Jokowi lupa, bahwa Jakarta bukanlah Tokyo atau Washington. Budaya kantor lurah camat di Jakarta dan tentu saja di kota-kota lainnya, tidak jauh berbeda dengan kantor-kantor kementerian negara lainnya.

Seorang gubernur haruslah seperti manager, yang mengkoordinasi dengan baik, rapi dan kompak seluruh jaringan sumber daya yang dimilikinya. Tidak harus gubernur kontrol langsung, masuk kampong ke luar kampong. Cukup SDM-nya saja yang bekerja. Betapapun kepercayaan harus diberikan. Jangan gubernur nongkrong di warung kopi pasar, atau sarapan nasi uduk di gang sempit. Sebab munculnya perbaikan tidak bisa didongkrak dari situ. Jabatan gubernur adalah jabatan intelektual, professional sekaligus negarawan. Jokowi boleh bilang, suka-suka saya. Tapi Jokowi harus ingat, Jakarta bukan Solo. Bila Solo monolog, maka Jakarta heterolog. Bahkan Jakarta kota megapolis, sebuah ibukota negara yang harus berstandar internasional. Jakarta mewakili harkat dan martabat negara.

Jakarta juga adalah kota pluralistic, dengan budaya yang sudah amat majemuk. Seribu satu sifat dan karakter social penduduknya telah menjadikan DKI Jakarta kaya akan keragaman. Pemimpin yang mafhum dan bijak mampu menjadikan keragaman sebagai potensi luarbiasa membangun Jakarta. Membangun Jakarta tidak hanya mensejahterakan orang miskin, tapi juga menyamankan orang kaya. Mensejahterakan orang miskin tidak mungkin dapat dilakukan tanpa menyamankan orang kaya. Orang kaya jangan dimusuhi, tapi harus dirangkul, perlakukan mereka sebagai mitra.

Saya tidak ingin, dalam memenuhi janji kampanye Jokowi main pecat main copot. Cobalah tiru presiden SBY yang amat menghindari pencopotan menterinya, sekalipun presiden memiliki hak prerogatif, walaupun menteri berasal dari swasta perseorangan. Saya tidak dapat membayangkan alangkah sakitnya yang bersangkutan yang pegawai pemda DKI dan juga anggota keluarganya jika yang bersangkutan dicopot sebagai lurah atau camat hanya karena tidak bisa mengikuti irama kerja Jokowi Ahok. Begitu saja.

Tinggalkan sebuah Komentar »

Belum ada komentar.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: