Atmosfir

November 21, 2010

Sinopsis dari Buku “Antara Kekuasaan, Demokrasi, dan Rakyat”

Filed under: Politik — fullagi @ 12:40 pm

Oleh: Sanusi Arsyad
Artikel asli: https://sanusiarsyad.wordpress.com/2010/11/21/sinopsis-dari-buku-“antara-kekuasaan-demokrasi-dan-rakyat”-oleh-sanusi-arsyad

Buku ini kami tulis ketika masyarakat tengah diliputi suasana euphoria menyambut penyelenggaraan pemilu langsung yang pertama tahun 2004, yaitu pemilihan terhadap calon legislatif (DPR, DPD, DPRD-I dan DPRD-II) dan calon Presiden dan Wakil Presiden. Lepas dari persoalan apakah masyarakat pada akhirnya merasa menyesal atau bersyukur atas terpilihnya Susilo Bambang Yudhoyono dan Jusuf Kalla sebagai Presiden dan Wakil Presiden untuk masa jabatan 2004-2009, tapi paling tidak pemilu langsung yang pertama itu telah memberi pelajaran politik yang amat berharga dan menambah panjang sederet penilaian rakyat terhadap sosok dan citra politik, demokrasi dan kekuasaan.

Sebagian besar dari tulisan ini sudah penulis muat di majalah “Sinergi Indonesia” . Sedang sebagian kecil, antara lain tulisan mengenai masalah Tionghoa, merupakan kajian penulis tentang peranan Tionghoa di dalam kehidupan kebangsaan, khususnya pasca kerusuhan rasial yang terjadi tanggal 13 hingga 15 Mei 1998 lalu. Jadi menurut hemat penulis, tulisan ini merupakan rekaman pemikiran penulis dalam kurun waktu yang belum terlalu lama sehingga dapat menjadi dokumen dan referensi penulisan berikutnya dengan segala kelebihan dan kekurangannya, terutama menyambut penyelenggaraan pemilu 2009.

Naskah tulisan ini kami susun dalam format bahasa popular, ringan, bersahaja dengan joke-joke kecil yang mudah-mudahan tidak menimbulkan salah pengertian. Sebab penulis menyadari, selama ini masyarakat pembaca banyak dijejali oleh tulisan-tulisan yang mengenai kehidupan politik, demokrasi dan kekuasaan yang cendrung bernuansa ilmiah, berat dan serius. Padahal ajakan untuk terlibat dalam diskusi-diskusi politik, perdebatan-perdebatan demokrasi dan sebagainya di dalam forum apapun – baik di gedung ber-AC maupun warung kopi – yang mencerminkan kepedulian atas nasib bangsa dan negara ini, menurut hemat penulis bisa disampaikan melalui bahasa-bahasa yang segar, ringan dan menghibur tanpa harus meninggalkan kesan positif dan konstruktif. Penulisan standar yang lazim digunakan di mimbar politik dan kekuasaan, walaupun tidak dalam kategori kaku, namun di masyarakat justru diterjemahkan sebagai diskursus penguatan atas kesan “sifat asli politik yang buruk” komplit dengan “perangai para politisinya yang memuakkan”.

Atas dasar pemikiran di atas itulah, tulisan demi tulisan kami susun lewat bahasa popular. Artinya mudah-mudahan dapat mengemban fungsi komunikatif dan menghibur. Tujuannya tentu saja dalam rangka mengaktualisasikan dan menyegarkan kembali partisipasi masyarakat terhadap dunia politik, demokrasi dan kekuasaan. Melalui buku ini penulis menginginkan terjadinya perubahan format dan paradigma persepsi di kalangan awam dari kesan semula bahwa politik itu kotor, politik itu jahat, politik itu membohongi rakyat, menjadi “politik itu lucu, politik itu menggairahkan”.

Oleh karenanya pula tidak semestinya kita memandang suatu rezim yang berkuasa sebagai otoritas yang suci, yang harus ditakuti – yang bila Presiden atau Wakil Presiden mengunjungi suatu tempat maka tempat itu lebih dulu harus disterilisasi dari manusia-manusia bau – justru sebaliknya para petinggi rezim itu harus senantiasa dijewer dan disindir agar selalu ingat (eling, orang Jawa bilang) dan punya rasa malu.

Tinggalkan sebuah Komentar »

Belum ada komentar.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: