Atmosfir

November 21, 2010

Kisah Rakyat jadi Raja Sehari

Filed under: Budaya — fullagi @ 2:05 pm

Oleh: Sanusi Arsyad
Artikel asli: https://sanusiarsyad.wordpress.com/2010/11/21/kisah-rakyat-jadi-raja-sehari/

Jika tak ada aral melintang, jika tak berlanjut pada pemilihan tahap kedua, maka pada bulan Juli 2004 ini negeri nusantara akan memiliki seorang Presiden baru hasil pilihan langsung rakyat. Inilah momentum bersejarah yang baru pertama kali terjadi sejak Indonesia merdeka, setelah sebelumnya presiden demi presiden yang berkuasa adalah hasil pilihan lembaga legislatif.

Menurut teorinya, sistem pemilihan langsung bagi seorang presiden yang juga kepala negara adalah suatu upaya mengembalikan kedaulatan negara ke tangan rakyat. Dan ini adalah suatu bentuk pengakuan bahwa sesungguhnya rakyatlah yang berkuasa atas negeri ini, rakyatlah sebagai pemilik sah atas negeri ini.

Di sisi lain dipilihnya presiden secara langsung oleh rakyat adalah suatu mandat bahwa presiden terpilih memperoleh kepercayaan untuk mengelola negeri ini. Sebaliknya bagi presiden terpilih merupakan suatu amanah tertinggi bahwa ia harus melaksanakan amanah itu dengan sebaik-baiknya, dengan penuh rasa tanggungjawab. Soal bahwa ia memenangkan pemilihan itu hanya dengan angka 50 %, 40 % atau lebih kecil dari itu, semata-mata hanyalah soal teknis administrative yang tidak berarti bahwa ia menjadi presiden hanya mengurusi, hanya mewakili angka sebesar itu. Sebab sekali lagi, angka itu hanyalah penampilan adminstratif dari proses dan mekanisme demokrasi. Dengan demikian ia tetap harus mengelola negeri ini sepenuhnya demi kesejahteraan rakyat seluruhnya.

Hanya saja memang demokrasi itu tidak berarti tidak mengemban cacat bawaan. Karenanya menjadi (terpaksa) harus diakui, ia tidak dapat menampilkan bentuk kesempurnaan. Termasuk di dalamnya pemilihan presiden langsung oleh rakyat. Itulah sebabnya mengapa cacat bawaan ini kerapkali dijadikan alasan pembenar, mengapa calon yang diajukan untuk dapat dipilih langsung oleh rakyat adalah dalam jumlah yang tidak maksimal. Tidak dalam jumlah yang sebanyak-banyaknya dalam angka yang relatif. Sehingga dalam kondisi begini timbul kesan: rakyat boleh pilih langsung tapi yang menentukan calon-calonnya tetap harus dari saya. Pengertian “saya” di sini adalah yang memiliki kekuasaan untuk mengatur dan menentukan. Di sini berarti demokrasi sudah harus takluk. Kedaulatan rakyat mau tidak mau mesti mau dibelenggu oleh tirani “teori pembenaran”. Dan itu berarti substansi pemilihan langsung oleh rakyat itu sudah dikebiri, sudah disunat habis-habisan.

Dalam wajah acting ceremonial, pada saat digelarnya pemilihan langsung oleh rakyat itu, karena katanya rakyat adalah sebagai pemilik sah negara, maka rakyat didaulat jadi Raja, jadi Baginda (walau cuma sehari). Semua calon presiden terbungkuk-bungkuk minta doa restu, minta dukungan, minta dipilih, saling cari muka pada Sang (Rakyat) Baginda supaya diberikan kepercayaan menjadi presiden, seraya bersumpah berkali-kali akan memakmurkan rakyat dan anak cucunya.

Barangkali simplifikasi pemilihan presiden langsung oleh rakyat dapat diwujudkan dalam bentuk tonil satu babak di bawah ini :
ALKISAH, sang (Rakyat) Baginda untuk satu acara santap siang kenegaraan, disajikan 5 (lima) jenis menu makanan yang sangat istimewa. Juru masaknya tak tanggung-tanggung berasal dari para koki terkemuka kerajaan yang tergabung dalam Komisi Perkokian Ulung (KPU). Sebelum memilih santapannya Sang Baginda bertanya, mengapa kalian pakai istilah komisi untuk himpunan para koki. Sebab menurut jalan pikiran Baginda yang awam, istilah komisi tak ubah calo yang minta uang jasa atau cari uang lebih untuk satu urusan.
Pertanyaan ini dijawab oleh petinggi KPU bahwa dipakainya istilah komisi semata-mata pertimbangan ilmiah guna memperlihatkan posisi independensi sehingga penilaian atas hasil kerja yang telah dilakukan betul-betul “final dan mengikat”.
Sang (Rakyat) Baginda manggut-manggut tak mengerti. Lalu bertanya lagi, kenapa cuma 5 jenis menu makanan saja yang disajikan. Padahal jenis menu makanan standar kerajaan jumlahnya puluhan, bahkan ratusan.
Petinggi KPU menjelaskan lagi: “Ampun gusti Baginda. Adapun 5 jenis menu makanan yang kami sajikan semata-mata hasil penelitian gizi yang amat ketat dari para koki nomer wahid. Sehingga menu makanan manapun yang Gusti santap pasti mendatangkan kesejahteraan, segar bugar, rohani dan jasmani”.
Lagi-lagi raja cuma bisa manggut-manggut. Kemudian diamatinya lagi dengan teliti satu-persatu 5 jenis menu makanan yang tersedia itu. Tiba-tiba saja raja tersontak kaget, lho mengapa jenis menu makanan yang menjadi kesukaanku tidak kalian sediakan di sini?
Sang koki bertanya, jenis menu makanan apa yang menjadi kesukaan Baginda? Raja menyebutkan menu kesukaannya terdiri atas nasi liwet, semur jengkol, teri medan, sambel petis ….. dan seterusnya.
“Ampun Gusti, berdasarkan pemeriksaan Ikatan Para Tabib Kerajaan ternyata jenis menu yang menjadi kesukaan Baginda mengandung racun”, ujar petinggi KPU.
Lagi-lagi Sang (Rakyat) Baginda tidak berkutik (dalam hati tak percaya, nyatanya gua sehat). “Sudah, sudah, kalian pergi sana,” usir raja kesal. Diamatinya kembali 5 jenis menu makanan yang tersaji itu. Di dalam benaknya Raja berkata, kalau gua makan pasti gua mual, muntah-muntah. Kalau gua tidak makan, he..he.. nggak jadi masalah. Paling-paling resikonya gua lapar. Tapi toh gua sudah terbiasa puasa. (Sementara dari balik kain gordin, rombongan KPU mengintip kepingin tahu menu makanan nomor berapa yang disantap Sang Rakyat Baginda. Nomor 1, 2, 3, 4 atau 5). Dan cerita satu babakpun selesai.

Tangerang, Februari 2004

Tinggalkan sebuah Komentar »

Belum ada komentar.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: