Atmosfir

Juni 21, 2011

SEBUH OTOKRITIK ATAS KLUB ISTERI TAAT SUAMI

Filed under: Sosial — arsyad1952 @ 7:32 am

Belum lama ini, sejumlah kalangan perempuan Indonesia, membentuk sebuah klub yang menamakan diri “Klub Isteri Taat Suami” (kita singkat saja KITS). Pembentukan KITS mungkin saja mengundang pertanyaan, terutama dari kalangan pro kesetaraan gender, mengapa ketaatan isteri terhadap suaminya harus diangkat ke permukaan social formal, ketimbang diwujudkan dalam praktek realisasi (amal ibadah) kehidupan rumahtangga sehari-hari. Bukankah ketaatan isteri terhadap suami juga harus disertai atau diimbangi oleh kesetiaan suami terhadap isterinya dan tanggungjawabnya terhadap seluruh anggota keluarga yang diayominya. Sebab jika tidak, taatnya isteri pada suaminya rentan mengundang kecurigaan bentuk lain eksploitasi oleh kaum lelaki, khususnya kaum suami, terhadap kaum perempuan, khususnya kaum isteri. Jika KITS dibentuk dan didirikan oleh kaum suami, sudah terang di luar akal logika. Namun begitu tidak urung mengundang endusan kecurigaan, jangan-jangan pihak para suami berada di belakang layar dibentuknya KITS.

Islam memang mengajarkan isteri taat pada suaminya, bahkan melebihi ketaatan terhadap kedua orangtua kandungnya sendiri. Tapi ketaatan terhadap suami yang mana? Tentu bukan sembarang ketaatan. Apalagi terhadap suami yang tidak amanah dan tidak dapat menjaga kehormatan rumahtangga.

Islam menyebutkan dengan tegas suami bertanggungjawab terhadap kebaikan isteri, anak-anaknya dan kelangsungan hidup rumahtangganya, baik dunia maupun akhirat. Suami adalah khalifah (pemimpin) rumahtangga keluarga. Begitu mulia dan beratnya tanggungjawab suami tersebut, Islam nyaris menyamakan pelaksanaannya sebagai jihad di jalan Allah. Suami yang meninggal ketika tengah mencari nafkah untuk keluarga, sedangkan ia beriman, Allah menjanjkan baginya kehidupan di surga.

Di lain pihak, Islam menempatkan kaum perempuan di tempat yang paling mulia. Bahkan menyebutkan surga berada di bawah telapak kaki ibu. Nabi Muhammad saw, ketika menjawab pertanyaan seorang sahabat, siapakah orang yang pertama-tama harus dihormati, beliau menyebut ibumu. Setelah itu siapa lagi, tanya sahabat lagi. Nabi menjawab lagi, ibumu. Setelah itu siapa lagi? Ibumu. Setelah itu baru ayahmu, ujar Nabi. Penyebutan Nabi kepada ibu hingga tiga kali, memperlihatkan betapa Islam sangat menghormati kedudukan seorang ibu, hingga tiga tingkatan di atas ayah.

Pembentukan KITS barangkali dilatarbelakangi oleh peristiwa social akhir-akhir di mana isteri tidak lagi taat pada suami, seiring isu kesetaraan gender dan emansipasi wanita. Sejumlah kasus yang marak diberitakan mass media, banyak memperlihatkan contoh isteri tidak lagi taat pada suami, seperti selingkuh, terang-terangan menjalin hubungan cinta dengan pria lain padahal ia masih terikat tali perkawinan dengan suaminya. Umumnya kasus ini melanda kalangan selebritis, level social atas serta public figure yang seolah memberi contoh gaya hidup yang amat liberal dan secular. KITS yang tampaknya gelisah atas fenomena social tersebut, tampaknya ingin memberikan self control atas dasar asumsi para perempuan aktivis yang meluncurkan KITS tidak urung juga dari kalangan level social atas. Maka jadilah KITS harus bertarung dalam satu ruang dimensi fenomena keperempuanan masa kini.

Barangkali kita sepakat, isteri taat suami tidaklah harus digembar-gemborkan. Karena kita khawatir makna sesungguhnya menjadi bias dan kontra produktif sehingga akan mudah dimanfaatkan oleh pendiskreditan yang tidak proporsional dan tidak rasional. Kita mafhum, setiap kebijakan mengaktualisasi dan mensosialisasi kemuliaan perempuan di tengah proses dan dinamika social sesuai ajaran agama Islam, selalu dalam intaian pro kesetaraan gender. Islam mengingatkan wanti-wanti, hati-hati dengan riya, hati-hati dengan riya. Sebab lahirnya riya, bisa atas dasar disadari atau tidak disadari karena kebodohannya. Dan hakekat riya menjungkirbalikkan kepala menjadi kaki, dan kaki menjadi kepala. Riya ini yang kemudian menjadi justifikasi serangan pro kesetaraan gender bahwa wanita telah mengalami marginalisasi, diskriminasi dan menjadi hamba sahaya kaum pria.

Dilihat lewat kacamata filosofi dogmatic, KITS mungkin benar. Tapi coba tengok pada kehidupan sehari-hari di tengah masyarakat kita, terutama pada level social bawah, yakni berapa banyak isteri taat suami yang berjuang tanpa pamrih dengan menjadi TKW di luar negeri kendati harus mengusung resiko tinggi atas keselamatan jiwa raganya. Belum lagi situasi isteri taat suami yang dikelilingi oleh kondisi budaya yang multi nilai dan multi norma. Akankah masih diperlukan klub isteri taat suami yang amat relative atas nilai-nilai social dan realitas kemasyarakatan itu?

Pelembagaan isteri taat suami yang tidak disertai suami setia isteri, hanya akan menjadikan cita-cita mulia menjadi utopia, serta mengembalikan jarum jam peradaban ke belakang di mana wanita hanya menjadi hamba sahaya kaum pria. Saya kira, jumlah isteri tidak taat suami, dan jumlah suami tidak setia isteri, dari dulu hingga sekarang sama banyaknya. Yang penting bagi kita, apakah ia seorang isteri atau seorang suami, bagaimana ia secara ridho penuh kesadaran dan pemahaman ajaran mulia agama secara ikhlas dan tidak show, tidak pamer dan tidak gembar-gembor menjalankan misi isteri taat suami dalam visi terwujudnya keluarga yang sakinah, mawaddah dan warohmah. (Sanusi Arsyad)

 

Tinggalkan sebuah Komentar »

Belum ada komentar.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: