Atmosfir

Juli 8, 2011

INDONESIA NEGARA GAGAL ?

Filed under: Uncategorized — arsyad1952 @ 11:19 am

INDONESIA sebagai bangsa masih memprihatinkan. Negara yang kaya akan sumber daya alamnya, tapi tak cukup mampu mendongkrak rakyatnya hidup sejahtera. Kemiskinan masih melilit sebagian besar penduduknya. Begitu sulitnya mencari kehidupan di negeri sendiri, sampai-sampai para TKI yang umumnya kaum perempuan, rela dan terpaksa menjadi pembantu rumahtangga dan buruh kasar di luar negeri (Malaysia, Singapura, Arab Saudi, Taiwan, Hongkong). Tidak sedikit di antara mereka yang di penjara dan bahkan menjalani hukuman mati atas putusan pengadilan karena dituduh melakukan perbuatan kriminal berat di negara tempat mereka bekerja.

Apa sesungguhnya yang terjadi yang menimpah para TKI kita di sana, sehingga mereka, kaum perempuan kita di luar negeri, dituduh melakukan perbuatan pidana berat, sehingga mereka harus mati di ujung pidana pancung. Padahal, di negeri sendiri, mereka kita kenal sebagai kaum yang lemah, kaum yang tidak berdaya, kaum yang tidak haus kekayaan dan kekuasaam, sehingga untuk pengisian komposisi keanggotaan di DPR saja, kita meyediakan sedikitnya 30 % kursi bagi gender wanita. Sungguh teramat berat kehidupan para anak negeri yang di negeri mereka sendiri yang kaya raya, mereka tak dapat tempat untuk hidup.

Dipandang dari sudut social manapun, pekerjaan sebagai pembantu rumahtangga, tidaklah dapat dibilang terhormat, terpandang dan mulia. Apalagi sebagai pembantu rumahtangga di luar negeri. Di zaman kolonial Belanda, orang yang bekerja di pekerjaan ini dilecehkan dengan sebutan “babu”,  “jongos” atau “kacung”. Mereka ditempatkan pada strata social paling rendah di dalam tata pergaulan masyarakat sehari-hari. Setelah Indonesia merdeka, kita memulihkan harkat mereka atas dasar prinsip mereka adalah bangsa kita juga, yang secara konstitusional dan cita-cita kemerdekaan kita turut mengemban kewajiban mencerdaskan kehidupan bangsa. Tapi di luar negeri, siapa yang peduli pada nasib mereka? Apakah majikan-majikan mereka harus kita minta supaya peduli pada nasib dan HAM mereka?

Penghisapan manusia atas manusia, inilah yang terjadi !! Di luar negeri mereka mengalami penghisapan, di dalam negeri negeri mereka juga mengalami penghiasapan oleh bangsanya sendiri. Para calo, makelar dan tengkulak pengerah TKI ke luar negeri berkeliaran di desa-desa miskin mencari para calon TKI. Mereka disiapkan seadanya, gaji yang mereka terima dipotong, lalu sekembali mereka di tanah air hasil gaji mereka yang susah payah mereka kumpulkan dirampok. Ironisnya, setelah mereka diperah habis-habisan, mereka masih dijuluki sebagai para pahlawan devisa negara !!

Akibat fenomena kemiskinan sosial ekonomi yang parah, korupsi yang begitu marak, mental aparatur pemerintahan yang bobrok, moral aparatur penegak hukum yang korup, kepemimpinan dan kekuasaan negara yang lembek dan tidak berdaya, angkatan perang yang tidak mampu mengamankan wilayah territorial negara, semangat para cerdik cendekiawan dan ilmuwan yang skeptic, apatis dan pesimis, system birokrasi dan rekrutmen di segala bidang yang KKN, sogok dan suap, system pemilu yang sarat money politics, dan sebagainya, menjadikan ada yang mengkategorikan Indonesia sebagai negara gagal. Konsekuensi logisnya, karena bangsa ini tidak dapat lagi mengharapkan adanya manfaat dari negara, negara sebagai organisasi kesatuan kewilayahan dan kesatuan kebangsaan serta dibentuk atas dasar kesatuan keinginan bersama, mengalami keadaan kacau balau, salah urus, salah manajemen dan para pengurusnya melakukan perbuatan-perbuatan liar, maka untuk menyelamatkan bangsanya (rakyat) negara itu harus dibubarkan. Untuk selanjutnya diadakan komitmen baru, organisasi negara macam apa yang harus dibentuk kembali untuk menghindari terjadinya kembali negara gagal.

Vonis negara gagal tentu saja menyakitkan. Kita tidak mau, pengalaman sejarah Sriwijaya, Majapahit, Mataram sebagai contoh negara gagal, terulang kembali. Jika tidak, nama negara Indonesia niscaya cuma tinggal legenda, satu berkas arsip sejarah dengan Sriwijaya, Majapahit, Mataram di Arsip Nasional.

Sebagai bangsa yang punya harga diri dan masih punya rasa nasionalisme, tentu kita tak rela negara ini terjerumus pada negara gagal. Walaupun negara gagal tidak berarti bangsa yang gagal, karena negara adalah state, sebuah organisasi ideologis kebangsaan, sedangkan bangsa adalah nation, sebuah jatidiri genealogis, namun istilah negara gagal menyentuh langsung lemahnya bangsa di dalam mengelola kebutuhan kehidupannya.  Kongres Pemuda yang melahirkan Sumpah Pemuda di tahun 1928 adalah sebuah pernyataan kesatuan jatidiri genealogis (bangsa), tidak menunjuk pernyataan kesatuan organisasi ideologis (negara).

Kalau tidak salah Jenderal (Purn) Wiranto pernah menyatakan penolakannya. Katanya, Indonesia tidaklah negara gagal, tapi yang gagal adalah pemerintahannya. Saya kira pernyataan Wiranto lebih bersifat politis, hanya mendiskreditkan pemerintahan. Sebab cakupan negara meliputi pranata pemerintahan atau Presiden (eksekutif), parlemen (legislatif) dan pengadilan (yudikatif). Sehingga negara gagal meliputi gonjang-ganjing, carut marut, morat-marit atas ketiganya. Pada kondisi ini, pengelolaan di seluruh sendi eksekutif, legislatif dan yudikatif mengalami salah urus, bukan karena kesalahan dan kelemahan struktur organisasi negara (walaupun hal ini bisa terjadi), namun lebih akibat moral buruk pengelolanya (korup).

Saya sendiri tidak setuju negara gagal harus dengan cara membubarkan negara, karena hal itu sama saja membakar rumah (negara) yang telah dipenuhi tikus dan kecoa. Yang terbaik tentu saja dengan cara membunuh seluruh tikus dan kecoa tanpa terkecuali. Jangan sampai seekor tikus dan kecoa dibiarkan hidup, karena jenis hewan ini lekas sekali beranak pinak sehingga kelak mereporkan kembali. Dalam sejarah konvensional, cara demikian dikenal sebagai revolusi. Namun kini dalam perkembangan modern, cara revolusi direduksi melalui cara penegakan hukum yang keras. Yaitu hukuman mati bagi para koruptor, narkoba dan kejahatan berat terhadap negara. China, kendati telah melakukan revolusi rakyat membantai pemerintahan yang amat korup di tahun 1948, juga masih harus melakukan revolusi kedua berupa hukuman mati bagi para koruptor tanpa kompromi. (Sanusi Arsyad)

Tinggalkan sebuah Komentar »

Belum ada komentar.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: