Atmosfir

November 16, 2016

PRESIDEN DAN KEKUASAAN TERTINGGI ATAS TENTARA NASIONAL INDONESIA (TNI)

Filed under: Uncategorized — arsyad1952 @ 12:12 pm

​– Presiden dan Kekuasaan Tertinggi atas Angkatan Darat (AD), Angkatan Laut (AL) dan Angkatan Udara (AU) —
Presiden Republik Indonesia di dalam UUD 1945 tidak ada disebutkan sebagai Panglima Tertinggi TNI, melainkan memegang kekuasaan yang tertinggi atas AD, AL dan AU. Demikian diktum konstitusi negara Republik Indonesia sebagaimana yang tercantum dalam UUD 1945 ps. 10, baik UUD 1945 hasil amandemen tahun 1999-2002, maupun yang terdapat di dalam UUD 1945 yang asli atau sebelum diamandemen.
Pengertian antara keduanya jelas sangat berbeda. Kedudukan sebagai “Panglima Tertinggi” menunjuk pada hierarki dan jenjang jabatan struktural profesional dalam lembaga kemiliteran yang dalam hal ini menunjuk spesifikasi lembaga tempur. Sedang pengertian “memegang kekuasaan tertinggi atas AD, AL, AU” menunjuk pada adanya pelimpahan kekuasaan (kebijakan) negara kepada Presiden selaku Kepala Pemerintahan dan Kepala Negara. Namun oleh karena kekuatan militer berfungsi sebagai matra pertahanan kedaulatan negara dari gangguan ekskalasi invasi militer negara asing, maka secara otoritas kewenangan TNI berada di bawah kekuasaan Presiden selaku Kepala Negara. Bukan di bawah Presiden selaku Kepala Pemerintahan atau Kepala Lembaga Eksekutif. Peneguhan ketentuan konstitusi ini juga dapat ditemukan di dalam Penjelasan UUD 1945 (yang asli) di mana di dalam penjelasan pasal 10, 11, 12, 13, 14 dan 15 disebutkan “Kekuasaan-kekuasaan Presiden dalam pasal-pasal ini ialah konsekuensi dari kedudukan Presiden sebagai Kepala Negara”.
Walaupun Presiden  selaku Kepala Negara memegang kekuasaan tertinggi atas Angkatan Perang (TNI), namun di dalam pelaksanaannya yang menyangkut mobilisasi kekuatan militer yaitu menyatakan perang terhadap negara lain, atau yang menyangkut kedaulatan negara dalam keadaan bahaya, Presiden terlebih dahulu harus meminta persetujuan DPR (ps. 11 ayat 1 UUD 1945). Begitu juga dalam menetapkan negara dalam keadaan bahaya, baik ancaman bahaya yang berasal dari dalam maupun luar wilayah hukum dan teritorial negara, kekuasaan Presiden dibatasi dan harus tunduk pada undang-undang yang mengatur perihal itu (ps 12 UUD 1945).- 
(sa)

Juli 30, 2016

Antara Negara, Agama dan Moral Politik

Filed under: Uncategorized — arsyad1952 @ 10:29 am

Antara Negara, Agama dan Moral Politik

Sejak awal, hubungan antara agama dan negara dalam pengelolaan negara, senantiasa menjadi pemikiran para cerdik cendekiawan. Pada awalnya para pemuka agama menginginkan negara diatur, dikelola dan dijalankan berdasarkan prinsip-prinsip ajaran agama, baik yang berhubungan langsung maupun tidak langsung mengenai kehidupan negara. Negara yang diatur berdasarkan prinsip-prinsip ajaran agama, lazim disebut sebagai negara agama.

Namun lama kelamaan rakyatnya merasa tidak bebas atau tidak nyaman bila negara “terlalu diatur” oleh agama. Karena pada prakteknya yang dirasakan berlaku adalah “apa kata pendeta” atau “apa kata para ulama”, bukan “apa kata agama”, apalagi “apa kata Tuhan”. Di sini pemuka agama mulai digugat karena cendrung mengatasnamakan atau mencatut agama, padahal di belakangnya bersembunyi kepentingan politik tertentu.

Selain itu, sebagai alasan utama agar negara dipisahkan dari agama, ialah karena agama dirasakan tidak dapat mengikuti perubahan di masyarakat yang terjadi, baik dalam bidang social, ekonomi, politik dan sebagainya. Sebab di dalam pengelolaan Negara sehari-hari, tidak dapat disandarkan semata-mata hanya pada nilai-nilai moralitas seperti yang diajarkan agama. Kata-kata seperti “sok moralis” menjadi sering dilontarkan di dalam dunia kehidupan ini. Sebab pengelolaan negara memang memerlukan siasat-siasat, strategi dan kebijakan di dalam pengambilan keputusan yang pada prakteknya seringkali harus menabrak kaidah-kaidah agama. Apalagi mengingat bahwa negara itu sesungguhnya merupakan suatu organisasi politik (kekuasaan) yang terbentuk karena adanya penduduk, wilayah dan kesamaan kehendak untuk bersatu dalam sebuah organisasi negara guna mencapai tujuan tertentu.

Sebagai organisasi politik, negara sebagai hasil sebuah komitmen, memerlukan adanya penguasa (pemerintah) dan yang dikuasai (yaitu rakyat sebagai sumber daya manusia) dan kekayaan wilayah sebagai sumber daya alam). Sistem seleksi personalia (rekruitmen) hanya ditujukan bagi calon-calon penguasa (pemimpin), tidak bagi rakyat yang diperintah atau dikuasai. Di sini lalu timbul system pemilihan publik (demokrasi), baik yang dilakukan secara langsung maupun tidak langsung. Pemimpin yang terpilih dianggap memiliki legitimasi rakyat untuk menjalankan dan mengelola negara dengan sejumlah hak previlasi dan kewenangannya yang pada hakekatnya ditetapkan berdasarkan hak previlasinya itu sendiri. Maka di sini timbul kesadaran bahwa negara itu adalah (organisasi) politik, dan politik itu adalah cara mendapatkan dan mempertahankan kekuasaan guna menjalankan naluri kekuasaan atau kepemimpinannya.

Untuk mendapatkan dan mempertahankan kekuasaan, diperlukan siasat-siasat, cara dan strategi yang seringkali di dalam prakteknya mengesampingkan norma-norma agama. Kendati cara, siasat dan strategi yang diterapkan di dalam dunia politik praktis strategis seringkali dikecam oleh kalangan agama sebagai “haram”, “dosa”, “perbuatan iblis”, dan sebagainya. Tapi di dalam tradisi dan budaya politik praktis justru dianggap sebagai sesuatu yang lumrah dan “halal” asal disertai adanya moral politik guna mencapai tujuan politik yang baik pula.

Di sini perbedaan persepsi antara dogma agama dan politik, timbul. Agama tegas tidak mengenal kompromi antara halal dan haram. Sedang politik bisa bilang, “Nanti dulu, sebab yang halal belum tentu dapat mengantar pencapaian tujuan kehendak bernegara. Sedang yang haram bisa menjadi halal asal disertai pengelolaan yang baik guna mengantar pencapaian tujuan kehendak bernegara”. Contoh sederhana pernah terjadi, sewaktu Ali Sadikin masih Gubernur DKI Jakarta, pernah bilang begini, “Kalau ulama menganggap jalan yang saya bangun ini haram karena berasal dari pajak judi, silahkan jangan injak jalan ini”.

Kekisruhan ini akan terus berlangsung sepanjang zaman, kendati kaum sekular – yaitu golongan yang secara tegas ingin memisahkan ajaran-ajaran agama dari urusan negara – senantiasa berupaya memagari kekisruhan itu lewat peraturan perundang-undangan dan hukum.

Lantas apakah Indonesia negara agama atau negara sekular?

Indonesia bukan negara agama, bukan juga negara secular. Sila pertama dari dasar falsafah Pancasila, mengindikasikan bahwa Indonesia adalah negara Berke-Tuhan-an Yang Maha Esa. Lebih jelas lagi pasal 29 UUD 1945 menyebutkan Negara berdasar atas Ketuhanan Yang Maha Esa. Ini artinya pengelolaan negara dilakukan secara bersinergi antara ajaran-ajaran agama dengan perkembangan ilmu pengetahuan guna mencapai kesejahteraan social melalui wadah musyawarah. Pancasila sebagai pandangan hidup yang berpasangan dengan semboyan Bhinneka Tunggal Ika menjadi falsafah yang menakjubkan karena mengakui adanya kemajemukan di berbagai bidang kehidupan. Di sini sesungguhnya Pancasila tidak mengenal tirani mayoritas dan tirani minoritas. Perbedaan kuantiti dalam jumlah orang atau pengikut dalam komunitas suku bangsa, ras, agama, kepercayaan dan golongan atau kelompok, dalam pandangan Pancasila hanyalah (bersifat) fisik, sedang Pancasila dengan Bhinneka Tungal Ika-nya adalah roh atau jiwa. Karena itu tidak terdapat perentangan antara agama dan kemajemukan. Keduanya ibarat dua sisi pada satu koin yang sama.

Lalu bagaimana dengan partai politik yang berasaskan nilai-nilai agama atau memakai simbol-simbol agama pada lambang atau logo partainya?

Sebagaimana diketahui, keberadaan parpol adalah dalam rangka menghimpun, menyerap dan menyampaikan aspirasi yang hidup dan berkembang di masyarakat ke lingkup pengelolaan negara agar menjadi pertimbangan bahkan terakomodasi di dalam keputusan dan kebijakan negara yang diambil. Hal ini harus dilakukan dan harus disupport oleh negara, karena sekecil apapun level komunitas penduduk, aspirasi politik mereka tetap harus didengar dan dilindungi. Termasuk aspirasi politik yang hidup dalam lingkungan komunitas agama. Karena itu parpol yang berasaskan agama adalah sah dan mencerminkan kekayaan dari negara yang Berketuhanan Yang Maha Esa, walaupun mungkin dianggap eksklusif dalam tataran aspirasi politik.

Doktor Nurcholish Madjid pernah melontarkan slogan, “Islam Yes, Partai Islam, No”. Slogan ini sempat menimbulkan pro dan kontra di kalangan orang Islam sendiri. Dalam pandangan Cak Nur, keberadaan parpol Islam tidak sesuai dengan khittah negara pluralistic dan ideology Pancasila. Dalam sejarah perpolitikan di Indonesia, dari pemilu ke pemilu, partai Islam memang tidak pernah memenangkan perolehan suara mayoritas, kendati mayoritas penduduk Indonesia beragama Islam.

Sebenarnya di dalam negara yang mengakui adanya pluralisme dan multikulturalisme, partai apapun yang mengakomodir keberadaan suku bangsa, ras, agama, kepercayaan, golongan, budaya dan sebagainya, pada dasarnya adalah tetap relevan dan memiliki nilai signifikan bagi pengembangan demokrasi di Indonesia. Hanya saja yang sulit ke depan dihadapi oleh parpol yang mengusung identitas khusus ini ialah bagaimana partai ini dapat membentengi diri dari terpaan tradisi dan tata gaul politik yang hidup dan berkembang di dunia politik yang dalam takaran nilai lingkungannya berkategori negatif. Jika hal ini tidak bisa diatasi, terutama oleh para petinggi partainya, tentu akan sangat merugikan keagungan budaya atau kesucian moralitas etnis lingkungannya itu. Hal ini barangkali sesuatu yang teramat berat taruhannya. Walaupun memang disadari dengan begitu kehidupan demokrasi yang sehat dan berjatidiri akan terwujud, mengingat partai-partai berciri spesifik tidak semata-mata mengejar “kursi”. Karena itulah sesungguhnya founding fathers menempatkan Majelis Permusyawarata Rakyat atau MPR sebagai rumah besar bangsa, tempat berkumpul dan bermusyawarahnya seluruh rakyat Indonesia, baik yang melalui pemilihan legislative langsung maupun penunjukan langsung seluruh perwakilan daerah, merupakan ide brillian yang sangat cocok dengan ideology Pancasila. (Sanusi Arsyad, Jakarta, 2007)

 

Juni 10, 2016

Filed under: Budaya — arsyad1952 @ 8:27 pm

Mengenang penyair Chairil Anwar

Puisi : A k u
Karya: Chairil Anwar

Kalau sampai waktuku
Ku mau tak seorang ‘kan merayu
Tidak juga kau
Tak perlu sedu sedan itu
Aku ini binatang jalang
Dari kumpulannya terbuang
Biar peluru menembus kulitku
Aku tetap meradang, menerjang
Luka dan bisa kubawa berlari
Berlari
Hingga hilang pedih peri
Dan aku akan lebih tidak perduli
Aku mau hidup seribu tahun lagi
Akhir Hayat

Puisi : Antara Krawang – Bekasi
Karya: Chairil Anwar

Kami yang kini terbaring antara Krawang-Bekasi
tidak bisa teriak “Merdeka” dan angkat senjata lagi.
Tapi siapakah yang tidak lagi mendengar deru kami,
terbayang kami maju dan mendegap hati ?
Kami bicara padamu dalam hening di malam sepi
Jika dada rasa hampa dan jam dinding yang berdetak
Kami mati muda.
Yang tinggal tulang diliputi debu.

Kenang, kenanglah kami.
Kami sudah coba apa yang kami bisa
Tapi kerja belum selesai, belum bisa memperhitungkan arti 4-5 ribu nyawa
Kami cuma tulang-tulang berserakan
Tapi adalah kepunyaanmu
Kaulah lagi yang tentukan nilai tulang-tulang berserakan
Atau jiwa kami melayang untuk kemerdekaan kemenangan dan harapan
atau tidak untuk apa-apa,

Kami tidak tahu, kami tidak lagi bisa berkata
Kaulah sekarang yang berkata
Kami bicara padamu dalam hening di malam sepi
Jika ada rasa hampa dan jam dinding yang berdetak
Kenang, kenanglah kami
Teruskan, teruskan jiwa kami
Menjaga Bung Karno
menjaga Bung Hatta
menjaga Bung Sjahrir

Kami sekarang mayat
Berikan kami arti
Berjagalah terus di garis batas pernyataan dan impian
Kenang, kenanglah kami
yang tinggal tulang-tulang diliputi debu
Beribu kami terbaring antara Krawang-Bekasi

Lahir di Medan
Chairil Anwar, lahir di Medan, Sumatera Utara, 26 Juli 1922 – meninggal di Jakarta, 28 April 1949 (pada umur 27 tahun), dijuluki sebagai “si binatang jalang” (dari karyanya yang berjudul Aku), adalah penyair terkemuka Indonesia. Ia diperkirakan telah menulis 96 karya, termasuk 70 puisi. Bersama Asrul Sani dan Rivai Apin, ia dinobatkan oleh H.B. Jassin sebagai pelopor Angkatan ’45 sekaligus puisi modern Indonesia.

Chairil Anwar merupakan anak satu-satunya dari pasangan Toeloes dan Saleha, keduanya berasal dari kabupaten Lima Puluh Kota,Sumatera Barat. Jabatan terakhir ayahnya adalah sebagai bupati Inderagiri, Riau. Ia masih punya pertalian keluarga dengan Soetan Sjahrir, Perdana Menteri pertama Indonesia.
Sebagai anak tunggal, orang tuanya selalu memanjakannya.

Chairil Anwar mulai mengenyam pendidikan di Hollandsch-Inlandsche School (HIS), sekolah dasar untuk orang-orang pribumi pada masa penjajahan Belanda. Ia kemudian meneruskan pendidikannya di Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (MULO). Saat usianya mencapai 18 tahun, ia tidak lagi bersekolah. Chairil mengatakan bahwa sejak usia 15 tahun, ia telah bertekad menjadi seorang seniman.

Pada usia 19 tahun, setelah perceraian orang tuanya, Chairil bersama ibunya pindah ke Batavia  di mana ia berkenalan dengan dunia sastra; walau telah bercerai, ayahnya tetap menafkahinya dan ibunya. Meskipun tidak dapat menyelesaikan sekolahnya, ia dapat menguasai berbagai bahasa asing seperti Inggris, Belanda, dan Jerman. Ia banyak membaca karya-karya pengarang internasional ternama, seperti: Rainer Maria Rilke, W.H. Auden, Archibald MacLeish, Hendrik Marsman, J. Slaurhoff, dan Edgar du Perron.

Nama Chairil mulai terkenal dalam dunia sastra setelah pemuatan puisinya yang berjudul Nisan pada tahun 1942, saat itu ia baru berusia 20 tahun. Hampir semua puisi-puisi yang ia tulis merujuk pada kematian. Namun saat pertama kali mengirimkan puisi-puisinya di majalah Pandji Pustaka untuk dimuat, banyak yang ditolak karena dianggap terlalu individualistis dan tidak sesuai dengan semangat Kawasan Kemakmuran Bersama Asia Timur Raya.

Ketika menjadi penyiar radio Jepang di Jakarta, Chairil jatuh cinta pada Sri Ayati tetapi hingga akhir hayatnya Chairil tidak memiliki keberanian untuk mengungkapkannya. Puisi-puisinya beredar di atas kertas murah selama masa pendudukan Jepang di Indonesia dan tidak diterbitkan hingga tahun 1945. Kemudian ia memutuskan untuk menikah dengan Hapsah Wiraredja pada 6 Agustus 1946. Mereka dikaruniai seorang putri bernama Evawani Alissa, namun bercerai pada akhir tahun 1948.

Vitalitas puitis Chairil tidak pernah diimbangi kondisi fisiknya. Sebelum menginjak usia 27 tahun, sejumlah penyakit telah menimpanya. Chairil meninggal dalam usia muda di Rumah Sakit CBZ (sekarang Rumah Sakit Dr. Cipto Mangunkusumo), Jakarta pada tanggal 28 April 1949; penyebab kematiannya tidak diketahui pasti, menurut dugaan lebih karena penyakit TBC. Ia dimakamkan sehari kemudian di Taman Pemakaman Umum Karet Bivak, Jakarta. Chairil dirawat di CBZ (RSCM) dari 22-28 April 1949. Menurut catatan rumah sakit, ia dirawat karena tifus. Meskipun demikian, ia sebenarnya sudah lama menderita penyakit paru-paru dan infeksi yang menyebabkan dirinya makin lemah. Chairil meninggal pada pukul setengah tiga sore 28 April 1949, dan dimakamkan keesokan harinya, diangkut dari kamar jenazah RSCM ke Karet oleh banyak pemuda dan orang-orang Republikan terkemuka. Makamnya diziarahi oleh ribuan pengagumnya dari masa ke masa. Hari meninggalnya juga selalu diperingati sebagai Hari Chairil Anwar.

Selama hidupnya, Chairil telah menulis sekitar 94 karya, termasuk 70 puisi; kebanyakan tidak dipublikasikan hingga kematiannya. –

Juni 4, 2016

Filed under: Agama — arsyad1952 @ 12:42 am

DEMI WAKTU

Tak terasa, merangkak tapi pasti, waktu terus bergulir, usia terus bertambah, kesempatan hidup di dunia sementara, di dunia tidak tetap, di dunia hedonisme, makin  berkurang. Ibarat pengontrak rumah petakan, sebentar lagi kena ‘deadline’. Diusir, disuruh pindah oleh sang pemilik. Sono lu, waktu lu udah abis, hardik pemilik rumah kontrakan.
Jika sudah sampai waktuku, kata penyair Chairil Anwar, tentu aku tak lagi bisa merayu. Tidak juga kau. Tidak perlu sendu sedan itu. Perpindahan ke tempat tinggal yang tetap, ke dunia yang permanen, abadi, adalah suatu keniscayaan. Laa ilaahaillaa huwa yuhyi wa yumiit. Artinya, DIA yang menghadirkan dan DIA pula yang mengembalikan.
Bila sudah harus pindah, tentu harus ada yang harus kita boyong. Bukan ngeboyong emas permata, intan berlian, mobil mewah, duit berkarung-karung, isteri-isteri yang cantik jelita, dan sebagainya. Tidak. Karena semua itu berwujud dan bersifat kebendaan. Tapi yang diboyong adalah amal ibadah, perbuatan bajik, nilai ketaqwaan. Kita harus ngeboyong ini. Jangan sampai kita malah ngeboyong dosa. Juga jangan sampai diikutin dosa akibat perbuatan maksiat, mesum, durjana yang kita lakukan selama kita hidup di dunia materi, dunia sementara, dunia transit, dunia ecek2, dunia abal2.
Mari…., selama masa kontrak rumah belum habis, kita kumpulkan banyak-banyak, sebanyak mungkin, amal baik, amal ibadah, perbuatan mulia di sisi Allah swt, sebagai bekal bawaan, sebagai boyongan yang akan kita boyong pada saat kita pindah rumah, ke tempat tinggal yang abadi, rumah di surga.
Selamat menjalankan ibadah puasa Romadhon. Kiranya Allah swt senantiasa memberikan kekuatan, kesabaran, hidayah dan taufikNya bagi kita selama berpuasa. Amin ya robbal alamiin. ( sa )

April 12, 2016

MENDESAK, AMANDEMEN KEMBALI TERHADAP UUD 1945 PERUBAHAN HASIL AMANDEMEN 1999-2002

Filed under: Hukum,Uncategorized — arsyad1952 @ 12:13 am

MENDESAK, AMANDEMEN KEMBALI TERHADAP UUD 1945 PERUBAHAN HASIL AMANDEMEN 1999-2002

 

Akhir-akhir ini muncul desakan agar undang-undang dasar yang ada sekarang ini diamandemen kembali.

Mengapa UUD 1945 Perubahan (hasil amandemen 1999-2002) harus diamandemen kembali?

Karena, menurut saya, UUD 1945 Perubahan ditinjau dari segi dasar falsafah Pancasila memiliki cacat hukum dasar dan ideology.

Ini alasannya :

  1. UUD 1945-P menghapus kedudukan MPR RI sebagai pengejawantahan kedaulatan di tangan rakyat dan penjelmaan seluruh rakyat Indonesia.
  2. Dengan menurunkan MPR dari lembaga tertinggi Negara menjadi lembaga tinggi Negara biasa, UUD 1945-P telah melecehkan NKRI dan berupaya menyeret Negara Indonesia pada perpecahan, separatism dan kegaduhan kehidupan kebangsaan terus menerus.
  3. Kedaulatan rakyat tidak lagi berada di tangan rakyat, tapi sudah dikaburkan makna dan perwujudannya pada kedaulatan di tangan kekuasaan (lihat Ps 1 ayat 2 UUD 1945-P)
  4. Sistem perwakilan di lembaga legislative di bawah UUD 1945-P menganut system liberal murni eksklusif yaitu dilakukan melalui system pemilihan umum legislative yang menghasilkan DPR dan DPD (sekaligus mengisi keanggotaan MPR), sehingga sebagian besar komponen rakyat Indonesia yang terhimpun dalam spesifik daerah kebangsaan dan berbagai golongan yang hidup dan dirasakan keberadaannya dalam kehidupan kebangsaan (seperti golongan tani, golongan nelayan, buruh, guru/PGRI, wartawan/PWI/AJI, TNI/Polri, kaum seniman, kaum professional dan pengusaha, teknokrat, disabilitas, dan sebagainya), tidak tertampung dalam system perwakilan dan lembaga perwakilan nasional. Jadilah system perwakilan dan keberadaan lembaga perwakilan (legislative) nasional sekarang ini menjadi sangat eksklusif dan liberal. Dari segi ini, UUD 1945-P sudah cacat hukum dasar dan ideology karena bertentangan dengan falsafah Negara Pancasila yang menganut asas inklusif dan gotongroyong, yaitu sila Persatuan Indonesia dan sila kerakyatan yang dipimpin oleh hikmah kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan. Dan dari segi ini pula, UUD 1945-P sebenarnya sudah batal demi hukum dasar karena mengandung cacat ideology.
  5. Keberadaan DPD (Dewan Perwakilan Daerah) yang merupakan dan berasal dari kepesertaan pemilihan perorangan (liberal), dari segi profesionalitas dan identitas nasional kebangsaan tidak jelas, karena tidak memiliki cantolan tanggung jawab elektabilitas kelembagaan, baik dari segi hukum maupun politik. DPD bertanggungjawab kepada siapa? Dikhawatirkan, di dalam sidang MPR, mereka (DPD) akan menjelma menjadi fraksi dengan kekuatan politik tersendiri, dan dengan kekuatan 136 suara (dari jumlah 34 provinsi pemilihan dikalikan 4 utusan) mereka malah akan menjadi “batu sandungan” baik bagi anggota MPR lainnya yang berasal dari DPR yang terbagi-bagi dalam berbagai partai politik maupun dalam rangka pengambilan keputusan yang berpihak pada kepentingan nasional.
  6. UUD 1945-P menganut system ketatanegaraan yang tidak jelas. Sebagai contoh, MA dan MK adalah sama-sama lembaga tinggi Negara sebagai lembaga pelaksana kekuasaan kehakiman. Namun keduanya memiliki kewenangan yang tidak sama. MK berwenang menguji materiel UU atas UUD. Sedang MA hanya berwenang menguji materiel peraturan di bawah UU atas UU. Jadi seakan-akan ada lembaga tinggi Negara kelas satu dan kelas dua. Sebelum MK lahir, MA tidak boleh menguji materiel UU atas UUD dengan alasan logis dari segi kedudukan kelembagaan tidak berhak dan berwenang mempermasalahkan produk hukum yang dihasilkan lembaga tinggi Negara selevel. Mestinya, UU harus diuji oleh MPR sebagai lembaga tertinggi Negara. Jikapun MK dihadirkan, dia harus berada di dalam lingkungan lembaga tertinggi Negara.

Jadi, MK apa pangkatnya menguji UU atas UUD ??

(Sanusi Arsyad, facebook)

 

April 11, 2016

Balada Negeri Amarta

Filed under: Budaya,Uncategorized — arsyad1952 @ 11:58 pm
Balada Negeri Amarta
Ini cerita fiksi dari dunia pewayangan dengan lakon : “Kerajaaan OKKAI (Otoritas Kesatuan Kerajaan Amarta Indah) Terancam Negara Gagal”.
Alkisah, Kerajaan Amarta yang dikuasai oleh Pandawa Lima, gempar. Raja Amarta yang bernama Yudistira, menghilang begitu saja tak tentu rimbanya. Ia hilang bagai ditelan bumi. Adik-adik Yudistira, yang juga para petinggi kerajaan, Bima, Arjuna, Nakula dan Sadewa risau dan gundah campur heran mengapa raja meninggalkan tahta kraton tanpa titip pesan dan berita lebih dulu. Mereka tak dapat membayangkan bagaimana keadaan kerajaan tanpa kehadiran raja. Dalam pikiran mereka masing-masing timbul kegalauan, siapa yang akan mengendalikan jalannya pemerintahan, sementara Bima, Arjuna, Nakula dan Sadewa sama sekali tak memiliki pemahaman, pengalaman dan pengetahuan dalam hal mengendalikan jalannya kekuasaan di wilayah yang terdiri belasan ribu pulau besar dan kecil.

Menteri-menteri, para hulubalang, hakim dan pegawai kerajaan lainnya juga tidak tahu apa yang harus dikerjakan, karena tidak ada perintah dari raja. Hendak mengambil inisiatif sendiri, tidak berani, lantaran takut salah. Maklum mereka biasa menerima “order matang” dari raja dalam menjalankan tugas sehari-hari. Prabu Yudistira selama ini memang dikenal layaknya “Ratu Adil”, hampir tidak pernah keliru dalam mengambil keputusan. Raja juga sangat pandai menjaga temperamen emosinya. Jika raja senang dan berkenan pada laporan menterinya, raja cukup manggut-manggut kepala. Sebaliknya jika raja tidak senang, ia cukup diam saja tanpa bilang “bak” atau “buk”. Tapi jika marah, ia mendehem berulangkali seolah tenggorokannya tersumbat.

Anehnya lagi, penasehat spiritual kerajaan paling jempolan, bernama Gus Semar, juga turut menghilang. Rumahnya didapati dalam keadaan kosong melompong. Kabar selentingan menyebut Gus Semar tengah berobat ke negeri Yei Louw (= kuning) akibat tidak bisa kenthut.

Kevakuman kekuasaan di Amarta semakin parah menyusul menghilangnya pula empat bersaudara Pandawa lainnya yang masing-masing mengambil jalan sendiri-sendiri guna mencari di mana sang raja berada. Arjuna bertapa di hutan alas roban guna mendapatkan bisikan dari Dewata apa sesungguhnya yang terjadi pada diri sang raja. Bima menyelami dasar samudera menemui Dewa Ruci minta petunjuk di mana sang kakak berada. Sedang Nakula dan Sadewa saling berbagi tugas sebagai telik sandi (intel) menyatroni negeri-negeri tetangga, terutama yang bermusuhan, guna menyelidiki jangan-jangan Yudistira jadi korban penculikan. Namun sampai sekian lama, usaha mereka belum membuahkan hasil.

Dalam waktu bersamaan singgasana Kerajaan Langit yang didiami para Dewa dan Dewi, goncang. Hawa panas melanda para penghuninya. Makin lama derajat hawa panasnya makin tinggi. Dan ini membuat seisi penghuni Kerajaan Langit blingsatan. Lalu diutuslah Narada, seorang dewa kepala kurir yang biasa bernegosiasi dengan manusia, guna mencari tahu penyebab hawa panas yang melanda kahyangan.

Yang pertama dikunjungi Narada adalah Yudistira. Seorang raja yang di mata Narada, memiliki naluri waspodo. Namun sesampai di Amarta, Narada harus kecewa karena Yudistira tidak dijumpai. Rasa herannya berubah menjadi curiga manakala tak satu pun dari Pandawa yang dijumpainya. Kraton Amarta bagaikan kraton hantu. Kepada setiap wong cilik yang ditanyai Narada, jawabannya hanya gelengan kepala. Mereka membisu. Pikiran Narada cepat mengambil asumsi, berarti Amarta sedang dalam keadaan chaos. Untuk itu Narada ingin menyelidik lebih jauh adakah peristiwa anarchis yang berkembang di dalam masyarakat menyusul terjadinya kondisi chaos.

Surprise bagi Narada, yang dijumpai bukanlah peristiwa demi peristiwa anarchis, malahan sebaliknya rakyat Amarta tengah mempersiapkan pesta demokrasi yang namanya pemilu guna memilih pemimpinnya untuk didudukkan di kursi kraton, menggantikan Yudistira yang mulai dicurigai tidak bertanggungjawab.

Narada terkesima. Tapi satu yang membuat ia tidak cepat beranjak dari kerumunan massa ialah perdebatan di kalangan akar rumput tentang boleh tidaknya seorang yang fisiknya cacat menjadi Cabagrut (Calon Baginda Ratu). Yang kontra berargumentasi, seorang raja harus sempurna rohani dan raganya. Sedang yang pro bersikukuh kesempurnaan rohani tidak mengenal cacat dan tidak cacatnya jasmani. Hingga Narada meninggalkan tempat arena, perdebatan masalah itu masih terus berlangsung.

Segala apa yang dilihat dan disaksikan dengan mata kepala sendiri, oleh Narada dilaporkan apa adanya kepada bossnya, Dewa Guru. Termasuk yang akan dilakukan oleh rakyat Amarta untuk menggelar Pilbagrut.

Narada  berbalik kaget ketika Dewa Guru menginformasikan berita terakhir bahwa perdebatan tentang boleh tidaknya seorang cacat menjadi calon raja telah berkembang menjadi kerusuhan tindak anarkis di kalangan masing-masing pendukungnya. Negeri Amarta yang semula berbentuk OKKAI (Otoritas Kesatuan Kerajaan Amarta Indah) terancam mengalami disintegrasi sehingga terancam bubar. Narada mengelus dada sambil mengeluarkan sumpah serapah, “Inilah konsekuensi demokrasi yang kalian jadikan sebagai sebuah pesta maksiat”.

Teka-teki nasib negeri Amarta yang terkenal gemah ripa loh jinawi, hilangnya Yudistira dan penyebab goncangnya Kerajaan Langit terus diliputi misteri. Konon berdasarkan wangsit yang diterima Dewa Guru, tabir akan terkuak seiring terbitnya fajar menggantikan jatuhnya purnama di atas gunung Sumbing tanggal pithulas, atau bertepatan 5 Juli 2004, bertepatan 45 tahun Dekrit Adipati Karno kembalinya konstitusi di Kadipaten Awangga, sebuah negara bagian di Amarta.- (Sanusi Arsyad)

(Dari arsip: Sanusi Arsyad, Jakarta, medio Mei 2004)

 

Desember 3, 2015

BERSUJUD

Filed under: Agama — arsyad1952 @ 10:02 pm

BERSUJUD

 

Malaikat bersujud pada Tuhan,

Seluruh makhluk alam semesta bersujud pada Tuhan,

Iblis bersujud pada Tuhan,

Tapi Iblis dikutuk Tuhan karena menolak perintah Tuhan,

Apa perintah Tuhan?

Tuhan memerintahkan malaikat dan Iblis agar bersujud pada manusia (Adam),

Malaikat bersujud pada manusia,

Tapi Iblis menolak,

Aku tak sudi bersujud pada manusia, kata iblis

 

Tuhan bertanya pada Iblis,

Kenapa kau tidak melaksanakan perintah-Ku ?

Iblis berkata, saya hanya bersujud pada Engkau ya Tuhan,

karena Engkau yang menciptakanku,

Tapi saya tak mau bersujud pada manusia,

Qoo la ana khoirunm minhu kholaqtaniy minnaa-riw wa kholaqtahuu minthiyn,

Karena saya lebih mulia dari manusia

Saya Kau ciptakan dari api,

Sedang manusia Kau ciptakan dari tanah,

Api lebih mulia daripada tanah,

 

Tuhan berfirman, enyahlah engkau dari surga

Tempatmu adalah neraka,

Tapi iblis memohon pada Tuhan,

“Qoo la robbi fa anzhirnii ilaa yaumi yub ‘a-tsuun”,

Ya Tuhanku, beri tangguhlah aku (masuk neraka) sampai hari mereka (manusia) dibangkitkan,

Qoo la fabi izzatika la ughwi yannakum ajmaiyn,

Demi kekuasaan Engkau, aku akan menyesatkan mereka semuanya,

Hanya saja iblis mengakui,

illa ‘ibaadaka minhumul mukhlashiin,

Aku tak berdaya menghadapi hamba-hamba-Mu yang mukhlis di antara mereka,

 

Jika Iblis bersujud pada Tuhan, bagaimana dengan manusia yang tak mau

bersujud pada Tuhan?

Apalagi bila ada manusia yang bersekutu dan menghamba pada setan

Maka manusia itu tentu akan sangat dikutuk Tuhan,

Melebihi kutukan Tuhan terhadap setan

Karena ada firman Tuhan dalam Al Qur’an,

Tiada kuciptakan jin dan manusia kecuali hanya untuk menyembah-Ku. –

November 13, 2015

Maha adil dan bijaksana Allah dengan segala hukum serta ketetapanNya

Filed under: Agama — arsyad1952 @ 11:02 pm

Maha adil dan bijaksana Allah dengan segala hukum serta ketetapanNya

 

Al Qur’an Surat Al Qoshosh ayat 84 :

Bismillaahirrohmaanirrohiim,

“Man jaaa ‘abil hasanati falahuu khoyrunminha; wamanjaaa ‘abissayyi ’ati falaa yuj zalladziina ‘amilus sayyiaati illa maakaanuu ya’ maluun”.

(“Barangsiapa yang datang dengan (membawa) kebaikan, maka baginya (pahala) yang lebih baik daripada kebaikannya itu; dan barangsiapa yang datang dengan (membawa) kejahatan, maka tidaklah diberi pembalasan kepada orang-orang yang telah mengerjakan kejahatan itu, melainkan (seimbang) dengan apa yang dahulu mereka kerjakan”).

 

Telaah / kajian :

 

Ayat ini menetapkan, setiap orang atau siapa saja yang datang dengan membawa kebaikan (misalnya: mendatangi anak yatim untuk diberikan santunan atau shodaqoh; atau mengunjungi orang sakit sambil membawa makanan yang disukainya), maka nilai pahala yang diberikan Allah atas kedatangannya itu adalah lebih besar daripada nilai pahala atas perbuatan baiknya itu sendiri.

Jadi di sini ada dua pahala yang diberikan Allah, yaitu :

  • Pahala atas kedatangannya,
  • Pahala atas kabar atau perbuatan baik yang dibawanya.

Nilai pahala (a) lebih besar nilainya daripada nilai pahala (b). Jadi, dengan niat baiknya saja yang kemudian ditindaklanjuti dengan usaha untuk mewujudkan perbuatan baiknya, ia sudah mendapatkan pahala yang lebih besar dari nilai pahala perbuatan baiknya. Dengan demikian ia mendapatkan pahala lebih dari dua kali lipat atas niat yang diaplikasikannya dan perbuatan baik yang ditunaikannya.

 

Tapi jika ia datang dengan membawa kejahatan, maka Allah tidak memberikan pembalasan siksa atau dosa atas kedatangannya kepada orang tersebut, hingga ia melakukan perbuatan jahatnya barulah Allah memberikan pembalasan siksa atau dosa sesuai dengan kadar kejahatannya itu sendiri.

Tapi bila perbuatan jahatnya itu tidak jadi dilakukan, atau perbuatan jahatnya itu diurungkan, sehingga perbuatan jahatnya hanya sebatas niat pada waktu ia mau berangkat, maka tak ada pembalasan siksa atau dosa dari Allah atas orang tersebut, baik atas unsur niat dan kedatangannya maupun terhadap unsur perbuatan jahatnya yang tidak terjadi itu.

 

Maha adil dan bijaksana Allah dengan segala hukum serta ketetapanNya. (sa)

 

Tiang yang Kokoh atas Segala Perbuatan Baik

Filed under: Agama — arsyad1952 @ 11:00 pm

Tiang yang Kokoh atas Segala Perbuatan Baik

 

QS Aali Imroon (Keluarga Imron) ayat 92,

“Lan tanaalul birro hattaa tunfiquu mimmaa tuhibbuun; wamaa tunfiquu min-syay ‘iin fainnallaaha bihii ‘aliim”.

 

(“Kamu sekali-kali tidak sampai pada kebajikan (yang sebaik-baiknya), sebelum kamu menafkahkan sebagian harta yang kamu cinyai. Dan apa saja yang kamu nafkahkan, maka sesungguhnya Allah mengetahuinya”).

 

Telaah :

Ayat ini mengingatkan wanti-wanti pada manusia (dari kata “sekali-kali”), bahwa perbuatan baik apapun yang dilakukan manusia, pada hakekatnya tidak akan mengantarkan manusia pada derajat kebajikan atau amal shaleh yang sempurna atau sebaik-baiknya, sebelum atau hingga manusia menafkahkan sebagian harta yang dimiliki dan dicintainya.

Sebagaimana diketahui, sudah menjadi sifat manusia, bahwa manusia sangat mencintai harta kekayaan.

Menafkahkan di sini ialah mensedekahkan (shodaqoh) dalam bentuk harta yang diperoleh secara halal (bukan yang diperoleh melalui jalan haram, misalnya korupsi, dsbnya) kepada mereka yang membutuhkan bantuan seperti fakir miskin, yatim piatu, orangtua yang lemah, yang tertimpah bencana, musibah, dsbnya. Dengan demikian pengertian “menafkahkan sebagian harta yang kamu cintai” merupakan sokoguru atau tiang yang kokoh atas semua perbuatan baik yang dilakukan.

Dan Allah mengetahui setiap bagian harta yang kamu keluarkan.

 

 

Berlindung kepada ALLAH dari Gangguan dan Kejahatan Syaitan

Filed under: Agama — arsyad1952 @ 10:55 pm

Berlindung kepada ALLAH dari Gangguan dan Kejahatan Syaitan

 

Iblis dengan sifat syaitannya, memandang manusia dengan penuh rasa benci, iri, dengki, sombong, dendam kesumat dan nafsu amarah.

 

Pokok pangkalnya bermula ketika Allah swt memerintahkan malaikat dan iblis agar bersujud pada Adam (manusia). Malaikat bersujud, tapi iblis menolak, karena iblis merasa lebih tinggi derajatnya daripada manusia. Hal ini tercantum dalam Al Qur’an surat Shood (38)  ayat 76 :

“Qoo la ana khoirunm minhu kholaqtaniy minnaa-riw wa kholaqtahuu minthiyn”,

(“Iblis berkata: “Aku lebih baik daripadanya, karena Engkau ciptakan aku dari api, sedangkan dia Engkau ciptakan dari tanah”).

 

Karena penolakannya terhadap perintah Allah, lalu Allah mengusir iblis dari surga dan memastikan iblis menjadi penghuni neraka. Namun iblis meminta pada Allah agar diberikan tangguh,

“Qoo la robbi fa anzhirnii ilaa yaumi yub ‘atsuun”,

(Iblis berkata: “Ya Tuhanku, beri tangguhlah aku (masuk neraka) sampai hari mereka (manusia) dibangkitkan”).

Dan iblis berkata lagi, “Qoo la fabi izzatika la ughwi yannakum ajmaiyn”, (“Demi kekuasaan Engkau aku akan menyesatkan mereka semuanya”) – QS Shood ayat 79 dan 82.

 

Dari ayat ini, iblis mengakui ia diciptakan oleh Allah, namun karena kesombongannya tak berdaya dengan ketetapan Allah ia akan menjadi penghuni neraka. Namun iblis bersumpah kepada Allah akan menyesatkan manusia dari perintah Allah pula (sebagaimana iblis) sehingga semua manusia menjadi penghuni neraka bersamanya. Hanya saja iblis mengakui, “illa ‘ibaadaka minhumul mukhlashiin” (kecuali hamba-hamba-Mu yang mukhlis di antara mereka) – (QS Shood ayat 83)

 

Dan sumpah iblis untuk menyesatkan manusia bukan main-main dan sungguh luarbiasa. Pelbagai cara upaya dilakukan iblis agar manusia mengingkari serta menentang perintah dan larangan Allah. Prinsip iblis, manusia harus disesatkan sesesat-sesatnya. Tujuannya hanya satu, menjadi teman iblis sebagai penghuni neraka.

“…..innamaa yad ‘uw hizbahuu liyakuu-nuw min ash-haa bissaiir”. (“….sesungguhnya syaitan-syaitan itu hanya mengajak golongannya supaya mereka menjadi penghuni neraka (dengan api) yang menyala-nyala”). – QS Al Faathir ayat 6.

Tapi Allah tidak tinggal diam. Dia tidak mau manusia menjadi bulan-bulanan kebencian dendam kesumat dan amarah durjana iblis. Allah memberikan bimbingan pada manusia melalui firman-Nya,

“Wa immaa yanzaghonnaka minasy-syaithooni nazghun fasta ‘idz billaahi, innahuu huwassamii ‘ul ‘aliim”.

(“Dan jika syaitan mengganggumu dengan suatu gangguan, maka mohonlah perlindungan kepada Allah. Sesungguhnya, Dia-lah yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui”} – QS Fussilat (41) ayat 36.

 

Siapakah syaitan itu? Syaitan itu adalah iblis dengan segala sifat syaitannya yang secara halus dapat merasuk ke dalam golongan jin dan manusia, serta melakukan dosa-dosa kejahatan.

Qur’an surat An Naas menerangkan hal ini,

“Qul a ‘uudzu birobbinnaasi ; malikinnaasi ; ilaa hinnaasi ; minsyarril waswaasil khonnaasi ; alladzii yuwaswisu fii shuduu rinnaasi ; minal jin nati wannaasi”.

(“Katakanlah: “Aku berlindung kepada Robb (yang memelihara dan menguasai) manusia; Raja manusia ; sembahan sujud manusia ; dari kejahatan (bisikan) syaitan yang biasa bersembunyi ; yang membisikkan (kejahatan) ke dalam dada manusia ; dari (golongan) jin dan manusia”).

 

Lalu bagaimana cara memohon perlindungan dan pertolongan Allah dari gangguan dan kejahatan syaitan? Caranya ialah memohon langsung dengan cara berdoa sehabis sholat wajib maupun sunnah, membaca dan mengkaji Al Qur’an, serta tentu saja menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi larangan-larangan-Nya.

 

“Haa dzaa bashoo ‘iru linnaasi wahuda(n)w warohmatu(n)l liqoumiy yuu qinuun”.

(“Al Qur’an ini adalah pedoman bagi manusia, petunjuk dan rahmat bagi kaum yang meyakini”) – QS Al Jaa-tsiyah (45) ayat 20.

 

“Wama(n)y yuslim wajhahuuu ilallaahi wahuwa muhsinun faqodis tamsaka bil ‘urwatil wuts-qoo ; wa ilallaahii ‘aaqibatul umuur”.

(“Dan barangsiapa yang menyerahkan dirinya kepada Allah, sedang dia orang yang berbuat kebaikan, maka sesungguhnya ia telah berpegang pada buhul tali yang kokoh. Dan hanya kepada Allah-lah kesudahan segala urusan”). – QS Luqmaan (31) ayat 22.

 

Mari kita berlindung hanya kepada Allah dari gangguan syaitan dengan segala bentuk kejahatan dan 1001 modus operandinya.-

Laman Berikutnya »

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.