Atmosfir

Juni 16, 2011

MEMBURU DAN MENYELAMATKAN ARSIP BERNILAIGUNA EMAS

Filed under: Hukum — arsyad1952 @ 1:07 am

MEMBURU DAN MENYELAMATKAN ARSIP BERNILAI GUNA EMAS

Bila kita bicara arsip, maka rumusan atau batasannya demikian luas. Pengertiannya sangat tergantung pada alam pikiran dan dimensi di mana seseorang hidup dan berpijak. Seorang masyarakat biasa membayangkan arsip adalah catatan atas suatu peristiwa aktual dan catatan itu dibuat karena diperlukan. Dan kini, karena catatan itu secara aktual pula sudah tidak lagi diperlukan, maka catatan itu bergeser fungsinya menjadi arsip atau bekas arsip yang tidak memiliki nilaiguna, dalam hal ini nilaiguna ekonomis. Kita katakan sebagai “nilaiguna ekonomis” karena ia dibuat dan diadakan erat berkaitan dengan kegiatan aktivitas kehidupan ekonomi masyarakat sehari-hari.

Lain halnya dengan alam pikiran kaum terpelajar, tentu melihat arsip dari nilai kegunaan dari sudut disiplin ilmu dan kepentingan profesi masing-masing. Seorang yuris misalnya, melihat arsip sebagai alat bukti hukum formal dalam upaya menggali kebenaran materiel. Sedang seorang sejarawan melihat arsip sebagai catatan atau sumber sejarah. Seorang dokter medis, memperlakukan medical records untuk mengetahui perkembangan suatu penyakit atau kesehatan pasiennya.

Dalam konteks sejarah perkembangan kehidupan kebangsaan, arsip memiliki nilai penting secara nasional karena ia merupakan rekaman jejak bagian sudut peristiwa kebangsaan, sekaligus saksi abadi yang tidak akan berubah nilai informasinya dari masa ke masa (di dalam perundangan jenis arsip ini disebut sebagai “arsip statis”). Pada sudut konteks inilah fungsi arsip menjadi amat penting karena ia menjadi sumur informasi yang tak akan pernah kering dari perjalanan sejarah suatu bangsa. Terhadap arsip jenis ini, menjadi kewajiban seluruh warga negara secara nasional, khususnya lembaga Arsip Nasional Republik Indonesia, untuk memonitoring, mengamankan, menyelamatkan dan memelihara arsip-arsip sejarah kebangsaan tsb secara utuh dan komprehensif. Penyelamatan arsip yang tidak utuh dan komprehensif, hanya akan menghadirkan keterputusan sejarah (missing link) dan mengundang suasana controversial description yang pada gilirannya memunculkan separatism di masa-masa mendatang .

Sejarah perkembangan negara kebangsaan kita sejak zaman dahulu, sebenarnya kaya akan peristiwa-peristiwa fenomenal yang menentukan corak perwujudan kebangsaan saat ini. Namun sayangnya, kita amat miskin akan rekaman-rekaman sejarah. Entah karena bangsa kita belum mentradisi di dalam pembuatan catatan-catatan peristiwa sejarah, atau karena kita sebagai bangsa lalai dalam memproduk, mengamankan dan menyelamatkan rekaman-rekaman sejarah, sehingga rekaman-rekaman sejarah itu lenyap begitu saja dengan diketahui atau tidak diketahui jejak dan sebabnya. Secara teoritis, mestinya rekaman-rekaman sejarah itu lahir seiring seiring pecahnya peristiwa, apakah lewat proses administratif korespondensi, formal maupun non formal, atau sebagai produk peristiwa, baik berupa kebendaan maupun ungkapan verbal atau penafsiran. Di sini tentu saja bagi seorang sejarawan, fungsi ANRI dan Museum Nasional sama pentingnya bagi penelitian.

Melalui ungkapan arsip sejarah, kita jadi mengetahui bahwa negara nusantara pernah mengalami masa keemasan melalui era kerajaan Sriwijaya, Majapahit, Mataram, dan sebagainya. Namun informasi sejarah itu lebih berskala makro, karena informasi yang berskala mikro dalam bentuk pergolakan politik dan tragedi kekuasaan, hampir tidak ada sama sekali. Sebagai contoh, tidak lama Majapahit berdiri di penghujung abad 13, menjelang alih kekuasaan dari raja pertama, Raden Wijaya, kepada putra mahkota, Jayanagara, Majapahit dirongrong oleh pergolakan politik yang amat serius, yaitu berupa pemberontakan bersenjata oleh sejumlah perwira tinggi kerajaan yang pada waktu Majapahit didirikan, jasa mereka amat besar. Akibat pemberontakan itu terjadi saling bunuh antara pati pemberontak dan pati yang loyal pada raja.

Penyebab pemberontakan itu sendiri tidak jelas karena tidak ada arsip yang mengungkap. Kitab Pararaton dan Kitab Nagara Krtagama, dua kitab karya sastra yang ditulis lebih dari satu abad sejak pecahnya peristiwa, menginformasikan pemberontakan terjadi gara-gara pati Ranggalawe secara terang-terangan menolak pengangkatan pati Nambi sebagai panglima angkatan perang Majapahit oleh raja Raden Wijaya. Jayanagara, putra mahkota, yang naik tahta menggantikan bapaknya, berupaya memadamkan pemberontakan yang berlangsung lebih dari 20 tahun. Namun malang bagi Jayanagara, ia mati bukan di medan perang, melainkan mati dibunuh oleh dokter istananya sendiri saat si dokter tengah menyembuhkan bisul di tubuh raja, dan selama proses pengobatan ditunggui oleh Gajah Mada selaku komandan “Paspampres” pada waktu itu. Mengetahui raja mati, tak ayal Gajah Mada mengeksekusi mati pula si dokter di tempat tanpa proses pengadilan. Pada waktu itu raja Jayanagara berusia kira-kira 34 tahun. Inilah satu-satunya raja Majapahit yang mati dibunuh oleh seorang abdi dalem.

Konspirasi pun terendus, skenario pembunuhan raja diatur oleh keluarga kraton sendiri. Kitab Pararaton melecehkan raja Jayanagara dengan menyebutkan nama kecilnya Raden Kalagemet yang bermakna “jahat” dan “lemah”. Dituliskan juga perangai raja yang senang menggoda dan merayu isteri-isteri petinggi kerajaan, termasuk isteri Gajah Mada yang nyebrang menjadi selir raja. Timbul kecurigaan semua yang bercap jelek lahir akibat diskriminasi ras. Sebab Jayanagara anak Raden Wijaya dari putri Sumatra, bernama Dara Petak. Sedang isteri-isteri Raden Wijaya lainnya yang berdarah Jawa murni (putri raja Kadiri, Kertanagara), hanya menurunkan anak-anak perempuan. Tapi kecurigaan stereotype ras ini tentu saja spekulatip karena tidak berdasar arsip sejarah sama sekali. Termasuk nasib permaisuri Dara Petak, pasca pembunuhan Jayanagara, yang tidak diketahui perjalanan hidupnya.

Pada masa pemerintahan dua raja Majapahit berikutnya, setelah Jayanagara, yaitu di masa raja Hayam Wuruk, tragedi politik berkaitan isu etnik pecah kembali. Yaitu yang dikenal dalam sejarah sebagai Perang Bubat. Perang ini pecah sebagai anti klimaks dari rencana pernikahan politik antara Hayam Wuruk dengan putri Sunda, bernama Dyah Pitaloka. Kontroversial pun muncul di kalangan penikmat sejarah, lagi-lagi Gajah Mada dituding sebagai tokoh sentral di balik dalam peristiwa ini. Tapi bagaimana sebenarnya duduk perkara sesungguhnya, orang tidak tahu, karena tidak ada satu arsip pun yang berbicara soal itu. Para sejarawan hanya berkutat lewat penafsiran atas informasi kitab yang ditulis empu-empu.

Semasa post kemerdekaan RI tahun 1948, kita juga dikejutkan oleh dieksekusi matinya Mr. Amir Syarifuddin di luar proses pengadilan berkaitan keterlibatannya dalam peristiwa pemberontakan PKI Madiun tahun 1948. Amir Syarifuddin adalah mantan Perdana Menteri dan Menteri Pertahanan di masa-masa permulaan kabiner RI. Timbul kontroversial yang meragukan Amir orang komunis dan menyadari terjadinya pertumpahan darah di kalangan bangsa sendiri. Abu Hanifah, teman seasrama Amir semasa mahasiswa, pernah menulis dalam majalah Prisma atas keraguannya itu. Sayang memang, dokumen yang valid dan otentik mengenai Amir Syarifuddin, khususnya di sekitar peristiwa Madiun, tidak ada atau belum ditemukan.

Di masa sejarah kini, seperti sekitar G30S/PKI di tahun 1965, lengsernya Presiden Suharto pada 21 Mei 1998, peristiwa pemakzulan Presiden KH Abdurrahman Wahid dan peristiwa-peristiwa politik kenegaraan yang besar dan menentukan jalannya proses kebangsaan di kemudian hari, mestinya disertai arsip-arsip yang kuat, mengingat era-era tersebut hidup dalam era informasi dan pengelolaan administrasi teknologi modern.

Perburuan terhadap arsip-arsip tersebut untuk diamankan dan diselamatkan sebagai bagian dari tanggungjawab kebangsaan kita kepada generasi-generasi kemudian, pada hakekatnya bukan hanya tugas dan kewajiban Arsip Nasional RI, tapi juga tugas dan kewajiban semua komponen anak bangsa. Sebab jika tidak, kita tidak akan mendapatkan sejarah kebangsaan masa lalu kita, dan rak-rak ANRI hanya dijejali arsip-arsip “hambar”, sementara arsip-arsip bernilaiguna emas musnah tenggelam akibat sengitnya pertarungan kepentingan politik, ideologi dan moral manusia. (Sanusi Arsyad)

Tinggalkan sebuah Komentar »

Belum ada komentar.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: