Atmosfir

Juli 14, 2011

DI SUATU MALAM DI TANGGAL 13 MEI 1998, DI SEBRANG ISTANA MERDEKA

Filed under: Budaya — arsyad1952 @ 6:32 am

Di suatu malam tanggal 13 Mei 1998, disebrang Istana Merdeka

 

Tidak jauh dari pusat ibukota, jantung negeri tercinta

Sebuah bangunan tua peninggalan zaman kolonial berdiri tegak

Megah, angkuh

Tempat presiden rakyat memerintah

Orang menyebut Istana Merdeka

Namun dari sinilah awal pokok cerita bermula

 

Seiring kentong-kentong pos RW di kampung kumuh dipukul bertalu-talu

Laskar-laskar berserabutan, memencar bisu tanpa tujuan

Tanggal 13 Mei 1998, pukul nol nol

Dini hari yang misterius

Embun di luar mengguyur menambah kebekuan

 

Aku tersentak dari tidurku

Mimpi buruk membimbingku menyusuri lorong-lorong sunyi pekat

Langkah kakiku terhenti tak jauh dari gedung RRI

Istana kulihat diselimuti kabut

Tapi tak kulihat banyak tentara sebagaimana biasa

Ditinggalkan penghuninyakah ?

 

Dari pinggiran taman Monas, kupandangi Istana Merdeka

Ah, mengapa pemimpin negeri ini begitu bangga menapaki warisan kolonial ini

 

Ketika pikiranku menerawang, kuterkejut seseorang menyapaku

Di bawah temaram lampu remang-remang, kupastikan ia seorang lelaki tua

Eh, ia mengajakku bersalaman

Merdeka, Bung ! suaranya lirih

Merdeka ? Merdeka bung ?

Kutelisik raut wajahnya

Ia tersenyum

Aku tersentak kaget, mimpikah aku

Kulepas telapak tangannya yang dingin

Sedingin kujur tubuhku yang tiba-tiba saja menggelayut

Soekarnokah?

Tak sepatah kata pun ke luar dari mulutku, kecuali itu

Dan lelaki tua itu kembali tersenyum, dingin

Dengan bahasa isyarat, ia mengajakku berjalan bersama

Kami berjalan bersama, berjalan pelan-pelan

Aku, lelaki tua, dan bayang-bayang temaram lampu

Entah kenapa suasana hening

Di mana suara kentongan yang dipukul bertalu-talu tadi

Dari seberang jalan kami berpapasan dengan seorang lelaki pula

Wajahnya tak jelas karena ditutupi topi dan pakaian kusam model tahun 45

Lelaki tua di sampingku mendesis, Amir Syarifuddin

Amir Syarifuddin? Mr Amir Syarifuddinkah?

Tiba-tiba saja rasa takut yang menyelimuti diriku, tak bisa lagi kutahan

Di bawah ilusikah pikiranku malam ini?

Maka tak ayal, segera saja kutinggalkan lelaki tua itu

Kutinggalkan

Tinggallah dia sendirian

Yang masih menatap ke sebrang jalan.-

(Sanusi Arsyad)

 

 

 

Tinggalkan sebuah Komentar »

Belum ada komentar.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: