Atmosfir

Desember 29, 2011

PILPRES 2014, KISAH RAKYAT JADI RAJA SEHARI

Filed under: Sosial — arsyad1952 @ 12:31 pm
Pilpres 2014, Kisah Rakyat jadi Raja Sehari

Pemilihan pasangan Presiden dan Wakil Presiden RI (Pilpres) tahun 2014, masih dua tahun lagi. Tapi para elit (partai) politik di negeri ini, sudah super sibuk. Mereka sudah mulai mengelus-elus jagonya. Persaingan di Pilpres 2014 yang bakal memicu naiknya suhu politik, tentu bakal sengit, mengingat pintu kesempatan bagi incumbent sudah tertutup sama sekali. Sepuluh tahun jadi presiden dipandang UUD 1945 hasil amandemen dirasakan sudah cukup. Tidak perlu sampai 30 atau 40 tahun memerintah. Pengalaman menunjukkan ujung-ujungnya menjadi pesakitan. Regenerasi jadi prioritas utama. Tapi dasar sifat manusia yang selalu haus dan rakus kekuasaan, rasanya belum pernah terjadi di negeri ini seorang pejabat negara yang legowo menyatakan, “walau undang-undang memberi kesempatan hingga dua periode, tapi saya cukup satu periode saja memegang jabatan”.

Cobalah kita amati, mulai dari jabatan lurah, bupati, gubernur hingga presiden, selalu merasa tidak puas dengan satu periode saja. Kalau perlu jabatan dipegangnya seumur hidup. Soekarno dan Soeharto juga tidak luput, malah memberi contoh. Barangkali jika UUD 1945 tidak diamandemen, SBY juga begitu, bakal maju terus, mari bung rebut kembali. Itulah sebabnya, mengapa negara ini tak maju-maju, karena pemimpinnya haus kekuasaan.

Pemilihan Presiden langsung oleh rakyat, baru dimulai pada pilpres tahun 2004. Rakyat memilih langsung presidennya. Tidak lagi diwakili oleh MPR. Terpilih SBY dua periode (2004 dan 2009) yang secara politik mengusung stempel legitimasi kehendak rakyat.

Menurut teorinya, sistem pemilihan langsung bagi seorang presiden yang juga kepala negara adalah suatu upaya mengembalikan kedaulatan negara ke tangan rakyat, tidak lagi dilaksanakan sepenuhnya oleh MPR. Dan ini adalah suatu bentuk pengakuan bahwa sesungguhnya rakyatlah yang berkuasa atas negeri ini, rakyatlah sebagai pemilik sah atas negeri ini.

Di sisi lain dipilihnya presiden secara langsung oleh rakyat adalah suatu mandat bahwa presiden terpilih memperoleh kepercayaan untuk mengelola negeri ini. Sebaliknya bagi presiden terpilih merupakan suatu amanah tertinggi bahwa ia harus melaksanakan amanah itu dengan sebaik-baiknya, dengan segala konsekuensinya,

Hanya saja memang demokrasi itu tidak berarti tidak mengemban cacat bawaan. Karenanya menjadi (terpaksa) harus diakui, ia tidak dapat menampilkan bentuk kesempurnaan. Termasuk di dalamnya pemilihan presiden langsung oleh rakyat. Itulah sebabnya mengapa cacat bawaan ini kerapkali dijadikan alasan pembenar, mengapa calon yang maju dan dipilih langsung oleh rakyat bukan berasal dari hasil pilihan dan usulan rakyat, tapi harus disaring lebih dulu oleh yang namanya kelompok elit politik. Sehingga dalam kondisi begini timbul kesan: rakyat boleh pilih langsung presidennya, tapi yang menentukan calon-calonnya tetap harus dari saya. Pengertian “saya” di sini adalah yang memiliki kekuasaan untuk mengatur dan menentukan. Di sini berarti demokrasi sudah harus takluk. Kedaulatan rakyat mau tidak mau mesti mau dibelenggu oleh tirani “teori pembenaran demokrasi”. Dan itu berarti substansi pemilihan langsung oleh rakyat itu sudah dikebiri, sudah disunat habis-habisan. Anda boleh pilih langsung, tapi calon-calonnya harus saya yang menentukan, ya…

Dalam wajah acting seremonial, pada saat digelarnya pemilihan langsung oleh rakyat itu, karena katanya rakyat adalah sebagai pemilik sah negara, maka rakyat rame-rame oleh elit didaulat jadi Raja, jadi Baginda (walau cuma sehari). Semua calon presiden terbungkuk-bungkuk minta doa restu, minta dukungan, minta dipilih, saling cari muka pada Sang (Rakyat) Baginda supaya diberikan kepercayaan menjadi presiden, seraya bersumpah tak habis-habis akan memakmurkan rakyat dan anak cucunya hingga tujuh turunan. Tapi setelah jadi Presiden, rakyat tidak hanya dilupakan, malah dihajar, digebukin oleh para hulubalang negara dengan alasan karena rakyat berbuat anarkhis. Rakyat sendiri tidak tahu apa itu anarkhis. Yang rakyat tahu, kehidupan kok jadi makin susah. Mana itu janji Presiden? Karena makin terus terpinggirkan, malah hampir nyemplung ke laut, rakyat lalu mengamuk. Nah karena mengamuk ini lalu dituduh anarkhis. Singkat cerita, rakyat digebukin, diseret-seret, ditendang, diinjak-injak, bahkan ditembak. Inilah sebuah tragedi rakyat anak kandung Ibu Pertiwi.

Barangkali simplifikasi pemilihan presiden langsung oleh rakyat dapat diwujudkan dalam lenong Betawi lakon “Raja Sehari” seperti cerita di bawah ini :

ALKISAH, sang (Rakyat) Baginda untuk satu acara santap siang kenegaraan, disajikan tiga, empat atau lima jenis menu makanan (personafikasi capres) yang sangat istimewa. Juru masaknya tak tanggung-tanggung berasal dari para koki terkemuka kerajaan yang tergabung dalam Komisi Perkokian Ulung (KPU). Sebelum memilih santapannya Sang Baginda yang tak mengerti istilah komisi bertanya, mengapa kalian pakai istilah komisi untuk himpunan para koki. Sebab menurut jalan pikiran Baginda yang awam, istilah komisi tak ubah calo yang minta uang jasa atau cari uang lebih untuk satu urusan.

Pertanyaan ini dijawab oleh petinggi KPU bahwa dipakainya istilah komisi semata-mata pertimbangan ilmiah guna memperlihatkan posisi independensi sehingga penilaian atas hasil kerja yang telah dilakukan betul-betul “final dan mengikat”.

Sang (Rakyat) Baginda manggut-manggut tak mengerti. Lalu bertanya lagi, kenapa cuma 3, 4 atau 5 jenis menu makanan saja yang disajikan. Padahal jenis menu makanan standar kerajaan jumlahnya puluhan, bahkan ratusan.

Petinggi KPU menjelaskan lagi: “Ampun gusti Baginda. Adapun 3, 4, 5 jenis menu makanan yang kami sajikan semata-mata hasil penelitian gizi yang amat ketat dari para koki nomer wahid. Sehingga menu makanan manapun yang Gusti santap pasti mendatangkan kesejahteraan, segar bugar, rohani dan jasmani, makmur jebar-jebur”.

Lagi-lagi raja cuma bisa manggut-manggut. Kemudian diamatinya lagi dengan teliti satu-persatu 5 jenis menu makanan yang tersedia itu. Tiba-tiba saja raja tersontak kaget, lho mengapa jenis menu makanan yang menjadi kesukaanku tidak kalian sediakan di sini?

Sang koki bertanya, jenis menu makanan apa yang menjadi kesukaan Baginda? Raja menyebutkan menu kesukaannya terdiri atas nasi liwet, semur jengkol, tahu bacem, teri medan, sambel petis ….. dan seterusnya.

“Ampun Gusti, berdasarkan pemeriksaan Ikatan Para Tabib Kerajaan ternyata jenis menu yang menjadi kesukaan Baginda tidak hiegenis sama sekali”, ujar petinggi KPU.

Lagi-lagi Sang (Rakyat) Baginda tidak berkutik (dalam hati tak percaya, nyatanya gua sehat). “Sudah, sudah, kalian pergi sana,” usir raja kesal. Diamatinya kembali 5 jenis menu makanan yang tersaji itu. Di dalam benaknya Raja berkata, kalau gua makan pasti perut gua mual, muntah-muntah. Gimana kalau gua tidak santap, nggak jadi masalah barangkali. Paling-paling resikonya gua lapar. Tapi toh gua sudah terbiasa puasa. (Sementara dari balik kain gordin, rombongan KPU mengintip kepingin tahu menu makanan nomor berapa yang disantap Sang Rakyat Baginda. Nomor 1, 2, 3, 4 atau 5). Dan cerita satu babakpun selesai. (Sanusi Arsyad)

 

Tinggalkan sebuah Komentar »

Belum ada komentar.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: