Atmosfir

Juni 12, 2011

Korupsi Menggerogoti Kerajaan Astina

Filed under: Politik — arsyad1952 @ 6:43 am

ALKISAH di Kerajaan Atas Angin  tengah berlangsung rapat paripurna para dewa yang dipimpin langsung oleh Batara (Dewa) Guru. Rapat diikuti oleh seluruh dewa anggota Kabinet Kahyangan Bersatu yang tampak tergopoh-gopoh memasuki ruang rapat. Batara Narada sebagai dewa  yang dituakan di antara para dewa, tampak sibuk menyebarkan daftar absensi serta mengamati dengan teliti dewa-dewa yang tidak hadir atau belum datang. Rapat ini nampaknya dilakukan mendadak di luar agenda kerja kabinet para dewa sehari-hari yang dipimpin Presiden Batara Guru.

“Ada isu kabinet apa ya Kang Bayu, tampaknya sangat penting sekali. Aku di-SMS oleh Paman Narada dan diperintahkan datang sekarang juga,” tanya Batara Indra pada Batara Bayu yang begitu tiba di tempat tampak celangak-celinguk mengamati suasana ruang sidang yang sudah dipadati oleh para peserta rapat.

“Entahlah ya Dik Indra, aku juga belum paham. Biasanya jika ada rapat penting, badai informasinya sudah sampai ke telingaku, tapi ini semilir angin beritapun tak ada.” ujar Batara Bayu. Keduanya tambah heran begitu melihat Batara Guru sudah berada di ruang rapat dan menempati kursinya. Keduanya cepat-cepat mencari dan menempati kursi kerjanya masing-masing  Biasanya Batara Guru baru memasuki ruang rapat setelah Narada menyampaikan laporan bahwa seluruh anggota kabinet telah berada di kursinya masing-masing. Tapi ini tidak. Tumben, pikir Dewa Indra.

Tak lama terdengar suara protokol Batara Narada yang menyampaikan acara rapat segera dibuka dan langsung mendengarkan pengarahan dari Dewa Guru.

Singkat cerita, Dewa Guru memerintahkan kepada seluruh anggota kabinet agar membantu Prabu Duryudana, raja Astina, sebuah kerajaan di atas bumi, yang tengah kewalahan menghadapi wabah kejahatan yang sangat aneh. Prabu Duryudana adalah anak tertua dari 100 bersaudara – yang dikenal sebagai Bani Korawa – anak dari pasangan pandito tunanetra Destarata dan Dewi Anggandari.

Jenis kejahatan ini sangat meresahkan rakyat Astina. Modus operandinya nyolongin (mencuri) uang negara hingga mengakibatkan kas negara menjadi kosong melompong dan rakyat tidak punya duit sama sekali. Si pelaku kejahatan ini tidak hanya nyolongin sekali dua kali saja, tapi terus-menerus. Setiap kali negara mencetak uang, selalu dicuri habis tanpa tersisa selembarpun. Begitu seterusnya. Sehingga membuat Prabu Duryudana jengkel alang kepalang. Seorang penasehat istana, bernama Arya Sangkuning, menyebut kejahatan itu korupsi. Raja setuju dengan istilah itu. Tapi apapun namanya tetap merupakan kejahatan yang harus diungkap dan diberantas, kata raja.

Siang malam wabah korupsi ini mencari mangsa sasaran. Tidak pilih bulu korban. Tua muda, lelaki perempuan, kaya miskin, pemerintah atau swasta, PNS atau partikelir, pokoknya kalau punya duit disikat habis. Anehnya, ini yang membuat Prabu Duryudana bercucuran keringat dingin, si pelaku kejahatan korupsi ini tidak tampak sosoknya. Raja sudah menyebar intel guna mengintai dan meringkus pelaku kejahatan, tapi hasilnya nihil. Yang datang cuma laporan-laporan kehilangan duit.

Alhasil kejahatan korupsi ini dibicarakan di mana-mana, menjadi momok seantero nusantara Astina. Semua orang jadi serba saling tanda tanya, apakah pelakunya cuma satu orang, dua orang, sekelompok penjahat atau sindikat. Duryudana sudah banyak mengeluarkan kepra (keputusan raja), insra (instruksi raja), undang-undang bahkan sudah membentuk komisi-komisi dan tim-tim anti korupsi yang intinya akan menggantung sampai mati sang koruptor. “Saya betul-betul komitmen memberantas korupsi,” ujar Duryudana berulang-ulang di depan rakyatnya. Tapi tetap saja si koruptor tidak tampak batang hidungnya, sementara aksi kejahatannya terus saja merajalela.

Saking jengkelnya, pengadilan yang dibentuk sang raja menggelar sidang perkara kejahatan ini yang cukup bukti dan fakta dan menjatuhkan vonis hukuman mati bagi sang koruptor. Tapi hakim akhirnya frustrasi karena vonis tak bisa dieksekusi karena sang koruptor yang harus dieksukusi orangnya tak ada. Karena kewalahan Duryudana lalu minta bantuan Dewa Guru. Jika tidak negeri nusantara Astina yang gemah ripa loh jinawi ini bisa hancur nggak bisa timbul lagi bagai dilanda tsunami.

Para Dewa yang begitu mengetahui duduk perkaranya, langsung mengambil kesimpulan ini pasti perbuatan penjahat yang memiliki “ilmu halimun” (ilmu ogah pasang badan). Sebagai dewa yang juga biasa tidak menampakkan badan setiap kali menjalankan misi rahasia yang diembankan Dewa Guru, para dewa optimis dapat membantu Prabu Duryudana dengan membekuk sang koruptor.

Lalu para Dewa saling berbagi tugas dan menyebar ke segenap penjuru kerajaan Astina guna mengintai dan membekuk koruptor. Betapa terkejutnya para Dewa begitu menyaksikan sang koruptor jumlahnya begitu banyak dan terdiri dari berbagai golongan atau kelas. Ada golongan kelas ikan paus, kelas hiu, kelas kakap, kelas tenggiri, kelas gurita, kelas kepiting, kelas teri bahkan sampai kelas anak teri. Modus operandi yang dilakukan para koruptor kelas kakap dan tenggiri antara lain membobol bank-bank, BUMN, menggerogoti sekretariat istana, illegal logging, proyek-proyek supermega dan sebagainya. Para Dewa sampai heran begitu rakusnya para koruptor kelas kakap, sampai-sampai pabrik baja Merapi Steel dan pabrik semen digerogot. Apalagi koruptor kelas gurita, modus operandinya lipat sana lipat sini, gulung sana gulung sini. Belum lagi koruptor kelas paus dan kelas hiu, tentu akan lebih gila-gilaan lagi. Para Dewa akan menyelidiki koruptor kelas paus dan kelas hiu ini mainnya di mana.

Sedang modus operandi koruptor kelas teri dan anak teri, para Dewa sudah menyaksikannya, antara lain ngiloin dokumen negara yang seharusnaya diserahkan ke Arsip Negara. “Pantas arsip rahasia milik kakang Super Semar bisa hilang,” gerutu Dewa Agni yang biasa memanggil Semar atau Batara Ismaya (saudara sulung Batara Guru) dengan sebutan “kakang Super Semar”. Sedang koruptor yang gedean sedikit memark-up pembelian alat tulis kantor seperti kertas surat, amplop, stempel, tinta komputer dan sebagainya.

Para Dewa jadi bingung yang mana yang harus diringkus lebih dulu, saking banyaknya. Tapi para Dewa merasa tidak berkompeten karena tugasnya cuma TGPF (tim gabungan pencari fakta). Lalu dibikinlah laporan hasil kerja ke Dewa Guru dan selanjutnya Dewa Guru mengutus Dewa Narada menyampaikan laporan itu ke raja Astina. Saat menyerahkan hasil kerja TGPF, Narada bergumam sendirian, “Pantaslah kalian Bani Korawa kalah perang di Baratayudha dari Bani Pandawa, akibat moral birokrasi kalian begitu bobrok”.

 

100 PETI MATI

RAJA Astina, Duryudana, terperangah dengan mata terbelalak saat meneliti berkas nama-nama para koruptor yang disusun oleh para Dewa hasil investigasi. Nama-nama para koruptor itu terbagi dalam beberapa golongan. Mulai dari golongan ikan paus, hiu, gurita, kakap, tenggiri, kembung hingga kelas teri dan anak teri.

“Anjing kurap! Setan alas!”, sumpah serapah berhamburan dari mulut raja. Raja tak menyangka samasekali bahwa anak-anaknya, adik-adiknya, besan-besannya, menantu-menantunya, cucu-cucunya,  ipar-iparnya, para pejabat tinggi kerajaan, hakim, jaksa, polisi, hulubalang dan semua orang yang ia kenal dekat, sungguh tega melakukan kejahatan yang sangat merongrong kelangsungan hidup negara dan yang telah membuat dirinya kurus kering. Raja sungguh tidak menyangka sama sekali. Bila di depan dirinya mereka berpenampilan dan bertutur kata bagai orang suci. Bahkan didalam rapat-rapat kabinet, bila mereka mendapatkan kesempatan bicara, mereka tak lupa membubuhi orasi mereka dengan sabda para nabi, senandung loka para dewa-dewi dan mensitir segala macam ayat syair kitab suci yang berisikan puja-puji terhadap keluhuran penguasa kerajaan dalam mengayomi seluruh anak negeri.

Raja tafakur, sedih, kecewa, geram, merasa dikhianati semuanya bercampur aduk menjadi satu. Tak henti-henti raja menarik nafas panjang, “Aduh Gusti Jagad Batara apa yang harus kulakukan”, keluh raja. Tiba-tiba saja raja berdiri tegak seraya mengepalkan tinju, Apa boleh buat, mereka harus ditindak dan dihukum seberat-beratnya. Sebab jika tidak, kerajaan ini pasti ambruk oleh sebab tanpa perang. Duryudana mafhum, dalam Perang Baratayudha di padang Kurunsetra nanti, Bani Korawa pasti binasa oleh Bani Pandawa. Tapi ia tak rela negeri Hastina hancur binasa lebih dini hanya karena digerogoti oleh virus korupsi yang sudah membirokrasi.

“Bani Korawa boleh kalah perang dari Bani Pandawa dalam Baratayudha, karena memang sudah takdir Dewata. Tapi kalau Bani Korawa jadi loyo karena digerogoti korupsi bagai dilahap narkoba, aku tak rela. Aku akan berantas korupsi tanpa pandang bulu. Biar Citrayudha, Citragada, Citrasena, Citrayaksa yang adik-adikku sendiri, kalau mereka terbukti bersalah aku hukum gantung, walau apapun resikonya”. ujar raja dalam hati.

Raja sadar sekali memerangi korupsi taruhannya adalah nyawa. Karena ia tahu benar, adik-adiknya, saudara-saudaranya, besan-besannya, para menantunya, para pejabat tinggi negara dan sebagainya yang semuanya para pelaku korupsi, sangat ahli dalam bidang racun-meracun orang. Belum lama, seorang ksatria pilih tanding dari desa Malangbener bernama Munirlaya Sarjana Hukum yang bertekad memberantas korupsi di negeri Astina, mati diracun. Konon pelakunya seorang pembesar kerajaan di bagian telik sandi. Sebelumnya juga, panembahan Profesor (empu) Lopaganti yang bertekad sama dan terkenal jujur, juga mati. Diduga kuat diracun.

Keesokan harinya, raja memerintahkan tukang kayu kerajaan untuk segera menyiapkan 100 peti mati. Dan manakala 100 peti mati itu telah siap, lalu raja mengumpulkan semua anggota kabinet dan meletakkan 100 peti mati di depan mereka. Anehnya tak satu pun anggota kabinet yang bertanya untuk apa peti mati itu dipamerkan di depan mereka. Mereka seperti sudah mengerti rencana gusti prabu.

“Dengarkan dan saksikan hai kalian semua. Sebagai bukti komitmenku memberantas korupsi bukan cuma sekedar wacana tapi betul-betul nyata, dan sesuai sumpahku yaitu aku yang akan memimpin langsung pemberantasan korupsi, maka sebagai langkah pertama memberantas korupsi adalah lebih dulu membersihkan sekretariat kerajaan dari tikus-tikus koruptor. Karena menurut hematku, tidak lucu memberantas korupsi di seluruh negara, sedangkan di rumah sendiri, di sekretariat negara, para koruptor gentayangan. Karena itu sebagai aksi perdana aku sediakan sebanyak 100 peti mati, sekali lagi 100 peti mati bagi seluruh anggota keluarga Bani Korawa yang berjumlah 100 orang, termasuk diriku. Jika mereka terbukti melakukan tindak pidana korupsi maka tanpa ampun seluruh anggota keluarga Bani Korawa yang berjumlah 100 orang harus mati”, ujar Raja berapi-api. Dan para menteri itu secara spontan mengepalkan tinju ke atas seraya meneriakkan koor setuju terhadap usaha raja memerangi korupsi dan mereka rela mati demi membela raja.

Karena korupsi sudah menjarah ke semua sektor dan sendi kehidupan negara, maka tak ada pilihan bagi raja untuk mengimbanginya dengan membentuk tim-tim dan komisi-komisi anti korupsi yang beroperasi di semua lini dan sektor pemerintahan pula. Alhasil, tak luput satu pun kantor-kantor instansi kerajaan yang tak terdapat tim-tim anti korupsi. Bahkan sampai ke pedepokan-pedepokan pendidikan yang kepala pedepokannya biasa menggerogoti subsidi pendidikan negara. Oleh raja, tim-tim ini diberi kompetensi yang sangat luas yaitu berwenang menyelidik, menyidik, menuntut, mengadili dan mengeksekusi langsung terpidana di tiang gantungan. Hal ini dimaksudkan raja untuk memotong jalur birokrasi penegakan hukum yang bertele-tele yang hanya memberi peluang bagi penjahat untuk lepas dari jerat hukum.

Di depan 100 peti mati, Raja Astina yang merupakan putra sulung dari 100 bersaudara Bani Korawa putra Pendito Destarata ini, menanti dengan harap-harap cemas hasil kerja tim-tim anti korupsi bentukannya. Jika cara ini juga masih belum mampu (efektif)  menyeret para koruptor ke tiang gantungan dan membebaskan negara dari cengkeraman tindak pidana korupsi, pikir raja dalam hati, maka tak ada pilihan lain kecuali raja sendiri yang akan berjalan menuju tiang gantungan dan memasukkan mayatnya ke dalam peti mati bernomer A-1 yang sudah tersedia. o

DIALOG RAJA ASTINA DENGAN ADIPATI KARNA

RAJA ASTINA, Duryudono, termangu di depan 100 peti mati. Kepalanya pusing tujuh keliling. Upaya pemberantasan korupsi yang digerakkannya hingga kini belum mendatangkan hasil. Tim-tim dan komisi-komisi anti korupsi yang dibentuknya, belum memberikan progress report sama sekali. Berita terakhir yang diterimanya menyebutkan, korupsi masih gentayangan di seantero kerajaan, kecuali di satu kadipaten yaitu Kadipaten Awangga. Di kadipaten ini yang kepala daerahnya bernama Adipati Karna, korupsi tak ada sama sekali. Pemerintahan yang bersih dan berwibawa terdapat di kadipaten ini. Rakyatnya makmur. Inilah satu-satunya wilayah kerajaan yang sudah menerapkan otonomi daerah yang dibanggakan oleh Raja Astina.

Seketika tergerak hati sang raja untuk menemui Adipati Karna guna menanyai terapi apa yang diterapkan Karna sehingga wilayah administrasinya tak bisa dimasuki oleh koruptor. Apakah ia menerapkan hukum yang keras bagi penyeleweng keuangan daerah, sistem pembuktian terbalik, rakyatnya santri-santri atau tingkat kesejahteraan di sana sudah demikian baik?

Tentang Karna, konon, menurut sahibul hikayat, ia anak dari Dewa Matahari (Batara Surya, Zeus). Menurut legenda, Dewa Matahari menurunkan dua putera. Satu putera diturunkan di daerah Timur, yang bernama Karna. Sedang yang satu lagi diturunkan di belahan dunia Barat, dan bernama Hercules.

Karena rasa hormatnya Raja Astina terhadap Karna, raja tidak memanggil Karna untuk menghadapnya di istana, tapi raja sendiri yang menemui dipati itu di tempat kediamannya dengan berjalan kaki sendiri tanpa pengawalan sama sekali. Sepanjang perjalanan, raja menyaksikan pemandangan yang amat kontras. Di seluruh negeri yang dilaluinya, ia mendapati lahan yang kering kerontang dengan rakyatnya kurus bagai tinggal kulit dengan tulang. Laporan terakhir crisis center menyebutkan, rakyat Astina dilanda busung lapar. Tapi ada juga yang menyebut akibat gizi buruk, gizi rendah, kurang gizi, dsbnya. Tapi ketika memasuki wilayah hukum Kadipaten Awangga, penduduk di sini cerah ceria, gemuk-gemuk. Ketika raja mampir di sebuah universitas, rektornya menyampaikan pendidikan di Awangga mulai TK hingga universitas, tidak dipungut biaya alias gratis alias bebas biaya. Begitu juga ketika raja memasuki bangsal sebuah rumahsakit, kepala tabib di sini menjelaskan pasien tidak dikenakan biaya berobat sama sekali. Baik itu untuk rawat jalan maupun rawat inap. Tidak ada istilah kamar kelas I, II, III atau VIP. Semuanya rata.

Begitu sampai di tempat kediaman Dipati Karna, dipati ini terkejut seraya menyampaikan hormat priyayinya. “Aduh paduka raja, kenapa tidak memanggil hamba, dan berkunjung ke tempat hamba tanpa pengawalan, gimana kalau ada teroris di tengah jalan, tentu nyawa gusti sangat terancam”, ujar Karna tergopoh-gopoh sambil mempersilahkan ‘atasannya’ masuk ke dalam rumahnya.

“Aku sengaja datang ke sini ingin konsultasi dan mendapatkan advis darimu, Karno”, ujar raja yang biasa memanggil Karna dengan panggilan Karno karena raja orang wetan, sedang Karna orang kulon. Singkat cerita, Raja Astina mengutarakan rasa gunda gulananya akibat korupsi yang merajalela di seantero negeri.

Setelah mendengar penuturan raja, lalu Karna berpendapat korupsi yang terjadi sebagai kausalitas dari politik ‘menabur angin menuai badai’ yang dilakukan raja selama berkuasa lebih dari 32 tahun. Disadari atau tidak, raja sendiri yang memelopori lahirnya pola laku dan pola pikir hidup korup. Alhasil, rezim yang terbentuk penuh pendekatan KKN. Birokrasi pemerintahan menjadi amat korup dan busuk. Otak para aparatur kerajaan tidak lagi bagaimana melayani kebutuhan dan kepentingan rakyat dan memajukan kehidupan kerajaan, tapi otak-otak mereka hanya berisikan bagaimana cara mencuri uang negara, memeras rakyat, mengelabui petugas hukum, membohongi para inspektur kerajaan, dsbnya. Kontan saja, seluruh aparatur negara jadi bobrok dan berlomba-lomba saling korupsi. Bertindak sebagai pelopor atas aksi yang sangat memalukan ini justru diperlihatkan oleh raja sendiri diikuti oleh anak-anak raja, adik-adik, para besan, para menantu, cucu-cucu, ipar-ipar raja, para pejabat tinggi kerajaan, hakim, jaksa, polisi, pengacara, dan semuanya.

“Lalu mengapa aksi ramai-ramai korupsi tidak menjalar di negerimu, Karno?” tanya raja dengan keringat bercucuran merasa telah ditelanjangi Dipati Karna.

“Korupsi lahir, tumbuh dan berkembang subur akibat kehidupan yang gelap. Sedang pada kehidupan yang terang, yang disinari matahari, nafsu serakah tidak berkutik. Pada kehidupan yang terang, rasa transparansi, akuntabilitas disertai moral yang bersih, akan menyapu dan mematikan semua niat buruk dan pikiran jahat. Batara Kala memanfaatkan keadaan gelap untuk menggoda manusia agar terjerumus pada nafsu dunia”, ucap Karna.

“Jadi apa yang harus kulakukan?” tanya raja dengan suara gemetar seraya memandangi Karna tanpa berkedip.

“Karena harta korupsi berasal dari hasil curian, hasil kejahatan, maka harta itu haram, najis dan kotoran yang sangat menjijikkan. Jika harta ini digunakan untuk ibadah agama ke tanah suci, sama artinya menaburi tanah suci dengan najis. Maka bertambahlah dosanya. Jika pun harta haram itu digunakan untuk membangun dan menyumbang rumah ibadah, menyantuni yatim piatu dan fakir miskin, membangun pabrik dan industri, maka sadarilah cara dan perbuatan itu bukan menghapus dan mengurangi dosa, malah menebar racun dan kotoran ke mana-mana. Dan bila dimakan akan menjadi darah dan daging yang haram pula. Dunia menjadi diselimuti oleh yang haram. Karena itu sebelum dunia menjadi kotor, wahai Rajaku kembalikanlah uang hasil korupsi itu kepada yang empunya, yaitu rakyat. Ketahuilah, sebelum paduka bertobat dan mengembalikan uang hasil jarahan itu, maka selama itu pula roh paduka berada dalam kegelapan”.

“Tapi aku tidak punya uang sama sekali”, sergah raja.

“Paduka tidak menyimpannya di bank atas nama sendiri atau atas nama anak cucu buyut paduka?” selidik Dipati Karna.

“Kalau tidak percaya, silahkan cari sendiri, kalau ada boleh kau ambil semuanya, Karno …”

“Uang memang tidak bisa bicara. Mari kita buktikan…” Dipati Karna habis kesabarannya. Tiba-tiba saja di tangannya sudah tergenggam senjata Konta yang sangat dahsyat. Bila senjata itu dilepaskan untuk sebuah tujuan pembuktian, maka ia akan membuktikan: apabila raja berbohong harta itu akan muncul di hadapan mereka. Tapi bila raja tak berbohong, harta itu tak akan hadir.

“Jangan Karno……jangan kau lepaskan senjata itu. Simpan untuk perang Baratayudha nanti…” Senjata Konta memang senjata ampuh tapi cuma sekali pakai, lalu segera lenyap, tak bisa digunakan lagi.

Setelah mencegah Karna, Raja Astina tanpa permisi segera ngeloyor pulang ke Astina. Pikirannya seperti benang kusut. (Sanusi Arsyad)

Tinggalkan sebuah Komentar »

Belum ada komentar.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: