Atmosfir

November 21, 2010

Bus Way

Filed under: Sosial — fullagi @ 2:33 pm

Oleh: Sanusi Arsyad
Artikel asli: https://sanusiarsyad.wordpress.com/2010/11/21/bus-way/

Bus way adalah jalan eksklusif bis kota. Selain bis kota, kendaraan lain tidak boleh melintasi jalur ini. Seperti halnya jalan kereta api. Jalan kereta api adalah jalur eksklusif. Karena itu, jika rangkaian kereta apinya mogok, rusak atau oleh suatu sebab di luar kemampuan PT KAI menjadi tidak bisa dioperasikan, maka jalur KA itu menjadi mubazir dan tidak produktif.

Begitu pula halnya dengan bus way yang kini tengah dioperasionalkan oleh Pemda DKI Jakarta. Alasan pembukaan jalur bus way trayek Blok M – Jakarta Kota adalah guna mengurangi arus kemacetan yang menumpuk, terutama pada ruas jalan Sudirman dan MH Thamrin. Para eksekutif muda berbondong-bondong bolak-balik menggunakan mobil pribadi hingga tidak efisien bagi kemampuan jaringan jalan.

Bila jalur KA merupakan jaringan alternatif yang sudah tersedia, maka tidak demikian halnya dengan bus way. Pembukaan jalur roda empat ini jelas-jelas merampas sebagian fasilitas badan jalan raya yang selama ini diperebutkan rame-rame oleh berbagai jenis kendaraan. Badan jalan yang sudah terasa sempit, jadi semakin sempit. Coba tengok yang terdapat di Jl Gajah Mada, Hayam Wuruk, pengemudi sambil pegang HP jadi ngedumel tidak keruan. Dapat dibayangkan, tanpa pengurangan signifikan jumlah kendaraan yang lalu lalang sebagaimana target pengoperasian bus way, keadaan jalan raya akan semakin parah, dan pengendara mobil harus siap-siap semakin stress tinggi oleh kemacetan.

Sebelum bus way dijalankan, Pemda DKI sudah menerapkan system 3 in 1. Tapi cara ini tampaknya tidak efektif. Buktinya, kemacetan terus saja menggelembung. Yang pesta malah para joki yang dapat duit dan tumpangan gratis di atas mobil mewah.

Fakta di lapangan menunjukkan, Pemda DKI Jakarta sebenarnya telah mengalami kebangkrutan total mengatasi masalah kemacetan lalulintas yang terjadi hampir di seluruh ruas jalan ibukota. Dapat dibayangkan betapa besar kerugian dari segi waktu, biaya, tenaga serta pikiran yang terkuras akibat dari kemacetan lalulintas ini. Jika masalah ini saja tidak bisa diatasi, bagaimana DKI Jakarta dapat mengatasi masalah yang lebih besar lagi seperti banjir, pemukiman kumuh, gelandangan-gembel, kriminalitas, pekerja seks komersial (PSK) dan brutalisme sosial lainnya. Contoh lain, soal sampah saja DKI sampai tarik urat minta Bantar Gebang pada Pemda Bekasi.

Mengatasi kemacetan di ibukota tak ubah menepuk air di dulang. Karena di satu pihak Gubernur Sutiyoso peras otak atasi lalulintas yang macet, tapi di lain pihak industri otomotif terus saja membanjiri hasil produksinya ke jalan-jalan raya. Sungguh pemandangan yang amat kontras. Seakan-akan bos-bos mobil itu tak mau pusing kerepotan Sutiyoso. Mungkin mereka berpikir, kami sudah cukup mahal kok bayar pajak. Soal jalan raya dan kemacetan itu ‘kan urusan Sutiyoso. Biar saja dia beresin sendiri.

Kalau keadaan ini dibiarkan berlarut, sampai kiamat pun masalahnya tak akan beres, malah makin parah. Ibaratnya begini, Sutiyoso capek-capek nyapu bersihin halaman rumah, sementara monyet-monyet terus saja ngelemparin kulit pisang dari atas pohon.

Ide bikin jalur bus way bisa dipandang sebagai salah satu cara membatasi ruang gerak mobil-mobil pribadi. Iya dong, jalan raya ‘kan dibuat bukan hanya untuk mereka. Tapi juga untuk pejalan kaki, pengendara sepeda, sepeda motor dan kalau perlu buat para abang becak. Hanya sayangnya, para abang becak ini sudah kepalang dievakuasi dari seluruh wilayah DKI Jakarta. Mereka disikat dengan alasan jadi penarik becak tidak manusiawi. Selain menjadi sumber kemacetan jalan raya.

Kemacetan arus lalulintas di DKI tidak berdiri sendiri. Ia berhubungan erat dengan arus urbanisasi, mental manusia, penegakan hukum, system pemerintahan, penataan wilayah dan sebagainya. Selama arus urbanisasi tak bisa dikurangi apalagi dicegah, selama itu pula DKI akan selamanya menjadi keranjang sampah. Karena itu siap-siap saja bila terjadi banjir setiap tahunnya di Jakarta, gubernur Sutiyoso akan menjadi sasaran sumpah serapah.

Dari segi mental dan disiplin aparat, kemacetan juga merupakan produk yang direkayasa oleh oknum SDM Pemda DKI. Ingat “empat raja gali” di Jakarta, yaitu PDAM, telpon, PLN dan PU.
Anehnya, kerepotan di DKI tapi pemerintah pusatnya anteng saja. Padahal, pemerintah pusat adanya di Jakarta. Presiden seolah cuek saja dan berkilah, lha wong Sutiyoso penguasa daerahnya, lha selesaikan dong oleh Sutiyoso. Kalau tidak sanggup ya sampeyan mundur terus terang.

Presiden seakan tak mau pusing keruwetan di Jakarta berhubungan langsung dengan otonomi daerah. Dan para kepala daerah juga ikut-ikutan tak mau pusing soal masih maraknya arus urbganisasi warganya ke DKI. Alasan klasik, daerah belum mampu menyediakan lapangan kerja dan sarana hidup yang layak bagi warganya. Malah toh sebagai urban mereka pahlawan yang membawa devisa bagi daerah, kendati di DKI mereka berprofesi sebagai kuli kasar, pembantu rumah tangga, PSK, hingga koruptor kelas kakap sekalipun.

Kembali pada bus way, jika DKI tidak konsekuen membatasi ruang gerak mobil pribadi sekaligus misi keberpihakan pada rakyat kecil para penumpang angkutan umum, yaitu dengan tidak segera memperluas jaringan infrastrukturnya, maka jangan harap jalur bus way itu sebagai solusi. Situasi jalan raya menjadi lebih parah, tentu saja selain kerugian materi yang kepalang amblas. Dan Sutiyoso tinggal mengelus dada, sambil berucap: “My way …”.

Tinggalkan sebuah Komentar »

Belum ada komentar.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: