Atmosfir

Oktober 25, 2011

TUHAN, MENGAPA INDONESIAKU MENJADI BEGINI ?

Filed under: Budaya — arsyad1952 @ 5:04 am

INDONESIA DIRUNDUNG BENCANA

Negeri nusantara ini tak lepas senantiasa dirundung malapetaka, diguncang pelbagai bencana. Tsunami menelan ratusan ribu jiwa anak manusia. Lumpur Lapindo terus menggelegak tak henti, memisah perut tanah Jawa menjadi lautan. Gempa bumi silih berganti mengundang ratap tangis anak negeri. Letusan gunung berapi satu persatu meluapkan amarahnya membakar lingkungan hidup tanpa kenal belas kasihan. Banjir bandang, tanah longsor, musibah demi musibah, bencana demi bencana, terus susul-menyusul seakan tidak kenal lelah. Belum lagi pergolakan etnik, separatisme, perang antar suku, tawuran yang memercikkan pertumpahan darah, seakan menambah sempurna kehancuran bangsa dan negeri ini. Tinggallah rakyat nusantara yang miskin tergolek pasrah seakan tanpa lagi ada harapan. Mengapakah negeriku ini begini ? Inikah azab Tuhan akibat dosa bangsa ini tak lagi terampuni? Inikah azab Tuhan akibat bangsa ini telah menuhankan harta kekayaan, pangkat, jabatan dan kedudukan? Inikah azab Tuhan karena manusia tidak lagi percaya pada adanya kehidupan setelah mati, mempersetankan tuhan dan manusia hanya memuaskan hawa nafsu dan nafsu syahwatnya mumpung hawa nafsunya itu masih membara dan berkobar-kobar? Maka murkalah Tuhan, rasakanlah hai manusia bahwa kematian telah merenggut nyawamu, dan rasakanlah azab pedih atas segala perbuatanmu yang melakukan pengrusakan di atas permukaan bumi. Adakah kau bawa harta kekayaan yang kau tumpuk-tumpuk di gudang emasmu? Adakah masih kau banggakan rumah-rumah dan mobil mewah, perhiasan permata kilau-kemilau dan jabatan kesultanan yang membuatmu sombong? Semua itu tidak sama sekali !!

Semasa kecil, kita sering diberi contoh teladan oleh orang-orangtua kita yang tidak segan-segan memungut walau sebatang paku yang dijumpai di jalan. Paku itu oleh orangtua kita kemudian dibuang di tempat yang aman agar tak membahayakan pengguna jalan. Sebab jika paku itu terinjak dan tertusuk di telapak kaki, tentu akan sangat mencederai, dan dapat berakibat fatal kematian bila paku itu mengandung virus tetanus. Inilah filosofi keimanan dan kemanusiaan yang dicontohkan oleh orangtua kita, bahwa perbuatan mulia sekecil apapun yang kita lakukan, akan membuahkan pahala dan ganjaran kebaikan yang luarbiasa yang diberikan oleh Tuhan, baik di dunia maupun akhirat.

Tapi sekarang apa yang terjadi?? Masya Allah. Orang malah menyebarkan paku di jalan-jalan umum, sampai berkilo-kilo. Tujuannya apa? Tidakkah disadari bahwa perbuatannya itu mencelakakan manusia, menentang hukum Tuhan dan secara tidak langsung menantang Tuhan mengadu kekuasaan dengannya? Tidakkah terpikirlah olehnya, jika paku itu terpijak oleh pejalan kaki dapat menimbulkan kematian bila paku itu mengandung tetanus/ Tidakkah terpikirkan olehnya jika paku terlindas oleh pelintas sepeda motor yang tengah berlalu kencang akan berakibat fatal bagi si pengendara motor? Inilah contoh manusia yang tidak menggunakan akal fikirannya, yang tidak menggunakan hati nuraninya, yang otaknya sudah dicuci bersih oleh iblis bahwa jangankan dengan cara halal dengan jalan haram pun susah cari duit di zaman sekarang !!

Bencana terjadi karena manusia tidak puas-puas menumpuk harta kekayaan dan uang. Pelbagai cara dilakukan untuk memperoleh harta kekayaan dan uang dengan cara gampang dan mudah. Termasuk dengan cara halus mencuri dan merampok uang si miskin, uang si rakyat jelata. Pelakunya, tentu saja si orang kaya, si pengusaha yang sudah kaya raya. Salah satu cara yang sebenarnya sudah lama berlangsung ialah modus pencurian pulsa yang ada di ponsel-ponsel. Hampir setiap hari, dengan disadari atau tidak disadari oleh si pemilik pulsa ponsel, pulsa itu disedot secara rutin, hampir setiap hari. Jika pulsa yang disedot atau dicuri di setiap ponsel Rp 1.000 setiap harinya, berapa milyar rupiah yang diperoleh setiap harinya bila yang menjadi korban adalah jutaan pemilik ponsel yang tersebar di seluruh Indonesia. Inilah modus orang kaya yang pintar mencuri uang si miskin yang bodoh. Tidakkah si pelaku pencurian memiliki perasaan dan hati nurani bahwa si miskin agar pulsanya yang dibeli Rp 11.000 awet ia tidak menggunakan untuk berkomunikasi jika tidak perlu benar, tapi tahu-tahu pulsanya habis kering kerontang akibat dicuri / disedot oleh si pengusaha. Si miskin mau mengadu ke mana? Siapa yang harus diadukan? Alih-alih mengadukan, malah diadukan ke polisi pencemaran nama baik. Karena ketika ditanyakan buktinya mana, si miskin kebingungan mengajukan buktinya.

Ini adalah contoh kecil bahwa perbuatan zolim tengah marak berlangsung di negeri nusantara. Pemimpin yang tampil pun lahir dari proses suap, sogok, money politics dengan berkemas prosedur dan mekanisme demokrasi lewat pemilu dan pilkada-pilkada. Semua bersumber dan bermuara pada penuhanan terhadap harta kekayaan, jabatan, pangkat, kedudukan, dan hal-hal yang bersifat kemilau duniawiah. Si kuat, si kaya, si pengusaha tak lagi terpikirkan mensejahterakan buruhnya, karyawannya, selain memeras tenaganya, dan memberi upah yang sangat minim. Indonesia telah menjadi ladang yang subur bagi ekonomi neolib dan neokapitalisme.

Tuhan, Indonesiaku mengapa menjadi begini ?? (Sanusi Arsyad)

Tinggalkan sebuah Komentar »

Belum ada komentar.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: